2026年9月10日

AS, Israel, dan Italia Serang Prancis: Macron Terjebak dalam Konflik Diplomatik, Blok Barat Kian Retak

Presiden Prancis Emmanuel Macron belakangan ini menjadi sasaran kritik dari Amerika Serikat, Israel,...

Presiden Prancis Emmanuel Macron belakangan ini menjadi sasaran kritik dari Amerika Serikat, Israel, dan Italia. Paris terjerat dalam serangkaian gesekan diplomatik yang berkaitan dengan konflik Palestina–Israel serta perang Rusia–Ukraina, mencerminkan retaknya kesatuan di dalam blok Barat.

Pengakuan Palestina Picu Perselisihan Prancis–AS–Israel

Keputusan Prancis untuk mengakui Negara Palestina memicu reaksi keras. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menuduh Macron “menyuburkan antisemitisme.” Istana Élysée langsung membalas, menyebut tuduhan itu “keji dan salah.”
Tak lama kemudian, Amerika Serikat ikut campur. Duta Besar AS untuk Prancis, Jared Kushner, mengkritik Prancis karena “gagal menekan kekerasan antisemit.” Kementerian Luar Negeri Prancis lalu memanggil Kushner, menegaskan bahwa komentarnya melanggar Konvensi Wina tentang Hubungan Diplomatik dan merupakan bentuk campur tangan dalam urusan dalam negeri Prancis.

Pengamat menilai, langkah Prancis menimbulkan guncangan lebih besar dibandingkan sikap serupa dari Spanyol atau Inggris, karena bobot diplomatik Paris lebih besar di kancah global. Reaksi keras AS dan Israel tidak hanya mencerminkan faktor geopolitik, tetapi juga keterkaitan personal. Kushner, yang ditunjuk Trump dan memiliki hubungan erat dengan Israel, menambah sensitivitas masalah ini.

Italia Sindir Prancis soal Pasukan ke Ukraina

Dalam isu Rusia–Ukraina, Prancis dan Italia juga bersitegang. Setelah Paris membuka kemungkinan pengerahan pasukan Eropa ke Ukraina, Wakil Perdana Menteri Italia Matteo Salvini mengejek Macron: “Kalau dia ngotot, biar dia pergi sendiri. Tidak ada satu pun tentara Italia yang akan dikirim.”
Prancis segera memanggil duta besar Italia, mengecam pernyataan itu sebagai “tidak dapat diterima” dan bertentangan dengan semangat kerja sama kedua negara.

Menurut pengamat, pemerintahan Italia saat ini yang dipimpin kelompok populis sayap kanan cenderung pro-Rusia. Penolakannya terhadap kebijakan Prancis mencerminkan kombinasi faktor politik domestik dan upaya menyesuaikan diri dengan garis kebijakan luar negeri AS.

Blok Barat yang Kian Terbelah

Kedua insiden ini menegaskan bahwa blok Barat tengah menghadapi retakan mendalam:

  • Perbedaan AS–Eropa: AS tetap mendukung Israel secara kuat, sementara Prancis berupaya menempuh jalur independen.
  • Retakan dalam UE: Perselisihan Prancis–Italia soal Ukraina menunjukkan lemahnya suara tunggal Uni Eropa.
  • Batas politik domestik: Macron yang terjepit di parlemen memilih menggunakan diplomasi agresif untuk memperkuat pengaruh internasional.

Para analis menilai, diplomasi ofensif Macron memang meningkatkan profil Prancis, tetapi juga memperburuk hubungan dengan sekutu. Perbedaan nilai dan kepentingan di dalam blok Barat kini makin menganga, menambah ketidakpastian pada hubungan internasional.

Kesimpulan:
Mulai dari pengakuan Palestina hingga wacana pengiriman pasukan ke Ukraina, kebijakan Macron membuat Prancis berhadapan langsung dengan sekutunya. Kritik dari AS, Israel, dan Italia bukan sekadar gesekan biasa—melainkan tanda nyata retaknya blok Barat.

接著讀