2026年9月10日

Tren logam mulia berbalik tajam — harga emas “anjlok” cepat!

(New York, 30 Januari)Harga emas dan perak global bergerak sangat liar—naik tajam ke level tinggi la...

(New York, 30 Januari)
Harga emas dan perak global bergerak sangat liar—naik tajam ke level tinggi lalu berbalik turun drastis—menunjukkan volatilitas pasar yang ekstrem.

Pada Kamis malam (29 Januari), keduanya sempat melanjutkan reli kuat: perak spot sempat naik hingga sekitar 3,5% intraday, sedangkan emas spot sempat melonjak sekitar 2%. Namun mendekati tengah malam, arah pasar berubah cepat. Emas dan perak spot mengalami penurunan tajam; emas spot bahkan menembus beberapa level penting—US$5.400, US$5.300, hingga US$5.200—sebelum memulihkan sebagian kerugian pada pagi hari.

Hingga pukul 11.00 waktu Malaysia, emas spot berada di US$5.218,23 per ons, turun US$87,02 atau 1,64%. Perak spot tercatat US$111,16 per ons, turun US$2,26 atau 1,99%. Di sisi lain, tembaga kontrak tiga bulan di LME juga sempat melonjak hingga sekitar 10,32% sebelum terkoreksi, lalu kembali menutup sebagian penurunan di sekitar US$13.618 per ton.

Aksi ambil untung memicu penurunan cepat

Pelaku pasar menilai penurunan mendadak ini dipicu aksi ambil untung setelah harga berulang kali menyentuh rekor. Sebelumnya, emas spot tercatat naik selama delapan sesi berturut-turut, dengan kenaikan bulanan melampaui 23%.

Kepala perdagangan logam High Ridge Futures, David Meger, menyebutkan bahwa setelah logam mulia mencetak rekor tertinggi, muncul gelombang jual yang kuat dan tajam.

Menurut Simon Biddle, kepala logam mulia di Tullett Prebon (TP ICAP Group), kenaikan yang besar dan bertahan lama juga mulai membatasi kemampuan bank untuk menahan posisi, sehingga likuiditas berkurang dan volatilitas meningkat. Karena neraca bank tidak tak terbatas, eksposur risiko dikurangi dan volume transaksi ikut menurun.

China Guoxin Futures memperkirakan logam mulia masih cenderung bergerak “berkonsolidasi namun bias menguat”, tetapi memperingatkan bahwa level harga yang sudah sangat tinggi serta pembatasan regulasi dapat memperbesar volatilitas.

Risiko “shutdown” AS menambah sentimen safe haven

Dari sisi berita, risiko pemerintah AS kembali “shutdown” ikut memperkuat permintaan aset lindung nilai. Media Tiongkok melaporkan bahwa pada Kamis (29 Januari), Senat AS gagal meloloskan RUU pendanaan pemerintah, sehingga peluang terjadinya shutdown parsial pada akhir bulan meningkat bila dana habis.

Selain itu, Presiden Donald Trump menandatangani perintah eksekutif untuk menetapkan status darurat nasional dan mengancam tarif ad valorem atas impor dari negara yang memasok minyak ke Kuba.

Prospek jangka panjang masih positif

Arun Sai, ahli strategi multi-aset senior di Pictet Asset Management, menyatakan emas kemungkinan tetap diuntungkan oleh kekhawatiran “pelemahan nilai mata uang” dan “pempersenjataan” sistem keuangan. Di tengah perubahan cepat aliansi strategis dan ekonomi serta ketidakpastian yang tinggi, bank sentral negara berkembang dan investor swasta semakin melihat emas sebagai penyimpan nilai.

Ia menilai saat risiko inflasi dan kebijakan meningkat, emas bisa menjadi salah satu alat diversifikasi yang paling efektif. Walau reli terbaru dapat memicu koreksi taktis—terutama jika The Fed berubah lebih hawkish—koreksi tersebut dapat dianggap sebagai peluang untuk menambah kepemilikan emas dalam alokasi jangka panjang.

接著讀