2026年9月10日

Raja Acar Sichuan Siap Dijual: Pergantian Kepemilikan Besar di Depan Mata

Saus daging sapi beraroma rempah, kacang panjang renyah, inti sawi asin yang gurih—dengan cita rasa ...

Saus daging sapi beraroma rempah, kacang panjang renyah, inti sawi asin yang gurih—dengan cita rasa asin, harum, dan pedas khas Sichuan, deretan lauk pendamping nasi ini pernah menghiasi meja makan jutaan keluarga. Kini, “senjata andalan penambah nafsu makan” nasional itu bersiap memasuki babak baru: dijual.

Dunia investasi mengungkap bahwa situs resmi Otoritas Pengawasan Pasar Kota Chongqing baru-baru ini mempublikasikan pengumuman: FountainVest Capital Partners GP4 Ltd. (selanjutnya disebut “FountainVest GP4”) akan mengakuisisi 92% saham Jixiangju melalui anak usaha yang sepenuhnya dimiliki, Chuanxiang Siyi. Jika ditelusuri lebih jauh, pihak pengakuisisi tak lain adalah FountainVest Capital.

Ada pepatah lama yang mengatakan, “Jika bicara acar China, lihat Sichuan.” Berawal dari Meishan—kampung halaman Su Dongpo—Ding Wenjun memulai Jixiangju dari sebuah pabrik pengolahan acar kecil, lalu mengangkat lauk sederhana yang renyah dan menggugah selera menjadi merek nasional yang dicintai. Sejak 2020, perusahaan telah memasuki proses pendampingan IPO, namun hingga kini belum ada terobosan yang benar-benar terwujud.

Setelah melalui perjalanan berliku, Jixiangju akhirnya memilih jalur lain: melepas kepemilikan.

Seiring itu, detail transaksi pun semakin jelas.

Sebelum transaksi, pendiri Ding Wenjun memegang 31,24% saham Jixiangju dan mengendalikan perusahaan secara penuh. Setelah transaksi rampung, FountainVest GP4 akan menguasai secara tidak langsung 92% saham Jixiangju dan menjadi pengendali tunggal perusahaan.

Sebagai pemain utama di segmen acar, Jixiangju lama dipandang sebagai merek yang paling berpotensi menantang Fuling Zhacai. Informasi publik menunjukkan bahwa pangsa pasar Jixiangju di pasar acar dan bumbu majemuk domestik berada di kisaran 0–5%, menempatkannya di jajaran teratas industri.

Di balik layar, Ding Wenjun pernah menetapkan target ambisius “dua kali seratus” pada 2023: dalam jangka pendek, membawa Jixiangju melantai di bursa dalam tiga hingga lima tahun; dan dalam lima hingga sepuluh tahun, mencapai penjualan sebesar RMB 5 miliar.

Ambisi ini sekaligus menjelaskan logika investasi yang kini muncul. Di industri yang sangat terfragmentasi, perusahaan seperti Jixiangju mungkin bukan raksasa absolut, namun merupakan aset berkualitas tinggi dengan potensi besar—tepat sasaran bagi private equity yang ingin mendorong lompatan pertumbuhan melalui suntikan modal, optimalisasi manajemen, dan integrasi sumber daya.

Bagi FountainVest Capital, sang pembeli, dunia akuisisi bukanlah hal baru.

Didirikan pada 2007, FountainVest Capital menyebut dirinya sebagai salah satu perusahaan private equity independen terkemuka di Asia, dengan fokus investasi pada sektor konsumsi, media dan teknologi, kesehatan, industri, serta jasa keuangan. Dalam beberapa tahun terakhir, investasi paling mencoloknya adalah Amer Sports, induk merek Arc’teryx.

