2026年9月12日

Bahkan TV 85 Inci Kini Hanya Sekitar ¥4.000 Lebih—Kenapa TV di Hotel Masih Saja Buruk?

Banyak orang yang masuk ke kamar hotel justru melewati langkah “lepas sepatu”. Koper dilempar ke lan...

Banyak orang yang masuk ke kamar hotel justru melewati langkah “lepas sepatu”. Koper dilempar ke lantai, suara dengung AC yang belum sepenuhnya “panas” mengisi ruangan, dan tangan sudah refleks meraih remote plastik di meja samping ranjang. Ini semacam ritual relaksasi yang tertanam dalam insting—bahkan kalau pada akhirnya TV hanya dipakai sebagai noise latar.

Remote itu terasa aneh sekaligus familiar saat digenggam. Permukaannya memantulkan kilap berminyak khas plastik tua—kilap yang “dipoles” oleh keringat dan minyak kulit dari entah berapa banyak tamu sebelumnya. Tulisan di tombol-tombolnya sudah aus tak terbaca; tombol volume dan channel pun sering harus ditebak. Saat ditekan, tidak ada sensasi klik yang tegas—yang terasa justru seperti hambatan lengket, seolah jari masuk ke lumpur.

Lalu Anda menatap layar, menunggu ia menyala. Responsnya begitu lambat sampai-sampai terasa seperti layar itu tersambung ke dimensi lain.

Ironisnya, hotel modern kini bisa terasa “magis”. Robot di lorong dapat naik lift sendiri untuk mengantar makanan, bahkan “menekan” lantai tanpa disentuh. Tirai menutup otomatis saat mendeteksi cahaya matahari. Namun di tengah semua teknologi itu, televisi tampak seperti peninggalan yang tidak relevan—sudut yang seakan pernah di-outsourcing, lalu disubkontrakkan berkali-kali, dan akhirnya dilupakan industri.

Ada kabar industri yang menarik: TV Sony—yang dulu dianggap simbol kelas atas—kini bahkan membuka pintu bagi TCL untuk masuk sebagai pemegang saham. Ini menegaskan betapa logika industri elektronik rumah sudah bergeser total: semua berlomba menuju kecerdasan, ekosistem, dan integrasi. Tapi di konteks hotel, TV seolah berhenti berevolusi. Dunia di luar berubah cepat, sementara TV hotel bertahan dalam “ruang hampa” yang membingungkan, penuh inefisiensi.

Sebagian tamu tak bisa menyalakannya. Sebagian lagi tak bisa mematikannya.

Akibatnya muncul jurang pengalaman yang besar: Anda membayar ribuan untuk tidur nyaman dan kamar mandi premium, tetapi justru merasa tak berdaya di depan objek paling mencolok di kamar—sebuah layar.

Mengapa TV menjadi bagian yang paling tidak sepadan dengan harga kamar?

Menyalakan TV hotel bisa butuh 11 langkah—
lebih ribet daripada kencan buta.

Banyak orang menyerah pada TV hotel sebenarnya dimulai dari rasa enggan terhadap remote.

Dalam daftar kebersihan hotel, remote adalah benda yang serba canggung. Ia tidak diganti setiap hari seperti seprai. Ia juga tidak diberi segel “sudah disanitasi” seperti toilet. Padahal, remote adalah benda yang paling sering disentuh—tanpa standar higienitas yang jelas.

Begitu Anda membayangkan tamu sebelumnya menekan tombol dengan jari berminyak sambil makan ayam goreng—atau membayangkan hal-hal yang lebih buruk—penghalang psikologis itu sulit ditembus. Reaksi “menghindar” ini begitu naluriah sehingga banyak orang memilih meringkuk di kasur menatap layar kecil ponsel, ketimbang menyentuh remote yang menguning.

Sebagian tamu yang sering menginap bahkan sudah punya strategi. Mereka membeli remote universal secara online, lalu setibanya di hotel mengontrol TV, AC, dan perangkat lain lewat Wi-Fi atau inframerah. Seperti candaan mereka: “Teknologi membuat orang jadi dewasa.”

