2026年9月10日

FBI Gerebek Kediaman CEO Polymarket

FBI menggerebek CEO Polymarket, Shanye Coplan, dan menyita perangkat elektronik miliknya.

Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) dilaporkan telah melakukan penggerebekan di kediaman CEO Polymarket, Shayne Coplan, di New York.

Menurut laporan dari New York Post pada Rabu (13/11), penggerebekan berlangsung pada pukul 6 pagi waktu setempat. Coplan, yang saat itu masih terlelap, dibangunkan oleh petugas penegak hukum yang segera meminta akses ke perangkat elektroniknya. Hingga kini, alasan resmi penggerebekan belum diumumkan, tetapi seorang sumber menduga tindakan ini bermotif politik.

Sumber tersebut menyebut operasi ini sebagai “teater politik yang buruk,” dan menilai bahwa penggerebekan sebenarnya bisa dihindari. Menurutnya, FBI dapat memperoleh perangkat yang dimaksud melalui jalur hukum, tetapi memilih cara ini untuk menciptakan sensasi media.

Hal ini dikaitkan dengan ramalan platform Polymarket yang memperkirakan kemenangan Donald Trump atas Wakil Presiden Kamala Harris dalam Pemilu 2024, berbeda dengan hasil survei tradisional.

Polymarket dikenal sebagai platform prediksi yang memungkinkan publik memahami berbagai peristiwa penting, termasuk pemilu, tanpa memungut biaya atau mengambil posisi tertentu dalam perdagangan. Data yang dihasilkan pun terbuka untuk umum sebagai bentuk layanan publik.

“Polymarket adalah platform netral dan non-partisan. Kami hanya menyediakan wawasan berbasis data untuk publik, tanpa bias,” ungkap narasumber dari perusahaan tersebut.

CEO Polymarket Buka Suara

Pasca penggerebekan, Coplan memberikan tanggapan melalui media sosial X. Dalam salah satu unggahannya, ia menyindir dengan pesan, “ponsel baru, siapa ini?” dan menceritakan peristiwa tersebut secara terpisah.

Coplan juga menyampaikan kritik terhadap pemerintah saat ini yang dianggap menggunakan kekuasaan untuk menjatuhkan perusahaan yang dinilai terkait dengan lawan politik.

“Kami berkomitmen untuk tetap non-partisan. Para petahana seharusnya melakukan introspeksi diri dan menyadari bahwa pendekatan pro-bisnis mungkin dapat mengubah nasib mereka dalam pemilu ini,” tutur Coplan.

Polymarket telah menjadi populer selama Pemilu Presiden AS, dengan nilai taruhan yang mencapai miliaran dolar AS. Trader Polymarket secara konsisten memperkirakan Donald Trump sebagai pemenang, yang terbukti akurat.

Polymarket sebelumnya menjadi sorotan setelah mencapai kesepakatan dengan Commodity Futures Trading Commission (CFTC) pada 2022. Berdasarkan perjanjian tersebut, Polymarket diwajibkan untuk memblokir akses layanan bagi warga Amerika Serikat.

Namun, laporan dari CoinDesk mengungkapkan bahwa beberapa pengguna Amerika tetap dapat mengakses platform ini melalui Virtual Private Network (VPN), yang memungkinkan mereka menghindari pembatasan tersebut. Juru bicara CFTC menegaskan bahwa Polymarket harus mematuhi ketentuan kesepakatan, termasuk larangan menerima bisnis dari warga AS.

接著讀