2026年9月10日

Strategi Bajak Talenta Mulai Mandek? Meta Siap Gaet Model AI Eksternal

30 Agustus – Laporan oleh Zhu Ling, Sci-Tech Innovation Board Daily Mark Zuckerberg kini menyadari s...

30 Agustus – Laporan oleh Zhu Ling, Sci-Tech Innovation Board Daily

Mark Zuckerberg kini menyadari satu hal penting: untuk membangun aplikasi AI kelas dunia, gaji tinggi dan perekrutan talenta terbaik saja tidak cukup. Kunci kemenangan justru terletak pada pemanfaatan teknologi AI mutakhir—apa pun sumbernya.

Awal bulan ini, laporan analisis mengungkap bahwa Zuckerberg seakan “mengibarkan bendera putih”, di mana Meta mulai mundur dari persaingan langsung di area inti ChatGPT milik OpenAI.

Kini, kabar terbaru membawa kejutan baru—Meta disebut tengah menjajaki kerja sama dengan dua rival lamanya, OpenAI dan Google, demi menyuntikkan kemampuan AI yang lebih bertenaga ke dalam ekosistem aplikasinya.

Membuka Pintu untuk Kolaborasi Eksternal

Tim manajemen Meta Superintelligence Lab telah membahas kemungkinan penggunaan model Google Gemini atau OpenAI di Meta AI—platform chatbot milik Meta—untuk menjawab pertanyaan pengguna dan memperkuat fitur AI lain di aplikasi media sosial Meta. Jika rencana ini terwujud, Meta akan secara langsung mengintegrasikan teknologi pesaing ke dalam produk andalannya.

Juru bicara Meta menegaskan bahwa perusahaan mengadopsi strategi menyeluruh untuk memimpin di bidang AI, meliputi pengembangan internal, kolaborasi dengan pihak eksternal, dan pemanfaatan teknologi open-source.

Langkah ini sebenarnya sudah mulai dilakukan. Dalam alat internalnya, Meta telah menyediakan pilihan model dari Anthropic dan OpenAI untuk asisten pemrogramannya, sehingga karyawan bisa memilih model sesuai kebutuhan. Selain itu, asisten produktivitas internal lainnya juga telah terintegrasi dengan teknologi OpenAI.

Tak berhenti di situ, minggu lalu Chief AI Officer Meta, Alexander Wang, mengumumkan bahwa Meta telah menandatangani perjanjian lisensi dengan Midjourney, perusahaan AI pembuat gambar dan video, untuk memanfaatkan teknologinya.

Dilema Strategis Zuckerberg

Langkah menuju kerja sama eksternal ini menyoroti dilema besar yang dihadapi Zuckerberg. Walau Meta memiliki pengaruh besar di dunia media sosial, di arena AI yang bergerak cepat, posisinya masih belum sekuat para pemimpin industri—ditandai dengan rasa urgensi dan sikap yang kadang reaktif.

Awal tahun ini, pengembangan model AI andalan Meta, Behemoth, menemui hambatan besar sehingga peluncurannya berkali-kali tertunda. Zuckerberg kabarnya kecewa dengan kinerja tim Llama 4 yang dinilai gagal membawa terobosan signifikan bagi Behemoth.

Sebagai respons, ia melakukan perombakan besar di tim AI, merekrut mantan CEO Scale AI Alexander Wang dan mantan CEO GitHub Nat Friedman untuk memimpin Superintelligence Lab—dengan dukungan investasi miliaran dolar.

Meta juga agresif membajak talenta AI kelas atas dari Apple, Anthropic, xAI, Google, dan OpenAI, dengan tujuan mempersempit jarak dengan para pemimpin industri.

Saat ini, Meta tengah mengembangkan model generasi berikutnya, Llama 5, yang ditargetkan mampu bersaing langsung dengan GPT dari OpenAI dan Gemini dari Google. Namun, proses pengembangan sebesar ini membutuhkan waktu.

Tantangan yang Harus Segera Diatasi

Meta AI menghadapi tantangan mendesak: meski memiliki basis pengguna bulanan mencapai 1 miliar orang, hanya sekitar 10% yang berinteraksi setiap hari. Sebelum Llama 5 siap diluncurkan, Meta perlu langkah sementara untuk meningkatkan daya saing produknya—dan mengadopsi model AI eksternal mungkin menjadi pilihan paling realistis saat ini.

接著讀