Dari sudut pandang industri hotel, ada keyakinan yang cukup keras kepala: tamu sekarang tidak suka menonton TV, jadi tak perlu investasi. Beberapa data industri menunjukkan tingkat TV dinyalakan sudah turun ke kisaran 10%–30%. Namun, logika ini sebenarnya terbalik.

Kenyataannya, banyak orang berhenti menonton TV hotel karena gagal pada percobaan pertama—lalu menyerah selamanya.

Anda menekan tombol power dengan harapan tinggi, tetapi justru dipaksa menonton video promosi hotel yang tidak bisa dilewati, atau iklan lokal dengan gambar buram. Setelah masuk ke menu utama, tombol “kembali” malah tidak berfungsi. Anda mencari siaran live, tetapi opsinya terselip di menu level dua atau tiga. Di kolom ulasan buruk, keluhan yang sama muncul berulang: tidak bisa menyala, terlalu rumit, akhirnya malas mengurus.

Media arus utama pernah menyoroti bahwa di beberapa hotel, menonton TV bisa memerlukan sebelas langkah.

Ini bukan lagi hiburan—ini semacam ujian mental. Di rumah, menonton TV cukup satu tindakan. Bahkan dengan iklan pembuka, selesai dalam hitungan detik. Di hotel, prosesnya bisa memanjang menjadi tiga sampai lima menit yang melelahkan.

Waktu di kamar juga dibeli dengan uang. Sistem yang lambat dan tidak efisien pada dasarnya “makan” waktu hidup tamu.

Menjelang akhir tahun lalu, regulator mulai turun tangan untuk membenahi TV hotel, dengan target 14 juta kamar dapat “satu remote untuk menonton TV”. Intervensi setingkat kebijakan seperti ini menunjukkan satu hal: masalahnya sudah cukup serius—dan cukup membuat orang naik darah.

Jika Anda mencari “TV hotel” di media sosial, Anda akan menemukan lautan keluhan. Kalimat yang paling sering muncul: apa pun yang ditonton harus bayar. Ada orang yang membayar lebih untuk kamar “audio-visual”, namun menemukan katalog film lama bertahun-tahun—dan masih harus membeli keanggotaan lagi untuk mengaksesnya.

Ingin login ke akun platform streaming Anda sendiri? Sistemnya tidak saling terhubung. Kartu menonton hotel sering dihitung per hari—biayanya bisa setara langganan sebulan di luar. Lebih absurd lagi, beberapa hotel memecah paket menjadi “paket anak” dan “paket hiburan”, seolah setiap piksel harus dimonetisasi.

Di hotel bintang lima yang sudah lama berdiri, rasa “tidak nyambung” ini makin menyakitkan. Harga kamar ribuan, tapi TV-nya model lama: jangan berharap casting, sinyal pun seadanya. Kalau ingin menyambungkan perangkat pribadi, Anda harus membawa adaptor sendiri.

Pengalaman buruk ini secara konsisten mengirimkan pesan yang sama: TV ini tidak benar-benar ingin Anda menggunakannya.

Kadang ada momen yang terasa menyeramkan: Anda sedang mengantuk di tengah malam, TV tiba-tiba menyala sendiri. Atau kamar sebelah salah memproyeksikan layar ke TV Anda, dan tiba-tiba muncul karakter asing di layar, tanpa konteks.

Hotel tahu TV mereka buruk—
lalu mengapa tidak diganti?

Pemilik hotel sebenarnya paling paham betapa menyebalkannya TV itu. Namun mereka juga punya hitungan bisnis.

Bagi hotel, mengganti TV bukan sekadar membeli layar baru. Di baliknya ada proyek yang rumit: kabel sinyal yang tertanam di dinding, lisensi sistem set-top box, perluasan bandwidth, serta biaya operasional dan perawatan jangka panjang. Jika Anda menghitung biaya renovasi sistem TV untuk hotel menengah dengan ratusan kamar, nilainya sering kali mencapai skala jutaan.

