2026年9月10日

Saat Makam Lebih Mahal dari Rumah: Warga Tiongkok Mulai Menolak Membeli

Selama ini, dalam bayangan banyak orang, industri pemakaman dan layanan duka adalah bisnis “anti bad...

Selama ini, dalam bayangan banyak orang, industri pemakaman dan layanan duka adalah bisnis “anti badai”—kering atau banjir tetap untung. Apa pun kondisi ekonomi, manusia pada akhirnya tetap berpulang. Bahkan saat pasar properti mendingin, “rumah terakhir” seolah tetap menjadi kebutuhan yang tak bisa ditawar.

Apalagi sejak 2022, jumlah kematian tahunan di Tiongkok mulai melampaui angka kelahiran, dan negara ini sedang memasuki salah satu gelombang penuaan terbesar dalam sejarah manusia. Secara teori, sektor pemakaman seharusnya semakin ramai: permintaan stabil, margin terjaga, dan keuntungan terlihat nyaris pasti.

Namun kenyataannya justru berbalik arah. Makam berharga tinggi makin sepi peminat, pendapatan sejumlah perusahaan pemakaman yang terdaftar di bursa ikut menurun, bahkan pemimpin industri yang sempat dijuluki “Moutai-nya dunia pemakaman” mulai merasakan tekanan hingga masuk jalur rugi. Lantas, mengapa bisnis yang dulu tampak “pasti cuan” kini terasa jauh lebih sulit?

Perusahaan pemakaman pertama yang tercatat di bursa mulai merugi

Untuk memahami perubahan ini, kita perlu membedah terlebih dulu apa yang dimaksud dengan “layanan pemakaman” (殯葬). Secara umum, ini terbagi menjadi dua bagian: “殯” dan “葬”.

Menurut klasifikasi layanan pemakaman dari Kementerian Urusan Sipil, “殯” mengacu pada rangkaian perpisahan terakhir—mulai dari pengangkutan jenazah hingga upacara pelepasan. Layanan ini umumnya disediakan oleh rumah duka atau institusi publik, sehingga harga cenderung lebih transparan.

Sementara “葬” merujuk pada penempatan akhir jenazah atau abu: pembangunan makam, penitipan abu, hingga fasilitas penyimpanan. Di sinilah rentang biaya menjadi sangat lebar—bisa nyaris tanpa biaya, tetapi juga bisa “tanpa batas” tergantung lokasi dan pilihan.

Karena itu, “葬” selama bertahun-tahun menjadi ruang bisnis yang paling besar. Tak heran, sebagian besar perusahaan pemakaman yang berhasil melantai di bursa di Tiongkok menjadikan penjualan liang makam sebagai sumber pendapatan utama.

Ambil contoh Fushouyuan, perusahaan pemakaman terbesar yang terdaftar di bursa. Mesin pertumbuhan mereka selama ini adalah penjualan makam kelas menengah hingga premium. Pada semester pertama 2025, pendapatan dari makam komersial (berbeda dari makam amal/public welfare) menyumbang lebih dari 60% total pendapatan, dengan cakupan bisnis di 19 provinsi, kota, dan wilayah otonom.

Dulu, seberapa menggiurkan bisnis mereka? Margin kotor dalam jangka panjang melampaui 80%—bahkan lebih tinggi daripada banyak merek barang mewah.

Nama Fushouyuan terakhir kali viral pada 2023, ketika taman makam Shanghai Songhe Garden membuka area baru. Satu paket makam tiga ruang seluas 0,6 meter persegi—kira-kira seukuran meja kerja kantor—dibanderol 457.800 yuan, setara sekitar 760.000 yuan per meter persegi. Jika dibandingkan, hunian mewah Shanghai pun terlihat “lebih murah”.

Dari laporan keuangan, sejak IPO pada 2013, pendapatan Fushouyuan melesat bak roket: dari 612 juta yuan naik hingga puncaknya pada 2023 sebesar 2,628 miliar yuan—lebih dari empat kali lipat. Pada tahun yang sama, laba bersih mendekati 1 miliar yuan.

Namun setelah itu, arah berubah tajam. Pada 2024 pendapatan mulai turun, dan pada semester pertama 2025 pendapatan kembali merosot sekitar 44,5% secara tahunan. Perusahaan mencatat rugi bersih 261 juta yuan—rugi pertama sejak tercatat di bursa.

