2026年9月10日

Kalung Penerjemah “Bahasa Anjing” Jadi Viral: Harga Sekitar RMB 4.000, Raup Pendanaan RMB 50 Juta

Sebuah kalung yang diklaim mampu “memahami bahasa anjing” baru saja mengantongi pendanaan sebesar RM...

Sebuah kalung yang diklaim mampu “memahami bahasa anjing” baru saja mengantongi pendanaan sebesar RMB 50 juta.

Pada Januari tahun ini, Traini mengumumkan rampungnya putaran pendanaan terbaru senilai lebih dari USD 7,5 juta (sekitar RMB 52,22 juta). Perusahaan yang menyebut dirinya sebagai “pet emotional intelligence company” ini berdiri pada 2022. Sejak tahap awal, Traini sudah mengantongi pendanaan seed bernilai jutaan yuan, dan dengan cepat muncul sebagai bintang baru di sektor “AI + hewan peliharaan” yang tengah melesat.

Setelah memperoleh dana segar, Traini bersiap meluncurkan kalung pintar berbasis AI untuk menafsirkan “bahasa” anjing dan mewujudkan komunikasi dua arah antara manusia dan hewan peliharaan. Menurut pihak merek, perangkat ini dibekali sistem multimodal pemahaman emosi Traini yang dikembangkan sendiri, PEBI (Pet Emotion and Behavior), yang ditujukan untuk meningkatkan akurasi pengenalan “dog language”.

Bahkan sebelum kalung tersebut resmi dijual, Traini App sudah lebih dulu populer di kalangan pemilik hewan berkat fitur penerjemah bahasa anjing. Pengguna cukup mengunggah rekaman gonggongan, foto, dan video untuk mengetahui hingga 12 emosi anjing—mulai dari bahagia, takut, hingga bingung. Aplikasi ini juga memungkinkan pemilik mengonversi 18 kalimat pendek seperti “lihat sini” dan “fokus” menjadi suara gonggongan.

Berdasarkan informasi publik, Traini didirikan di Silicon Valley, Amerika Serikat. Pendiri Traini, Sun Linjia (Arvin), lahir di Jilin, Tiongkok, dan memiliki pengalaman kerja lintas Tiongkok–AS, dengan rekam jejak wirausaha di berbagai sektor seperti ritel, logistik, dan layanan pesan-antar makanan.

Di tengah gelombang “pet economy” yang sedang naik daun, Traini memanfaatkan dua tren besar sekaligus: ledakan AI dan kebutuhan nyata pemilik hewan untuk berkomunikasi lebih baik dengan “anak berbulu” mereka. Kalung berharga USD 700 dapat dipandang sebagai uji coba awal industri hewan peliharaan terhadap kategori perangkat keras AI—menegaskan bahwa AI bukan hanya soal produktivitas, tetapi juga bisa membuka dimensi baru dalam interaksi manusia dan hewan.

Anak Muda dari Timur Laut yang Menantang Silicon Valley

Di profil pribadi Arvin, perjalanan kariernya dirangkum singkat: lahir di Jilin, menempuh pendidikan di Hubei, pernah bekerja di Beijing, Tianjin, dan Los Angeles, dan kini menetap di Palo Alto, California.

Saat masih berkarya di Tiongkok, Arvin dikenal sebagai serial entrepreneur yang aktif. Sejak 2012, ia berturut-turut mendirikan merek camilan “Linjia Shop”, merek kopi online “Monchichi Coffee”, platform digital untuk salon kecantikan EM BEAUTY, serta platform manajemen logistik “Chuangkexing”.

Pada 2018, Arvin pindah ke Amerika Serikat dan terjun ke bisnis pesan-antar makanan Tiongkok. Ia pernah menjabat sebagai CEO platform delivery Gesoo, serta Senior General Manager di Chowbus—penyedia layanan manajemen restoran dan delivery. Bisnis delivery Chowbus diakuisisi pada 2024 oleh raksasa delivery Amerika Utara, Fantuan; jika dianalogikan di Tiongkok, kurang lebih seperti “Meituan mengakuisisi Ele.me”.

Namun akuisisi tersebut sudah tidak terkait langsung dengan Arvin. Setelah memilih mundur, ia mendirikan Traini pada 2022.

Menurut Arvin, ketika mengelola platform delivery, ia mulai merambah layanan pengantaran pakan anjing. Dari sebuah survei terkait dog food, ia menemukan fakta menarik: lebih dari 70% pemilik hewan ingin memahami perilaku anjing mereka, dan banyak yang bahkan rela mengeluarkan biaya besar untuk mendaftarkan anjing ke kelas koreksi perilaku.

