2026年9月10日

Resmi Masuk 10 Besar Asia! Peluang Yang Hansen Lampaui Bateer Kian Terbuka, Tak Perlu Dibebani Standar Yao Ming

Saat Yang Hansen dengan tenang mencetak 4 poin dalam laga melawan Grizzlies, total poin sepanjang ka...

Saat Yang Hansen dengan tenang mencetak 4 poin dalam laga melawan Grizzlies, total poin sepanjang karier NBA-nya pun meningkat menjadi 34 angka. Pencapaian ini secara resmi mengantarkannya masuk ke dalam 10 besar daftar pencetak poin terbanyak pemain Asia di NBA, tepat di bawah bintang muda Jepang, Yuki Kawamura.

Yang lebih menjanjikan, jaraknya dengan posisi ketujuh yang ditempati legenda China, Mengke Bateer (156 poin), kini hanya tersisa 122 poin. Dengan sisa jadwal musim ini yang masih cukup panjang, peluang untuk melampaui rekor tersebut bukan lagi sekadar impian, melainkan target yang sangat realistis.

Daftar 10 Besar Perolehan Poin Pemain Asia di NBA Sepanjang Sejarah

  1. Yao Ming (China) – 9.247 poin – Pensiun
  2. Rui Hachimura (Jepang) – 4.609 poin – Aktif
  3. Yi Jianlian (China) – 2.148 poin – Pensiun
  4. Yuta Watanabe (Jepang) – 895 poin – Aktif
  5. Wang Zhizhi (China) – 604 poin – Pensiun
  6. Hamed Haddadi (Iran) – 339 poin – Pensiun
  7. Mengke Bateer (China) – 156 poin – Pensiun
  8. Ha Seung-Jin (Korea Selatan) – 70 poin – Pensiun
  9. Yuki Kawamura (Jepang) – 36 poin – Aktif
  10. Yang Hansen (China) – 34 poin – Aktif

Meski mencatatkan progres yang sangat menjanjikan, pemain muda berusia 20 tahun ini justru masih dibayangi kritik keras di dalam negeri. Banyak pihak tampaknya lupa bahwa dalam perspektif Asia secara keseluruhan, Yang Hansen sudah termasuk salah satu big man aktif paling potensial saat ini. Gelombang kritik tersebut sejatinya merupakan dampak dari tingginya ekspektasi akibat “efek Yao Ming”.

Sebagai ikon terbesar dalam sejarah bola basket Asia, Yao Ming merupakan pilihan nomor satu draft NBA yang pernah mencatat rata-rata puncak 25 poin dan 9,4 rebound per pertandingan. Standar luar biasa tersebut membuat banyak pemain China berikutnya tanpa sadar selalu diukur sebagai “Yao Ming berikutnya”. Namun, jalur karier Yang Hansen sangat berbeda. Ia belum masuk dalam rotasi utama tim, dengan menit bermain yang sering kali belum menembus 10 menit per laga. Meski begitu, efektivitas penampilannya tetap berada di atas rata-rata rookie dengan posisi draft yang setara.

Jika menilik peta persaingan Asia saat ini, di antara para pemain Asia yang masih aktif, hanya Rui Hachimura dan Yuta Watanabe yang memiliki total poin lebih tinggi dari Yang Hansen. Hachimura merupakan pick nomor sembilan di putaran pertama NBA Draft, sedangkan Watanabe menempuh jalan panjang dari G League sebelum akhirnya mapan di NBA. Yang Hansen, yang baru berusia 20 tahun, menjadi yang termuda di antara mereka, sekaligus memiliki keunggulan dalam kemampuan distribusi bola dan cakupan pertahanan yang luas—dua faktor yang membuatnya mulai mendapat kepercayaan dari tim pelatih.

Dengan sisa musim reguler yang masih berjalan, jika Yang Hansen mampu mendapatkan menit bermain yang stabil seperti laga sebelumnya, maka dengan efisiensi yang ia miliki saat ini, menutup musim dengan lebih dari 150 poin dan melampaui Bateer sangat mungkin terjadi. Lebih menarik lagi, pada musim depan, jika ia mampu menembus rotasi reguler, rata-rata 8–10 poin per pertandingan bukanlah target yang mustahil. Pada titik itu, peluang untuk menyalip Haddadi dan Wang Zhizhi, sekaligus masuk lima besar Asia sepanjang sejarah, benar-benar terbuka lebar.

Perjalanan dalam dunia basket tidak pernah instan. Bahkan Yao Ming pun membutuhkan masa adaptasi di musim perdananya. Kini, Yang Hansen sedang menapaki jalannya sendiri, perlahan namun pasti. Di tengah kondisi regenerasi yang menantang bagi basket Asia, setiap langkah kecilnya menjadi fondasi penting bagi kebangkitan kembali basket China di panggung NBA.

接著讀