Dan Fushouyuan bukan satu-satunya. Perusahaan lain yang juga bertumpu pada “jualan makam” seperti Wantongyuan dan Anxianyuan turut menghadapi musim dingin. Kerugian perlahan menjadi tantangan bersama di industri ini.

Makam lebih mahal dari rumah, jadi makin sulit terjual

Mengapa bisnis yang dulu tampak “pasti untung” kini kehilangan pamor? Penyebabnya mirip dengan turunnya pasar properti: pertama, konsumen mulai enggan membayar; kedua, kebijakan pemerintah sebagai “tangan yang terlihat” makin aktif mengatur.

Di masa lalu, banyak keluarga Tiongkok rela mengeluarkan biaya besar untuk urusan duka. Ketika orang tua berpulang, jika sebagai anak tidak “menggelar dengan layak”, sering kali terasa sulit dibenarkan—baik dari sisi bakti (filial piety) maupun gengsi sosial.

Perbandingan internasional juga menunjukkan beratnya beban ini. Pada 2020, lembaga asuransi jiwa Inggris SunLife meneliti biaya pemakaman di 35 negara dan menemukan Tiongkok termasuk yang paling berat bebannya. Rata-rata biaya sekitar 35.140 yuan, setara hampir setengah tahun gaji orang biasa.

Namun bukan hanya faktor budaya yang membuat biaya tinggi. Struktur pasar juga berperan: sumber daya pemakaman sangat terbatas—benar-benar “rebutan”.

Data Kementerian Urusan Sipil menunjukkan, hingga akhir 2021, jumlah pemakaman komersial nasional hanya 1.443. Rata-rata, tiap kabupaten/kota tidak sampai punya satu pemakaman komersial. Lebih dari 70% kabupaten/kota bahkan tidak memiliki pemakaman amal untuk wilayah perkotaan.

Kelangkaan ini membuat bisnis makam pada dasarnya mirip bisnis properti. Siapa memegang “lahan bagus”, dia memegang kendali harga.

Fushouyuan adalah contoh jelas. Dalam periode 2017–2024, harga jual rata-rata makam komersial mereka naik dari 102.400 yuan per unit menjadi 121.200 yuan. Jika dihitung per meter persegi, rata-rata harga 2024 mencapai 242.000 yuan—lebih mahal daripada banyak hunian kelas atas di pusat Shenzhen.

Namun seperti harga rumah, harga makam pun pada akhirnya menghadapi “koreksi nilai”. Logikanya sederhana: martabat almarhum pada akhirnya ditopang oleh kemampuan finansial orang yang masih hidup. Ketika keluarga mulai berhitung dan lebih hati-hati merencanakan pengeluaran, anggaran untuk pemakaman pun ikut menurun. Dan makam premium, seperti Hermes, sejatinya bukan kebutuhan dasar.

Pilihan publik terlihat jelas dalam penjualan berbagai kelas makam. Menurut laporan China Newsweek, di Chongqing, dalam beberapa tahun terakhir daya beli melemah sehingga makam kelas atas semakin sulit terjual. Bahkan ada yang memilih tidak membeli makam sama sekali—mereka menyimpan abu terlebih dahulu dan menunda pemakaman tanpa batas waktu.

Menghadapi situasi ini, Fushouyuan pun terpaksa ikut “bermain promosi”. Dalam laporan terbarunya, perusahaan mengakui mengurangi produk berharga tinggi dan menambah pasokan produk menengah. Dampaknya, harga rata-rata makam komersial turun dari 121.200 yuan per unit tahun lalu menjadi 63.400 yuan tahun ini—nyaris turun setengah.

Pandangan masyarakat soal pemakaman sedang berubah pelan-pelan

Selain perubahan permintaan, arah kebijakan juga semakin terasa.

Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai daerah di Tiongkok gencar menertibkan sektor pemakaman untuk “mengurangi beban” keluarga. Pemerintah tidak hanya membatasi pemborosan dan kompetisi gengsi, tetapi juga mendorong lebih banyak makam amal serta mempromosikan pemakaman ekologis hemat lahan—yang tidak memakai atau hanya sedikit memakai lahan.