Amer Sports membawahi merek-merek premium seperti Arc’teryx, Salomon, Wilson, dan Atomic. Pada 2018, FountainVest bersama Anta Sports, perusahaan investasi Chip Wilson Anamered Investments, serta Tencent membentuk konsorsium untuk mengakuisisi Amer Sports senilai €4,6 miliar (sekitar RMB 36 miliar saat itu), mencatatkan rekor akuisisi luar negeri terbesar oleh modal China pada tahun tersebut.

Dalam penjualan saham Starbucks China tahun lalu, FountainVest Capital juga termasuk institusi yang mengajukan penawaran mengikat.

Dari Meishan ke dunia: lahirnya lauk nasional
Satu botol acar, menembus pasar global

Di kalangan industri beredar ungkapan, “Acar China melihat Sichuan, acar Sichuan melihat Meishan.”

Dikenal sebagai “penyelamat nasi”, acar telah menjadi bagian tak terpisahkan dari meja makan masyarakat China. Yang mungkin belum banyak diketahui, Meishan bukan hanya kampung halaman Su Dongpo, tetapi juga dijuluki “kota asal acar China”, dengan sekitar sepertiga produksi acar nasional berasal dari sini. Jixiangju adalah salah satu pembentuk legenda tersebut.

Kisahnya bermula dari seorang pemuda Sichuan.

Lahir di pedesaan Meishan, Ding Wenjun dikenal berani dan tangguh sejak kecil. Pada usia 17 tahun, ia sendirian mengangkut lebih dari 200 kilogram sayuran dengan sepeda ke Chengdu untuk dijual, mengumpulkan modal pertamanya. Tak lama kemudian, ia terjun ke perdagangan makanan di Guizhou dan cepat menjadi yang terdepan di antara para pesaing lokal.

Sebuah peristiwa kebetulan mengubah arah hidupnya. Menyaksikan hasil panen petani di kampung halamannya menumpuk tak terjual, Ding melihat peluang. Pada 2001, ia menginvestasikan seluruh tabungannya—lebih dari RMB 1,5 juta—untuk mendirikan Jixiangju dan membuka pabrik acar pertamanya.

Saat itu, pasar kota tingkat dua dan tiga nyaris kosong. Menangkap peluang tersebut, Jixiangju berkembang pesat, dengan pertumbuhan penjualan tahunan melampaui 40% sejak 2009. Standar industri untuk acar kemasan yang kini dinikmati konsumen pun pertama kali dirumuskan dan diterapkan oleh Jixiangju.

“Saya punya kebiasaan—setiap pergi ke negara lain, saya selalu ke supermarket setempat untuk melihat apakah ada acar Jixiangju,” ujar Ding Wenjun kepada media. Diam-diam tumbuh menjadi raksasa tersembunyi, kini produk Jixiangju telah diekspor ke lebih dari 20 negara dan wilayah, termasuk Jepang, Amerika Serikat, Inggris, Singapura, dan Korea Selatan.

Hingga kini, Jixiangju telah membangun portofolio merek seperti Jixiangju, Bao Xiafan, Jiang Niu Bafang, dan Chuanzhimei. Ragam produknya meluas dari satu jenis acar menjadi lebih dari 100 SKU, mencakup acar pendamping, saus pendamping, dan bumbu majemuk. Tekstur renyah dan rasa segarnya menjadikannya “cinta pertama” di hati banyak konsumen.

Jejak modal yang panjang

Menilik ke belakang, hubungan Jixiangju dengan modal telah terjalin sejak lama.

Data perubahan kepemilikan menunjukkan bahwa saat pendirian, Ding Wenjun memegang 30% saham, Li Wenxue 20%, sementara Wu Xueming, Wu Chaoqun, dan Wu Chaoquan masing-masing 17%, 17%, dan 16%. Di antaranya, Wu Chaoqun adalah pemegang saham pengendali Qianhe Condiment, sehingga Jixiangju sempat menjadi perusahaan afiliasi Qianhe.