Semakin dalam ia menggali, semakin banyak kisah emosional manusia dan hewan yang ia temui. Ada pengguna yang menulis bahwa pada saat-saat terakhir anjing peliharaan yang mengidap kanker, ia sangat ingin memahami “kata-kata terakhir” sang anjing. Ada pula yang mengatakan anjing peliharaan adalah teman setia selama bertahun-tahun, dan ia berharap bisa benar-benar “selaras hati” dengannya.

Di pasar dengan daya beli tinggi seperti Amerika Serikat, kepedulian terhadap hewan peliharaan berarti peluang bisnis yang besar. Arvin juga mengenang masa kecilnya di kampung halaman dekat Pegunungan Changbai, Jilin, di mana ia pernah memelihara anjing. Antusiasme para pemilik hewan akhirnya membangkitkan kembali impian masa kecilnya: komunikasi yang lebih nyata antara manusia dan anjing.

“Perangkat AI” untuk Mengobrol dengan Hewan Peliharaan

Bagi model AI berskala besar, menerjemahkan berbagai bahasa manusia bukanlah hal sulit. Tetapi menerjemahkan “bahasa anjing” jelas merupakan wilayah baru yang nyaris belum pernah dijelajahi.

Setelah dua tahun pengembangan, tim Arvin meluncurkan produk inti Traini: sistem analisis bernama PEBI (Pet Empathic Behavior Interface). Sistem ini diklaim mampu memahami kondisi psikologis hewan dengan menganalisis suara, ekspresi, dan perilaku—lalu mengubahnya menjadi keluaran dalam bahasa manusia.

Untuk membangun sistem tersebut, Traini menyatakan telah mengumpulkan suara gonggongan dan gambar dari lebih dari 100 ribu anjing di berbagai negara, membentuk basis data emosi hewan. Dari sana, AI “dilatih” mengenali pola: suara mana yang menandakan lelah, mana yang berarti antusias, dan mana yang menunjukkan kemarahan, serta berbagai sinyal lain.

Dengan pendekatan ini, teknologi menjadi jembatan komunikasi. Pemilik dapat “memahami” makna gonggongan, dan sebaliknya menerjemahkan niat mereka menjadi suara gonggongan untuk diputar kepada hewan peliharaan.

Sejak kemunculannya, Traini langsung menjadi hit ganda—baik di kalangan investor maupun konsumen. Pada tahun pendirian, Traini memperoleh pendanaan seed bernilai jutaan yuan. Pada 2024, Traini kembali mengantongi pendanaan angel senilai USD 1,5 juta (sekitar RMB 10,43 juta), dengan investor termasuk Tianji Capital, mantan Engineering Director Meta Liang Yingyi, serta co-founder Xiaomi Hong Feng.

Di komunitas pemilik hewan, Traini App sendiri sudah “punya panggung”. Di platform seperti YouTube dan TikTok, video pengguna yang memberi instruksi kepada anjing melalui aplikasi ini cepat menyebar luas. Traini menyatakan aplikasinya telah menjangkau lebih dari 2 juta anjing peliharaan dan bekerja sama dengan hampir 40 ribu toko hewan peliharaan di Amerika Serikat.

Pendanaan terbaru sebesar RMB 50 juta mendorong Traini melangkah lebih jauh: dari software menuju hardware.

Traini menyebut kalung AI yang akan dirilis mampu mengenali serta melacak emosi anjing secara mandiri, lalu menerjemahkannya ke bahasa manusia secara sinkron—seolah “penerjemahan langsung”. Dalam situasi menenangkan, memberi hadiah, hingga komunikasi harian, pemilik diharapkan bisa berinteraksi dengan lebih efektif.

Di situs resminya, harga early-bird kalung ini tercantum USD 599 (sekitar RMB 4.167). Setelah 1.000 unit pertama terjual, harga kembali ke harga normal USD 700 (sekitar RMB 4.869).

Terobosan Nyata atau Sekadar “Gimmick”?

Dengan harga yang tidak murah, “AI gadget” untuk percakapan manusia–hewan ini memicu pro-kontra. Dari video promosi merek, terlihat cukup banyak anjing merespons dengan tepat instruksi seperti “naik ke kasur” atau “beri aku pelukan”. Namun, sebagian pengguna menilai ada indikasi “gimmick” atau kurang akurat—misalnya ketika ada white noise, atau saat anjing diam, aplikasi masih bisa menghasilkan pesan “bahasa anjing” secara acak yang tidak sesuai konteks. Dalam praktiknya, sebagian instruksi juga disebut tidak selalu berhasil.

