2026年9月10日

Bagaimana Membantu Anak yang Menghadapi Ajal untuk Menyadari Betapa Berharganya Hidup

Halo semua! Saya sangat senang bisa kembali hadir di Yixi. Sepuluh tahun lalu, saya pernah berdiri d...

Halo semua! Saya sangat senang bisa kembali hadir di Yixi. Sepuluh tahun lalu, saya pernah berdiri di panggung ini untuk pertama kalinya, dan hari ini adalah kesempatan kedua. Barusan saya mendengarkan pidato penuh inspirasi dari Kepala Sekolah Li Guo, dan saya berpikir—jika 60% kepala sekolah di pendidikan dasar di Tiongkok seperti beliau, mungkin topik yang akan saya bawakan hari ini sudah tidak perlu lagi dibahas.

Kenapa Topik Ini Sulit Dibicarakan

Awalnya, fokus penelitian saya banyak berkaitan dengan kriminologi. Saya mempelajari psikologi pelaku kejahatan—banyak di antara mereka tumbuh tanpa keluarga, tanpa pengawasan, berpindah-pindah tempat sambil melakukan tindak kriminal. Menariknya, meski mereka menyakiti orang lain, hampir tak ada yang memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Karena itu, topik bunuh diri awalnya tidak pernah masuk dalam riset saya.

Semua berubah ketika saya mulai melihat fakta bahwa kasus bunuh diri terjadi pada usia yang semakin muda. Dulu, bunuh diri lebih banyak ditemukan pada mahasiswa. Sekarang, kasus yang memilukan juga terjadi pada anak-anak. Hal ini membuat saya mulai memikirkan satu topik yang sangat menantang: pendidikan kehidupan—bagaimana mengajarkan nilai dari sebuah kehidupan.

Masalahnya, pendidikan kehidupan ini seperti pendidikan seks—sulit dijelaskan dengan jelas, dan sebaiknya disampaikan sebelum benar-benar dibutuhkan. Kita berbicara tentang sesuatu yang tampaknya jarang terjadi, tetapi kenyataannya bisa menimpa siapa saja, di mana saja, kapan saja. Banyak orang tua berkata kepada saya, “Anak ini terlihat begitu ceria dan baik, tapi entah mengapa tiba-tiba memutuskan mengakhiri hidupnya.”

Dan bukan hanya bunuh diri. Belakangan, kita juga sering mendengar kasus kejahatan kejam yang dilakukan oleh anak di bawah umur—misalnya kasus pembunuhan remaja di Handan. Baik bunuh diri maupun pembunuhan, sering kali hanya terjadi karena satu keputusan sesaat—didorong oleh emosi seperti marah, jengkel, dendam, perhitungan, atau ingin membuktikan diri. Saat itu, pelaku mungkin nyaris tak merasakan apa-apa, tetapi akibatnya membawa kesedihan yang tak berujung bagi orang lain.

Kalau saja kita bisa mencegah atau mengurangi kasus seperti ini, siapa yang tahu kehidupan anak-anak ini akan berkembang menjadi seperti apa? Karena itulah—meskipun sulit—topik ini tetap harus dibahas.

Mengajarkan “Hidup” kepada Mereka yang Belum Mengerti “Mati”

Salah satu tantangan terbesar adalah ini: kita ingin mengajarkan betapa berharganya hidup, tetapi mau tak mau kita harus membicarakan tentang kematian—termasuk kematian anak, baik karena bunuh diri maupun akibat orang lain. Bagaimana cara menjelaskan kepada anak yang belum matang cara berpikirnya? Bagaimana melampaui kalimat sederhana seperti: “Hidup itu berharga. Hidup hanya sekali. Jadi, hargailah hidupmu.”

Sebagai seorang psikolog, saya merujuk pada penelitian para tokoh seperti Freud, yang mengatakan manusia memiliki dua insting dasar: insting hidup dan insting mati. Saya dulu bertanya-tanya, mengapa mati bisa menjadi insting? Freud menjelaskan, manusia secara alami membutuhkan dan mampu mencintai. Tetapi ada sebagian orang yang, karena latar belakang tertentu, kehilangan kemampuan untuk mencintai. Yang muncul justru rasa benci, amarah, kekerasan—yang bisa diarahkan keluar (melukai orang lain) atau ke dalam (melukai diri sendiri).