Pada 2011, setelah dua kali transfer saham, tiga bersaudara Wu sepenuhnya keluar dari Jixiangju. Di saat yang sama, CJ CheilJedang dari Korea Selatan masuk sebagai investor dan kemudian menambah investasinya. Namun pada Juli 2023, CJ memilih keluar, menjual seluruh sahamnya kepada Sequoia, Tencent, serta tim manajemen Jixiangju.

Pada 2020, Jixiangju menandatangani perjanjian pendampingan IPO dengan Huaxing Securities dan bersiap melantai di ChiNext. Februari tahun berikutnya, perusahaan mengganti penjamin emisi menjadi Minsheng Securities dan menyelesaikan pendaftaran pendampingan di otoritas Sichuan.

Hingga kini, proses IPO telah berlangsung lebih dari lima tahun. Dengan perjalanan yang panjang, perusahaan akhirnya memilih untuk dijual.

Ada yang keluar, ada yang masuk: gelombang M&A konsumsi China

Dalam setahun terakhir, gelombang merger dan akuisisi melanda sektor konsumsi China.

Adegan paling mencolok adalah perburuan private equity terhadap Starbucks China, dengan antrean panjang para penawar. Pada akhirnya, Boyu Capital mengakuisisi 60% bisnis China Starbucks dengan valuasi total USD 4 miliar, membentuk perusahaan patungan baru, sementara Starbucks tetap memegang merek dan hak kekayaan intelektualnya.

Di balik penjualan tersebut terdapat kecemasan menghadapi pesaing kuat. Ekspansi agresif Luckin Coffee, Cotti Coffee, serta merek minuman teh baru dengan strategi harga rendah membuat operasional Starbucks China kian tertekan, sehingga membutuhkan mitra lokal yang lebih kuat.

Merek soda nasional Dayao juga dikabarkan diakuisisi KKR pada Juli tahun lalu. Berakar dari Pabrik Minuman Bayi di Inner Mongolia, Dayao adalah ikon nostalgia bagi satu generasi. Di tengah penurunan pasar minuman berkarbonasi, menjual ke KKR menjadi pilihan rasional.

Kisah serupa terus berlanjut: DCP Capital mengakuisisi Sun Art Retail, induk RT-Mart; FountainVest bersama Unison Capital membeli merek perhiasan mewah Jepang Tasaki; L Catterton mengambil mayoritas saham merek perawatan Nordik STENDERS.

Jika ditelusuri, sebagian besar target ini memiliki pengenalan merek yang kuat dan memimpin segmen masing-masing, namun pertumbuhan terhambat oleh perubahan lingkungan pasar. Pada titik ini, private equity memanfaatkan keunggulannya, beralih dari investasi finansial awal ke akuisisi pengendalian (buyout) yang lebih mendalam untuk mendorong pertumbuhan perusahaan.

Seperti yang pernah disampaikan Li Zhen, mitra FountainVest Capital, banyak industri di China masih memiliki tingkat konsentrasi yang rendah, sehingga menuntut perusahaan fokus pada strategi inti dan peningkatan efisiensi—bidang yang memang menjadi keunggulan dana buyout.

Ini juga menjadi cerminan perubahan zaman.

“Sepuluh tahun lalu, ekonomi tumbuh pesat, ekspektasi pengusaha sangat tinggi, hampir tak ada proyek yang bisa dibeli. Kini, seiring transformasi sisi penawaran, semakin banyak perusahaan menghadapi tantangan dan bersedia menyerahkan bisnisnya kepada dana buyout yang dapat dipercaya. Fenomena ini kian sering terjadi.”

Bagi private equity, inilah peluang. Sektor konsumsi, yang dikenal memiliki permintaan kaku dan sifat antarsiklus, justru semakin menarik di tengah volatilitas ekonomi.

Ada yang melangkah keluar, ada yang masuk mengambil posisi. Di satu sisi terjadi pelepasan, di sisi lain justru terjadi akumulasi.

接著讀