Dari kacamata manajer hotel, itu pengeluaran yang “sakit”. Dengan anggaran yang sama, mengganti kasur agar lebih nyaman atau meng-upgrade shower menjadi thermostatic jauh lebih mungkin menghasilkan pujian di ulasan tamu. TV pun berubah menjadi pos yang bisa ditunda tanpa batas: selama masih menyala dan gambarnya belum hancur, biarkan ia bertahan.

Di balik penundaan ini tersimpan salah kaprah tentang kebiasaan hidup modern. Banyak manajemen hotel berasumsi: tamu bisnis pulang langsung tidur, tamu wisata seharian check-in lokasi, siapa yang sempat menatap layar? Ada juga yang menganggap TV hanya alat menciptakan “kebisingan” agar suara kamar sebelah tidak terdengar—“toh tidak ada yang benar-benar menonton.”

Padahal realitas sudah berubah total. Perjalanan dinas kini semakin terfragmentasi; banyak orang kembali ke kamar bukan untuk tidur, melainkan untuk mendapatkan ruang hampa—waktu sendiri tanpa interaksi. Fungsi TV pun sering bukan “menonton”, melainkan menciptakan latar emosional.

Bayangkan seseorang paruh baya setelah seharian penuh acara sosial. Ia membuka pintu kamar dan tidak membutuhkan film blockbuster. Ia hanya ingin layar besar berkedip, mengeluarkan suara normal kehidupan manusia, agar ia bisa “sah” rebahan di sofa selama setengah jam.

Inilah esensi “liburan versi hotel”: pindah tempat untuk melamun. Dan TV adalah pintu masuk termudah ke mode itu. Jika TV justru memunculkan kode QR untuk bayar atau sistemnya macet, benteng mental yang baru dibangun bisa runtuh seketika.

Ada pula faktor warisan masa lalu. Hotel bintang lima lama dulu bangga dengan sistem TV internal mereka—sepuluh tahun lalu itu memang canggih: cek cuaca, pesan makanan, lihat tagihan. Kini warisan itu menjadi beban: sinyal analog, sistem ganda, tumpukan set-top box yang semrawut, ditambah iklan dan skema bagi hasil membership untuk mengejar pendapatan. Pada akhirnya, terbentuklah “monster bertumpuk” yang tidak ada yang berani membongkar.

Menariknya, beberapa jaringan hotel domestik bergerak lebih cepat. Hotel seperti Ji Hotel atau Atour, sejak awal menolak sistem rumit yang usang. Mereka memahami bahwa yang dibutuhkan tamu muda hanyalah fitur casting yang sederhana dan mulus—bukan layanan hotel yang serba “wah” tapi tidak dipakai.

Sebaliknya, banyak hotel internasional lama bergerak lambat. Mereka masih mempertahankan logika operasi yang penuh konfirmasi berulang, seakan itu ritual untuk menjaga “martabat merek”. Namun kesan yang tertinggal bagi tamu justru: arogan dan sulit dipakai.

Pada akhirnya, TV hotel terus buruk karena selama bertahun-tahun industri tidak pernah benar-benar menghitung “angka ekonomi” yang membuat pembaruan menjadi mutlak. Semua menunggu orang lain bergerak dulu, atau menunggu layar itu rusak dengan sendirinya.

Kelalaian terhadap “waktu kosong” ini membuat TV berubah menjadi batu uji dalam pengalaman menginap.

TV yang diremehkan
justru adalah tolok ukur pengalaman paling jelas

Jika diamati, detail kecil yang membuat frustrasi di hotel tidak hanya TV. Dispenser air di lobi yang selalu beruap tapi rasa airnya seperti plastik; mesin kopi yang terlihat premium namun entah kehabisan biji, entah “tangki penuh”, intinya tak berniat menyeduhkan secangkir pun; belum lagi robot di lorong yang canggung—menyapa dengan suara elektronik ceria sambil tanpa rasa bersalah melindas ujung kaki Anda di depan lift.

