2026年9月10日

Ah Niu hadir dalam upacara penghormatan untuk Huangdi di Shaanxi, mewakili masyarakat Tionghoa perantauan dan merasa bangga dapat mempersembahkan bunga

(Shaanxi, 9 April) Penyanyi asal Malaysia Ah Niu diundang ke Shaanxi, Tiongkok, untuk menghadiri upa...

(Shaanxi, 9 April) Penyanyi asal Malaysia Ah Niu diundang ke Shaanxi, Tiongkok, untuk menghadiri upacara Qingming 2026 bagi memperingati Kaisar Kuning. Ia mewakili komunitas Tionghoa perantauan untuk mempersembahkan karangan bunga, dan menyebut pengalaman ini sebagai “panggung paling berbeda” sepanjang kariernya—penuh ketegangan sekaligus sangat menyentuh.

Upacara tersebut berlangsung pada 5 April di Makam Kaisar Kuning, diselenggarakan oleh berbagai lembaga resmi dengan kehadiran pejabat pusat dan daerah. Acara dimulai pada pagi hari dengan iringan tabuhan genderang dan lonceng, menciptakan suasana yang khidmat.

Ah Niu juga mengikuti kegiatan penanaman pohon di kawasan hutan perantau, di mana ia menanam pohon cemara sebagai simbol pelestarian budaya. Ia mengaku sulit tidur pada malam sebelumnya karena gugup, mengingat upacara ini sangat berbeda dari konser atau acara hiburan. Dengan mengenakan pakaian formal dan selempang kuning, ia berdiri di depan Aula Xuanyuan untuk mengikuti prosesi.

Salah satu momen utama adalah segmen “Naga Terbang di Langit China,” di mana seekor naga emas sepanjang 56 meter meluncur ke udara, menciptakan pemandangan yang sangat megah. “Saat itu saya merasa sangat bangga hingga hampir meneteskan air mata,” katanya.

Selain itu, ia juga mengunjungi area makam dan terkesan dengan pohon cemara kuno yang diyakini berusia lebih dari 5.000 tahun. Ia menyatakan bahwa sebelumnya ia hanya mengenal Kaisar Kuning melalui buku dan cerita, namun pengalaman langsung ini memberinya pemahaman yang lebih nyata tentang sejarah dan waktu.

Sebagai generasi keempat keturunan Tionghoa di Malaysia, Ah Niu menegaskan bahwa dapat mewakili diaspora Tionghoa merupakan sebuah kehormatan besar. Ia berencana menceritakan pengalaman ini kepada keluarga dan leluhurnya, sebagai simbol kebanggaan bersama.

Ia menggambarkan perjalanan ini sebagai “perjalanan menemukan kembali akar budaya,” dan menambahkan, “Menanam pohon membuat saya memikirkan tentang kelangsungan—seperti cara untuk menjaga akar tetap hidup.” Pengalaman ini memperdalam pemahamannya terhadap identitas budaya dirinya.

接著讀