2026年9月10日

Perang Rusia-Ukraina Makin Panas: Bisakah “Hitungan Mundur Dua Minggu” Trump Hasilkan Perdamaian?

Saat perang Rusia-Ukraina semakin sengit, Presiden AS Donald Trump kembali meluncurkan “hitungan mun...

Saat perang Rusia-Ukraina semakin sengit, Presiden AS Donald Trump kembali meluncurkan “hitungan mundur dua minggu.” Ia menyatakan bahwa dalam dua minggu akan jelas apakah negosiasi damai bisa maju. Saat itu, ia akan memutuskan apakah menjatuhkan “sanksi besar-besaran” pada Rusia, atau mundur total dengan alasan “ini perang kalian sendiri.” Namun, melihat kondisi medan perang saat ini, timer Trump lebih mirip alat tekanan politik ketimbang tenggat perdamaian nyata.

⚔️ Pertempuran Memanas, Negosiasi Buntu

Beberapa hari terakhir, pertempuran justru makin brutal. Pada 21 Agustus, Rusia menyerang pabrik elektronik milik AS di Ukraina barat. Keesokan harinya, Kyiv membalas dengan menghantam pipa minyak Rusia. Gagasan Trump tentang “berperang sambil berunding” kini berubah menjadi “semakin keras perang, semakin kecil peluang perundingan.”

Trump berupaya mempertemukan Putin dan Zelensky, namun isu-isu utama belum terselesaikan: jaminan keamanan Ukraina, keanggotaan NATO, serta kompromi wilayah. Rusia menuduh Zelensky menolak semua usulan Trump, sementara Ukraina menilai Moskow justru menghindari negosiasi.

📝 Empat Syarat Putin, Kyiv Tetap Menolak

Dalam pertemuan di Alaska, Putin menyodorkan empat syarat: penarikan penuh pasukan Ukraina dari Donbas; pembekuan garis depan saat ini di Kherson dan Zaporizhzhia; Ukraina tidak boleh bergabung dengan NATO; dan tidak ada pasukan penjaga perdamaian Barat di wilayah Ukraina. Dibandingkan tuntutan tahun lalu agar Kyiv melepaskan empat wilayah sepenuhnya, ini sudah dianggap kompromi. Namun Ukraina tetap menilainya sebagai “penyerahan diri.”

Meski begitu, sikap Zelensky tampak mulai melunak. Dalam pertemuannya dengan Trump, ia tidak sepenuhnya menolak gagasan “pertukaran wilayah,” bahkan menyebut kemungkinan skema “pertukaran proporsional.” Penasihat presiden juga menyiratkan opsi membekukan perang di garis depan saat ini, meski Ukraina menegaskan tidak akan secara hukum mengakui kontrol Rusia.

🛡️ Jaminan Keamanan: AS dan Eropa Tidak Sepakat

Selain isu wilayah, tuntutan terbesar Ukraina adalah jaminan keamanan jangka panjang. Dalam pertemuan multilateral baru-baru ini, istilah “jaminan keamanan” diulang hampir 20 kali. Trump menegaskan AS tidak akan mengirim pasukan darat, hanya mungkin memberi dukungan udara untuk “koalisi sukarela.” Ia juga kembali menutup pintu NATO bagi Ukraina.

Namun Eropa sendiri kesulitan. Kecuali Inggris dan Prancis, sebagian besar negara enggan mengirim pasukan. Macron mendesak agar Eropa turun tangan, tetapi PM Italia Meloni membalas: “Rusia punya 1,3 juta tentara. Berapa yang bisa kita kirim? Dan jika satu prajurit kita gugur, apa kita pura-pura tak terjadi apa-apa, atau harus merespons?” Rusia sudah berulang kali memperingatkan bahwa masuknya pasukan NATO ke Ukraina bisa memicu perang yang lebih luas, bahkan “Perang Dunia III.”

⏳ Hitungan Mundur Trump: Tekanan atau Ancaman Kosong?

Pada 22 Agustus, Trump kembali menegaskan bahwa ia akan memutuskan dalam dua minggu apakah menghukum Rusia atau lepas tangan. Banyak analis menilai ini lebih sebagai tekanan terhadap Ukraina ketimbang Rusia. Seorang mantan pejabat pemerintah Trump mengatakan: “Trump percaya Rusia unggul, sehingga Kyiv harus mengalah. Dan karena Ukraina sangat bergantung pada bantuan AS, ia bisa memaksa mereka menerima kesepakatan.”

Faktanya, waktu lebih menguntungkan Rusia. Dengan pasukan lebih banyak dan sumber daya lebih besar, Moskow mampu bertahan lebih lama. Daily Telegraph menulis bahwa rencana perdamaian Trump mulai retak—memberikan Rusia lebih banyak waktu, sementara Ukraina semakin terdesak.

接著讀