2026年9月12日

【Kuda Merah Melukis Panorama Gemilang】Tahun Kuda, Malaysia tancap gas mengejar negara tetangga—kapan “unicorn” Malaysia bisa melaju “bak kawanan kuda berlari”?

(Kuala Lumpur, 15 Feb) Dalam mitologi, “unicorn” melambangkan kemurnian dan kekuatan. Namun di dunia...

(Kuala Lumpur, 15 Feb) Dalam mitologi, “unicorn” melambangkan kemurnian dan kekuatan. Namun di dunia teknologi modern, unicorn merujuk pada startup dengan valuasi lebih dari USD 1 miliar—sebuah “lencana” prestisius yang diidamkan para pendiri. Menjelang Tahun Kuda 2026, semangat “kecepatan” dan “terobosan” turut memunculkan pertanyaan: apakah ekosistem inovasi Malaysia siap melahirkan lebih banyak unicorn, khususnya di jalur kecerdasan buatan (AI)?

Dengan tema tersebut, Oriental Finance mewawancarai Lee Khai Chong, salah satu pendiri Petaling ASEAN–Technology Innovation Hub (HATI) sekaligus Anggota Parlemen Petaling Jaya, untuk membahas bagaimana Malaysia dapat memanfaatkan AI dan kerja sama regional demi mendorong perusahaan lokal berkembang lebih jauh.

Lee menyatakan Malaysia memang sudah memiliki unicorn, misalnya CARSOME. Namun untuk membangun “unicorn AI murni”, Malaysia masih menghadapi kekurangan beberapa prasyarat penting—terutama keterbatasan talenta.

Ia menekankan bahwa AI telah menjadi industri strategis dalam persaingan negara-negara besar. Amerika Serikat dan Tiongkok hampir pasti akan melahirkan lebih banyak unicorn. Agar Malaysia bisa mengambil peluang, Lee menilai Malaysia perlu “meminjam kekuatan” melalui kolaborasi, termasuk bersama ASEAN, dan fokus pada skenario penggunaan yang lebih spesifik agar memiliki keunggulan yang berbeda.

Lee juga menilai bahwa dibanding Vietnam, Singapura, bahkan Indonesia, jumlah unicorn Malaysia masih jauh dari memadai. Ini mencerminkan dorongan inovasi yang belum cukup kuat serta ekosistem sumber daya yang masih perlu diperkaya. Karena itu, ia menyarankan Malaysia belajar dari pengalaman negara lain, misalnya bagaimana perusahaan teknologi Tiongkok melakukan lokalisasi teknologi, sekaligus menempatkan Malaysia sebagai “batu loncatan” untuk memperluas solusi inovasi ke ASEAN maupun pasar global.

Terkait bagaimana AI dapat “memberi sayap” pada keuangan tradisional dan ekonomi riil, Lee mengatakan ini merupakan tema besar karena hampir semua industri akan terdampak AI. Ia memperingatkan bahwa dampak AI bersifat tanpa batas negara, dan bisnis yang tidak mengadopsi AI berisiko kehilangan daya saing bahkan tersingkir.

“Jika Anda tidak menggunakan AI, Anda akan tersisih,” ujarnya, sambil menyerukan perusahaan agar memahami perkembangan AI—baik ancaman maupun peluang—untuk melangkah lebih jauh dari para pesaing.

Di akhir wawancara, Lee turut menyampaikan ucapan Tahun Baru kepada pembaca, mendoakan rezeki melimpah, keluarga aman sejahtera, serta kesuksesan di Tahun Kuda. Ia juga berharap Malaysia tetap damai dan stabil, serta UMKM memiliki lingkungan pertumbuhan yang lebih mantap.

接著讀