Semua itu punya satu kesamaan: dibuat agar hotel tampak modern, tetapi dalam penggunaan nyata justru menciptakan gesekan.

TV adalah yang paling menonjol. Ia memperlihatkan blind spot manajemen hotel: mereka sering tidak memahami apa yang dilakukan tamu saat “tidak melakukan apa-apa” di kamar.

Hari ini, hotel telah memaksimalkan tiga hal: tidur, mandi, dan sarapan. Kasur harus merek terbaik, shower harus punya fitur pijat, biji kopi sarapan harus punya “asal daerah”. Namun di luar kebutuhan inti itu, pintu masuk paling langsung ke rasa nyaman di kamar sebenarnya adalah TV.

Saat Anda selesai mandi, mengenakan piyama, lalu menjatuhkan diri ke kasur, Anda tidak membutuhkan sistem operasi yang super canggih. Anda butuh medium yang membuat Anda bisa relaks secepat mungkin.

Mengabaikan waktu kosong ini membuat kamar mahal terasa hampa. Anda membayar ribuan, namun saat paling ingin rebahan justru dibuat emosi oleh remote. Frustrasi ini bisa menetralkan seluruh kesan positif yang dibangun oleh seprai dan kasur premium.

Kabar baiknya, perubahan mulai terjadi—meski terlihat agak “dipaksa”. Dengan dorongan kebijakan, sebagian hotel mulai menyadari: daripada sibuk mengejar bagi hasil membership yang tidak efektif, lebih baik membuat siaran live dan casting satu klik berjalan mulus. Beberapa hotel baru bahkan sudah membuang set-top box yang merepotkan, dan antarmukanya sesederhana kertas kosong.

Mereka mungkin tidak menulisnya di brosur promosi. Namun setiap tamu akan merasakannya saat pertama kali memegang remote—rasa dihargai yang sudah lama hilang.

Bagi generasi muda, TV yang berfungsi baik mengirim sinyal yang sangat jelas: hotel ini paham Anda akan berhenti sejenak di sini, dan paham Anda tidak butuh pengarah konsumsi atau “sosialisasi” yang dipaksakan. Kesesuaian tanpa kata ini tidak perlu dipromosikan besar-besaran—ia berubah menjadi loyalitas merek yang halus namun kuat.

Singkatnya, ketika kasur dan AC sudah makin seragam di mana-mana, TV—perangkat pinggiran yang lama diabaikan—justru bisa menjadi pembeda. Mungkin bukan alasan utama Anda memilih sebuah hotel, tetapi sangat mungkin menjadi penentu apakah perjalanan dinas berikutnya Anda akan langsung memesan ulang, atau memilih jalan lain.

Keterbelakangan TV hotel pada dasarnya lahir dari kebiasaan industri: “yang penting cukup”. Banyak yang berpikir, toh tidak ada yang menonton, jadi asal jadi pun tidak masalah. Namun ketika semua aspek pengalaman akhirnya sejajar, TV yang dulu sekadar pajangan mungkin benar-benar akan kembali menjadi “jiwa” sebuah kamar.

接著讀

WWDC Berakhir Lesu: Apple Kehilangan USD 36,8 Miliar dalam Nilai Pasar Akibat Minimnya Inovasi AI

WWDC 2025, yang sebelumnya diharapkan menjadi ajang unjuk kekuatan AI Apple, ternyata mengecewakan investor dan pengguna. Tidak ada pembaruan signifikan pada Siri atau fitur AI transformatif. Fokus utama justru pada desain UI dan perubahan penamaan OS. Saham Apple anjlok setelah acara, kehilangan nilai pasar sebesar USD 36,8 miliar. Di Tiongkok, pemotongan harga agresif menunjukkan Apple sedang berjuang mempertahankan dominasinya di pasar premium.

458 天前