2026年9月10日

Siapa yang Tersentil? Mbappé Minta Maaf atas Performa Real Madrid yang Menurun dan Tuai Pujian—Mengapa Bintang-Bintang Lain Madrid Justru Memilih Diam?

Meski Real Madrid memiliki lini depan bertabur bintang—dengan Kylian Mbappé dan Vinícius Júnior seba...

Meski Real Madrid memiliki lini depan bertabur bintang—dengan Kylian Mbappé dan Vinícius Júnior sebagai ujung tombak—hasil yang diraih musim ini justru belum sejalan dengan ekspektasi. Di UEFA Champions League maupun La Liga, performa tim dinilai masih kurang meyakinkan.

Situasi ini memicu beragam reaksi. Sebagian suporter bahkan menilai Mbappé seperti “bos besar” yang justru merusak keseimbangan tim dan mengganggu daya saing instan Madrid. Namun, narasi tersebut tidak sepenuhnya sejalan dengan kesan yang muncul dari dalam: Mbappé dikenal sebagai sosok yang punya rasa tanggung jawab tinggi.

Menurut bocoran informasi dari Antoine Simonneau, jurnalis ternama media sepak bola Prancis L'Équipe, Mbappé jarang melontarkan komentar publik di lingkungan Real Madrid. Ia juga tidak tipe pemain yang suka mengatur-atur rekan setim atau menunjuk-nunjuk kesalahan orang lain. Tetapi ketika ia berbicara, pesannya disebut selalu to the point—bukan sekadar kalimat aman atau klise yang terdengar bagus di media.

Hal itu terlihat setelah Real Madrid secara mengejutkan kalah 2–4 dari Benfica di Liga Champions, dalam laga yang disebut dipimpin oleh José Mourinho. Dalam momen tersebut, Mbappé dikabarkan menjadi satu-satunya bintang Madrid yang berani maju untuk mengambil tanggung jawab. Ia sangat kecewa dengan hasil pertandingan, dan menyampaikan kepada rekan-rekannya bahwa tim saat ini masih memiliki banyak kekurangan—dan jika tidak segera dibenahi, ambisi juara bisa terganggu serius.

Di pertandingan itu, Mbappé dan kiper Thibaut Courtois disebut sebagai dua dari sedikit pemain Madrid yang tampil relatif stabil. Namun bagi pemain yang haus gelar, situasinya tetap terasa canggung: Mbappé kerap terlihat seperti berjuang sendirian pada momen-momen krusial. Bahkan ketika terjadi perubahan di kursi pelatih—misalnya Álvaro Arbeloa menggantikan Xabi Alonso—kesan bahwa ruang ganti kurang solid belum menunjukkan perbaikan yang berarti.

Lahir pada 1998, Mbappé kini diposisikan sebagai pusat serangan sekaligus figur simbolik tim. Ia bergabung dengan Real Madrid pada 2024 dengan status bebas transfer dari Paris Saint-Germain dan langsung tampil produktif, bahkan pernah meraih predikat top skor La Liga serta Sepatu Emas Eropa. Musim ini, ia disebut sudah tampil 29 kali bersama Madrid dengan catatan 36 gol dan 4 assist—angka yang menegaskan betapa tajamnya kontribusi ofensifnya.

Meski demikian, masa baktinya di Madrid masih tergolong singkat. Di klub sebesar Real Madrid, pengaruh seorang pemimpin biasanya tidak terbentuk dalam semalam—dibutuhkan waktu, pengalaman, dan legitimasi di ruang ganti agar “peran kapten tanpa ban kapten” benar-benar terasa. Kabar baiknya, performa Mbappé diklaim sangat diapresiasi oleh petinggi klub. Ia disebut beberapa kali mendapat pujian, bahkan presiden klub Florentino Pérez dikabarkan memandang Mbappé sebagai wajah utama tim.

Dengan latar itu, ketika L'Équipe mengusung narasi “Madrid kalah, tapi Mbappé tidak kalah,” muncul pertanyaan besar: apakah Mbappé benar-benar sudah mulai menjalankan peran sebagai pemimpin mental Real Madrid—meski bintang-bintang lain belum ikut tampil ke depan?

Silakan tulis pendapatmu di kolom komentar.

接著讀