Di akhir 2024, penataan besar-besaran industri pemakaman pun dimulai. Pada 2025, Kementerian Urusan Sipil merilis draf revisi Peraturan Pengelolaan Pemakaman untuk meminta masukan publik. Draf ini menegaskan sistem layanan pemakaman dasar sebagai layanan publik, serta memasukkan beberapa tahap inti—seperti pengangkutan dan perawatan jenazah—ke dalam ranah harga yang ditetapkan atau dipandu pemerintah. Ruang bagi pelaku usaha untuk menaikkan harga “sesuka hati” pun kian menyempit.

Aturan baru juga menetapkan “garis merah” luas makam, misalnya satu unit makam abu tidak boleh melebihi 0,5 meter persegi. Di saat yang sama, praktik pemakaman ekologis seperti tabur laut dan pemakaman pohon semakin didorong.

Shanghai menjadi contoh konkret. Pada Februari tahun ini, daftar layanan pemakaman terbaru di Shanghai kembali memperketat batas harga untuk layanan pemakaman, pengangkutan, hingga penyimpanan. Misalnya, biaya pemeliharaan makam dibatasi maksimal 45 yuan per meter persegi; biaya penggunaan fasilitas penyimpanan abu amal per tahun tidak boleh melebihi 1% dari biaya slot. Bahkan layanan rias jenazah yang dulu lazimnya mulai 500 yuan kini dibatasi maksimal di bawah 150 yuan.

Ketika pemakaman semakin diposisikan sebagai urusan sosial dan layanan publik, perusahaan yang dulu mengandalkan margin “super” tentu akan terkena dampak. Bagi Fushouyuan, Shanghai adalah pasar terbesarnya. Pada semester pertama tahun ini, pendapatan dari taman makam dan layanan rumah duka di Shanghai turun 54,2%—menunjukkan pembatasan harga memang menggerus ruang laba tradisional.

Di sisi lain, konsumen juga makin rasional. Membeli makam mahal terasa “tidak masuk akal” bagi banyak orang: bukan hanya harga beli yang tinggi, tetapi juga kewajiban membayar biaya pengelolaan setiap 20 tahun. Ketika pemilik makam wafat, siapa yang menjamin masih ada anggota keluarga yang akan “memperpanjang” untuk makam orang tua?

Dibandingkan itu, pemakaman ekologis hemat lahan jauh lebih terjangkau—bahkan di beberapa daerah pemerintah memberi insentif. Jika puluhan tahun ke depan makam leluhur bisa saja sulit dirawat atau bahkan tak lagi terlacak, maka memilih metode yang lebih sederhana dan efisien terasa makin masuk akal.

Maka, di tengah perubahan permintaan dan dorongan kebijakan, masyarakat Tiongkok mulai mengalami “de-mistifikasi” terhadap pemakaman: pelan, tetapi nyata.

Semakin banyak orang memilih pemakaman ekologis—abu ditempatkan di kolumbarium (dinding penyimpanan abu), atau memilih tabur laut dan pemakaman pohon. Abu dapat ditaburkan ke laut, atau dimasukkan ke wadah biodegradable lalu dikubur di bawah pohon atau taman bunga.

Beijing menjadi salah satu indikator awal. Pada 2016, tingkat pemakaman ekologis hemat lahan di kota ini mencapai 55,97%—untuk pertama kalinya melampaui setengah. Di provinsi berpenduduk besar seperti Guangdong, tren ini juga berkembang pesat; hingga 2025, tingkat pemakaman ekologis hemat lahan di seluruh provinsi telah melampaui 63%.

Daripada menghabiskan uang besar untuk sebidang semen kecil dengan “masa pakai” 20 tahun, ke depan mungkin akan semakin banyak orang memilih cara berpulang yang menyatu dengan alam—mengikuti ombak, aliran sungai, dan tumbuh-tumbuhan menuju dunia yang lebih luas.

Seperti yang dikatakan film Okuribito (Departures): “Kematian mungkin adalah sebuah pintu; berpulang bukanlah akhir, melainkan sebuah lompatan—menuju perjalanan berikutnya, seperti melewati sebuah pintu.”

接著讀