2026年9月12日

Lenovo tidak percaya ada “gelembung” AI PC.

Gelembung AI PC yang panas sepanjang tahun lalu terlihat mulai mendingin di CES 2026. Dell menjadi c...

Gelembung AI PC yang panas sepanjang tahun lalu terlihat mulai mendingin di CES 2026. Dell menjadi contoh paling jelas: fokus presentasinya kembali ke pembaruan lini produk, desain, keandalan, dan kebutuhan bisnis, sementara AI ditempatkan sebagai “fitur”, bukan jualan utama. Sejumlah eksekutif Dell, ASUS, dan HP menyampaikan nada serupa: konsumen umum tidak membeli laptop hanya karena ada AI, dan permintaan nyata AI PC masih terbatas, sehingga promosi kini lebih menonjolkan performa, harga, dan skenario penggunaan.

Di sisi lain, Lenovo justru menambah taruhan. Lenovo terus mendorong bentuk AI PC yang lebih agresif dan mengangkat strategi ke “platform AI hibrida”—AI sebagai kemampuan sistem yang berjalan di perangkat (lokal), private cloud, hingga public cloud. Perbedaan arah ini bukan sekadar “agresif vs konservatif”, melainkan perbedaan keyakinan soal kapan kebutuhan AI benar-benar matang.

Namun, pertumbuhan AI PC saat ini bisa jadi lebih banyak didorong oleh subsidi dan definisi statistik, bukan karena fitur AI sudah menjadi kebutuhan. Banyak riset pasar mengklasifikasikan AI PC hanya berdasarkan keberadaan NPU/AI accelerator, bukan berdasarkan manfaat AI yang benar-benar dipakai pengguna. Subsidi tukar tambah juga menurunkan harga perangkat “berlabel AI” ke level PC biasa, sehingga mendorong orang membeli “yang baru” meski belum yakin akan memakai AI.

Tantangan terbesar tetap di rantai pasok: nilai AI terkonsentrasi di hulu. Nvidia, TSMC, dan produsen memori mendapat porsi keuntungan terbesar, sementara produsen perangkat keras di hilir menghadapi biaya komponen naik dan daya markup terbatas. Skala dan strategi stok Lenovo bisa membantu bertahan, tetapi sulit mengubah posisi hilir yang terjepit. Karena itu Lenovo bertaruh pada platform dan ekosistem—namun apakah merek perangkat keras bisa benar-benar menikmati “dividen AI” masih belum pasti.

接著讀