“Saya mencoba menyuruh anjing saya mengambil remote, tapi dia hanya duduk,” tulis seorang pengguna Traini dari Amerika Serikat dalam ulasan App Store.

Dengan dukungan model AI, prospek “percakapan manusia–hewan” memang terasa menjanjikan. Namun Traini menghadapi tantangan besar: gonggongan anjing sangat kompleks dan beragam. “Bahasa” antar-ras pun tidak sepenuhnya sama, dan suara dapat berbeda jauh tergantung ras, usia, karakter individu, dan situasi. Keragaman ini membuat sistem penerjemahan universal sulit diwujudkan, sehingga efektivitas Traini saat ini masih berada pada tahap pembuktian.

Membuka Imajinasi “AI + Hewan Peliharaan”

Popularitas Traini mudah dipahami. Di era ketika hubungan manusia dan hewan makin erat, Traini menawarkan AI sebagai penghubung yang dapat “meng-upgrade” relasi emosional—sekaligus menghadirkan fondasi baru yang bisa diintervensi oleh teknologi dan diperbesar skalanya oleh modal.

Di pasar matang seperti Eropa dan Amerika Serikat, ruang pertumbuhannya bahkan lebih luas. Saat ini, pasar hewan peliharaan global bernilai lebih dari USD 260 miliar, dengan Amerika dan Eropa menyumbang sekitar USD 160 miliar dan tumbuh sekitar 18% per tahun. Di kalangan generasi muda di Barat, tingkat kepemilikan hewan peliharaan melampaui 60%, dan semakin banyak orang memperlakukan hewan sebagai anggota keluarga.

Kebutuhan relasi yang kuat ini menopang pasar niche yang besar. Perkiraan menyebut kategori baru yang dipelopori Traini bernilai sekitar USD 1,6 miliar saat ini, dan diproyeksikan mencapai USD 9 miliar pada 2030.

Sebaliknya, pasar domestik Tiongkok masih relatif kosong. Media “Tianxia Wangshang” menelusuri platform Taobao dengan kata kunci “kalung pintar hewan peliharaan” dan menemukan hasil yang sebagian besar mengarah ke “pelacak lokasi” dengan fungsi terbatas seperti GPS, siaran suara, dan pagar elektronik, dengan harga sekitar RMB 100 hingga beberapa ratus yuan.

Sementara itu, pencarian “penerjemah bahasa hewan” banyak menampilkan tombol mainan seharga RMB 20–30. Saat ditekan, perangkat akan memutar suara manusia seperti “makan” atau “ayo main”—lebih menyerupai alat pelatihan daripada perangkat komunikasi.

Di segmen ini, Traini memang termasuk pemain yang langka. Kehadirannya berdiri tepat di ambang gelombang besar AI yang akan membentuk ulang berbagai industri, sekaligus berada di titik temu antara nilai emosional dan nilai komersial.

Optimisme investor terhadap “AI + pets” pun terlihat jelas. Salah satu investor Traini, Ketua Zhaotai Group Wang Quan, menyatakan bahwa produk AI yang disukai Gen Z adalah masa depan. Managing Partner Silver Capital, Sidney Wen, bahkan menyebut Traini berpotensi menjadi perusahaan “setingkat Oura Ring”—merek Finlandia yang mendominasi sekitar 70% pasar cincin pintar.

Pada saat yang sama, Traini juga memberi referensi arah bagi pemain lokal. Di pasar hewan peliharaan Tiongkok, kecerdasan perangkat baru populer pada feeder, litter box, hingga mesin pengering, sementara potensi besar model AI belum benar-benar dieksplorasi. Seorang pelaku industri berkata terang-terangan: “Saat ini, banyak produk hewan yang mengklaim AI sebenarnya palsu.”

Kombinasi teknologi baru dan ekosistem konsumsi yang berubah telah membantu Arvin dan Traini membuka jalur baru bernama “pet emotional intelligence”. Meski hasilnya masih menghadapi tantangan dan masa depannya belum pasti, Traini menyiratkan satu prinsip sederhana: di mata para pengasuh, setiap kebutuhan “anak berbulu” layak didengar dan dirawat dengan sepenuh hati.

接著讀