Insting Mati Tidak Perlu Dilatih; Insting Hidup Harus Dibangkitkan

Sejak bayi, manusia punya insting untuk bertahan hidup, tetapi belum tentu punya kemampuan untuk mencintai. Cinta perlu dibangkitkan dan dilatih. Sebaliknya, insting mati sangat mudah muncul—cukup dengan amarah atau putus asa sesaat.

Itulah mengapa kasih sayang yang konsisten, penuh perhatian, dan sabar sangat penting di masa awal kehidupan. Cinta bisa meredam dorongan destruktif dan memperkuat ikatan yang membuat hidup layak dijalani. Namun, cinta saja tidak cukup—anak perlu belajar cara mencintai melalui pengalaman, empati, dan usaha.

Peran Kasih Sayang Keluarga—dan Kesalahannya yang Sering Terjadi

Sayangnya, tidak semua bentuk kasih sayang berkualitas baik. Ada dua pola yang sering saya lihat:

  1. Kasih Sayang yang Diganti Materi – Orang tua yang mampu secara finansial kadang menghindari repotnya mendidik anak, lalu mengganti peran itu dengan uang atau barang. Anak mungkin pintar di sekolah, tapi emosinya hampa dan kurang empati.
  2. Kasih Sayang Otoriter “Demi Kebaikanmu” – Orang tua mengatur seluruh hidup anak dengan dalih demi kebaikannya, tanpa memberi ruang untuk memilih. Anak tumbuh merasa terjebak dan kehilangan semangat hidup.

“Tidak Rela Melepas” adalah Inti Pendidikan Kehidupan

Saya percaya, rasa tidak rela melepas—baik terhadap orang, hobi, benda berharga, karya, maupun kenangan indah—adalah benteng terkuat melawan bunuh diri dan kekerasan. Semakin banyak hal yang anak sayangi, semakin sulit baginya untuk meninggalkan hidup.

Karena itu, pendidikan kehidupan bukan sekadar mengatakan “Hidup itu berharga,” tetapi membangun kehidupan yang penuh makna melalui hubungan sehat, minat yang mendalam, pencapaian, dan pengalaman indah.

Membangun “Sistem Rem” di Dalam Diri

Manusia seperti kendaraan: mesinnya adalah keinginan dan motivasi, setirnya adalah pengetahuan dan penilaian, dan remnya adalah kemampuan mengendalikan diri. Sayangnya, pendidikan kita banyak fokus pada mesin dan setir, tapi melupakan rem.

Pendidikan kehidupan harus menanamkan mekanisme rem otomatis di dalam diri—yang saya sebut rasa hormat dan takut yang sehat. Takut menyakiti orang yang kita cintai, takut merusak sesuatu yang berharga, takut menimbulkan kerusakan yang tak bisa diperbaiki.

Langkah Nyata untuk Orang Tua dan Pendidik

  • Beri Peringatan dan Batas Sejak Dini – Aturan tegas di masa kecil penting, asalkan dibangun di atas hubungan penuh kasih dan saling menghargai.
  • Pendidikan Aturan di Sekolah – Sejak SD, ajarkan prinsip hormat, empati, dan anti-kekerasan.
  • Latih Rasa Tidak Rela Melepas – Misalnya, tulis daftar orang dan benda yang berharga, lalu bayangkan kehilangan mereka.
  • Kembangkan Keterampilan Emosional – Dorong anak untuk ikut kegiatan sosial, kerja sukarela, dan berinteraksi lintas usia.
  • Bangun Cinta Dua Arah – Orang tua juga perlu menerima cinta dari anak, berbagi perasaan, dan mendengar pendapat mereka.
  • Jaga Kesehatan Menyeluruh – Pastikan anak cukup olahraga, tidur, bermain di luar, dan punya keterampilan atau hobi yang membangun kepercayaan diri.
  • Bangun Obrolan Terbuka – Diskusikan berbagai hal secara rutin dan bermakna, perluas wawasan anak lewat buku, pengalaman, dan percakapan.

Penutup

Setiap kehidupan punya potensi untuk bersinar—asalkan ia tetap hidup. Tugas kita sebagai orang tua, pendidik, dan anggota masyarakat adalah memastikan hidup anak-anak diisi dengan cukup cinta, makna, dan keindahan, sehingga mereka secara naluriah memilih untuk menjaganya.

接著讀