2026年9月10日

Raja Sepatu Legendaris Puma Siap Dilego

Kisah ini masih terus bergulir. Menurut laporan Bloomberg, raksasa merek olahraga legendaris Puma me...

Kisah ini masih terus bergulir.

Menurut laporan Bloomberg, raksasa merek olahraga legendaris Puma mengalami penurunan tajam nilai pasar dalam setahun terakhir. Kini, keluarga Pinault sebagai pemegang kendali mulai mendekati calon pembeli potensial. Singkatnya, sang legenda mungkin segera berganti tangan.

Dari Kota Kecil di Jerman ke Ikon Dunia

Kebangkitan Puma benar-benar layak disebut sebagai kisah legendaris. Berawal dari keluarga di sebuah kota kecil di Jerman, dua bersaudara dari keluarga Dassler memproduksi sepatu olahraga profesional. Akhirnya, mereka berpisah jalan — sang kakak, Rudolf Dassler, mendirikan Puma, sementara sang adik, Adolf Dassler, menciptakan Adidas.

Momen paling berkesan Puma datang dari kolaborasinya dengan bintang pop Rihanna. Sepatu Creeper yang ia rancang bersama Puma menjadi sensasi global, ludes terjual dalam sekejap, bahkan sempat mengungguli kepopuleran Yeezy milik Adidas. Pada puncaknya, Puma membukukan pendapatan tahunan €8,465 miliar (sekitar Rp 122 triliun).

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, melemahnya permintaan konsumen global membuat banyak perusahaan besar siap melepas asetnya — termasuk keluarga kaya pemilik Puma.

Rivalitas Dua Bersaudara yang Membentuk Sejarah

Lebih dari seabad lalu, Rudolf dan Adolf Dassler lahir di kota kecil Herzogenaurach, Jerman. Sejak muda, Adolf mencintai olahraga dan menyadari bahwa atlet kekurangan sepatu khusus sesuai cabang olahraga. Pada tahun 1924, mereka mendirikan Gebrüder Dassler Schuhfabrik (Geda).

Pada Olimpiade Musim Panas 1928 di Amsterdam, pelari jarak jauh Jerman Lina Radke memenangkan medali emas dengan sepatu buatan Geda, membuat merek ini semakin dikenal. Sayangnya, hubungan kakak-beradik itu retak dan akhirnya mereka berpisah.

Rudolf mengambil alih pabrik di Würzburger Street dan mendirikan Puma pada 1948, sementara Adolf mempertahankan pabrik dekat stasiun kereta yang kemudian menjadi Adidas. Rivalitas keduanya berlangsung selama puluhan tahun.

Pada era 1970–1980-an, Puma populer di kalangan budaya hip-hop dan grafiti, serta aktif bermitra dengan atlet papan atas. Menjelang akhir 1990-an, Puma hampir sejajar dengan Nike dan Adidas dalam penjualan.

Pada 2007, Kering Group — pemilik Gucci, Saint Laurent, Balenciaga, dan merek mewah lainnya — mengakuisisi Puma. Namun, kemunculan pesaing baru seperti Under Armour memaksa Puma mengubah fokus ke pasar athleisure, memadukan olahraga dengan mode, musik, dan budaya urban.

Kesepakatan besar pun hadir pada 2014 saat Rihanna menjadi Creative Director untuk lini wanita sekaligus duta merek. Creeper yang ia desain menjadi produk ikonik, bahkan beberapa modelnya kini bernilai jutaan rupiah di pasar sekunder.

Di bawah kepemimpinan CEO Björn Gulden, Puma merampingkan lini produk, menggencarkan kolaborasi selebritas, dan meningkatkan pemasaran olahraga profesional. Hasilnya, pendapatan mencapai rekor pada 2022, saham naik 400%, dan puncaknya terjadi pada 2021.

Kebangkitan Speedcat OG dan model unik Speedcat Ballet membawa angin segar, tetapi persaingan dari Lululemon dan Anta semakin ketat.

Mengapa Rumor Penjualan Muncul Sekarang?

Ini bukan kali pertama rumor penjualan Puma beredar. Pada 2014, Anta sempat disebut sebagai calon pembeli. Lalu pada 2018, Kering melepas sebagian besar sahamnya, dengan keluarga Pinault melalui Artémis mempertahankan 29% sebagai pemegang saham strategis jangka panjang.

Kini, Bloomberg melaporkan keluarga Pinault sedang mengevaluasi opsi strategis, termasuk penjualan. Daftar calon pembeli mencakup merek olahraga AS, dana kekayaan negara Timur Tengah, serta raksasa China seperti Anta dan Li-Ning.

Tantangan Puma belakangan ini cukup berat: pergantian CEO dua kali dalam tiga tahun, restrukturisasi, dan tekanan kinerja. Pada April lalu, mantan eksekutif Adidas Arthur Hoeld menggantikan Arne Freundt sebagai CEO. Puma juga mengumumkan rencana memangkas 500 karyawan global.

Laporan keuangan terbaru menunjukkan penurunan penjualan sebesar 2% (disesuaikan kurs) menjadi €1,942 miliar, rugi EBIT sebesar €13,2 juta, dan rugi bersih €247 juta.

Saat Merek Ikonik Dijual, Investor Mengincar

Potensi penjualan Puma terjadi di tengah tren banyaknya merek konsumen legendaris yang diakuisisi dengan valuasi “diskon”. Sebelum rumor ini, harga saham Puma sudah turun lebih dari 80% dari puncaknya di 2021, bahkan sempat menyentuh €17.

Bagi pembeli strategis, ini bisa menjadi kesempatan emas untuk mendapatkan merek kelas dunia dengan harga miring.

Laporan Bain & Company memprediksi lonjakan aktivitas M&A global pada 2025, terutama karena perusahaan melepas aset non-inti untuk memperbaiki struktur keuangan. Dalam industri barang konsumsi, 60% eksekutif berencana menjual aset dalam tiga tahun ke depan.

Baru-baru ini, 3G Capital dari Brasil mengakuisisi Skechers senilai US$9,4 miliar. Kesepakatan lainnya mencakup Vera Wang, Versace, Haagen-Dazs, Starbucks China, dan banyak lagi.

Contoh sukses lain datang dari akuisisi Amer Sports oleh konsorsium yang dipimpin Anta pada 2019. Merek Arc’teryx yang sebelumnya niche kini menjadi simbol gaya hidup kelas menengah Tiongkok, menguntungkan sejak 2022, dan pada 2024 resmi melantai di Bursa New York.

Ada yang keluar, ada yang masuk. Dalam dunia bisnis, permainan ini tak pernah berakhir.

接著讀