2026年9月10日

Apa Keuntungan Terbesar di Era Kita Saat Ini?

Beberapa waktu lalu, ada satu kalimat yang benar-benar membekas di benak saya: “Keuntungan terbesar ...

Beberapa waktu lalu, ada satu kalimat yang benar-benar membekas di benak saya: “Keuntungan terbesar di zaman ini adalah biaya untuk ‘rebahan’ bagi orang biasa kini berada di titik terendah sepanjang sejarah.” Secara logis, saya sulit membantah. Saat ini saya bisa duduk sambil menyesap milk tea seharga 3 yuan yang diantar lewat Taobao Flash Delivery, sambil menikmati ayam goreng dari promo “belanja 28 potong, potong 18” di Meituan — sebuah kemewahan yang hampir mustahil dibayangkan oleh orang-orang selama ribuan tahun. Namun secara emosional, saya enggan menyebut ini sebagai “keuntungan” yang patut dirayakan, karena saya tahu, biaya rendah yang saya nikmati adalah pendapatan yang hilang bagi orang lain.

Banyak momen membuat saya terdiam: ketika yang mengantarkan milk tea adalah seorang kurir yang sedang hamil; ketika saya memanggil pekerja rumah tangga yang tampil rapi dengan riasan, dan ternyata pernah memiliki lima salon kecantikan; ketika sopir ride-hailing bercerita bahwa ia mengemudi hanya untuk berpura-pura berangkat kerja setelah kena PHK; atau ketika pedagang kaki lima di bawah apartemen saya tetap memakai masker di tengah terik 38°C, bukan hanya demi kebersihan, tapi juga agar tidak dikenali mantan rekan kerja. Semua itu mengingatkan saya: biaya “rebahan” yang rendah bisa jadi keuntungan bagi sebagian orang, tapi juga tanda bahwa keuntungan-keuntungan lain — seperti kesempatan ekonomi yang sehat — sudah menghilang.

Ambil contoh layanan antar makanan murah. Di balik harga terjangkau, ada rantai ketidakbahagiaan: para kurir bekerja di bawah tekanan ekstrem, dengan biaya tenaga kerja per pesanan di Tiongkok hanya sekitar 1 dolar AS (bandingkan dengan 5 dolar di AS), waktu antar rata-rata hanya 35 menit, dan sanksi keterlambatan sangat keras. Data di Chengdu menunjukkan bahwa dari Januari hingga Agustus 2021, setiap 1,5 hari ada satu kurir yang terluka atau meninggal akibat kecelakaan lalu lintas. Pemilik usaha menanggung sebagian besar subsidi, pegawai toko kewalahan tanpa kenaikan upah, bahkan staf di perusahaan teknologi yang mengelola platform harus menghadapi target KPI yang semakin tinggi. Ironisnya, bagi platform besar, bisnis antar makanan jarang menguntungkan — sering kali hanya digunakan sebagai saluran untuk menarik pelanggan ke layanan yang lebih menguntungkan seperti pembelian grup di toko.

Akhirnya, semua pihak — platform, pedagang, pemilik properti, kurir, dan konsumen — terjebak dalam lingkaran tuntutan: harga harus murah, pengiriman harus cepat, pesanan harus banyak, kerja harus lebih keras. Hasilnya, kompetisi super ketat yang entah bagaimana menciptakan lingkungan yang “nyaman” untuk rebahan. Sebuah paradoks: era yang paling mendukung untuk melakukan lebih sedikit justru dibangun di atas kerja keras orang lain.

Kita pernah melihat “perang” seperti ini sebelumnya. Sepuluh tahun lalu, saat platform ride-hailing berebut pasar, pengemudi bisa mendapat dua kali lipat gaji pekerja kereta bawah tanah, dan investor dengan senang hati membakar dana demi mengakuisisi pengguna. Saya pernah bertemu sopir Uber yang dulunya menjadi kurir, lalu menabung cukup untuk membeli mobil, dan dari situ membeli tiga properti di Yanjiao. Saya pun pernah berada di masa emas: baru lulus kuliah langsung mendapat pekerjaan di media baru dengan gaji tinggi dan jam kerja santai. Saat itu saya bahkan keluar karena merasa gajinya “terlalu kecil”. Kini saya ingin menegur keras diri saya yang dulu.

Perubahan zaman datang cepat. Tahun 2023, saya kehilangan pekerjaan, lalu cedera parah lima hari setelahnya hingga harus istirahat enam bulan. Ketika sembuh, celah panjang di riwayat kerja membuat saya sulit diterima. Sementara itu, saya membeli rumah di puncak harga pasar, menghabiskan seluruh tabungan hasil “masa keemasan” saya. Di usia hampir 30, saya kembali ke titik nol — sejajar dengan fresh graduate.

Zaman ini seperti permainan online: setiap era punya “meta” sendiri. Pahlawan yang dominan kemarin bisa jadi tak berguna besok. Bedanya, hidup tidak mengumumkan pembaruan versi, dan “peramal” di luar sana jarang benar. Tren seperti FIRE (Financial Independence, Retire Early) yang dulu dianggap visioner pun goyah ketika suku bunga jatuh, memaksa banyak “pensiunan dini” kembali bekerja. Dan sebagai seseorang yang benar-benar “rebahan” setengah tahun, saya bisa bilang: hidup seperti ayam di kandang, makan makanan instan dan minum pengganti susu, jauh dari kata memuaskan.

Bagi saya, ada dua keuntungan nyata di zaman ini. Pertama, sukses sama sulitnya dengan gagal, jadi tidak perlu membakar diri demi mimpi “pemenang menguasai segalanya” yang tak realistis. Kedua, semuanya masih bisa menunggu. Dulu, tidak beli rumah sekarang berarti ketinggalan, tidak naik jabatan berarti kesempatan direbut orang lain. Kini, ritme itu melambat — memberi kebebasan bagi orang biasa untuk menyukai apa pun yang mereka mau tanpa harus “membuktikan diri” terlebih dahulu.

Ayah saya menemukan fotografi di usia 45 setelah gagal naik jabatan. Demi membeli peralatan, ia berhenti merokok; demi mencari objek foto, ia berjalan 10.000 langkah setiap hari, menurunkan 30 kg, dan menyembuhkan penyakit kronisnya. Bertahun-tahun kemudian, beberapa pesaingnya waktu itu justru jatuh sakit atau bermasalah dengan hukum. Ayah berkata, “Hidup itu panjang. Satu-satunya yang benar-benar bisa kau genggam adalah hal yang kau cintai.”

Dalam hidup, ada orang yang selalu mengejar “pahlawan terkuat” di setiap versi, dan ada yang setia pada karakter sederhana, menikmati permainan tanpa peduli skor. Dalam League of Legends, kami menyebutnya: “Setiap versi ada jagoannya… tapi ada yang selalu main Garen.” Semoga suatu hari nanti, saat orang bertanya mengapa kita masih mencintai hidup di era penuh ketidakpastian ini, kita bisa menjawab — dengan elegan dan tegas: “Karena aku tidak punya pilihan lain.”

Bagi saya, kebahagiaan adalah naik kereta hijau yang berjalan lambat tanpa tujuan pasti, bertemu orang asing yang mau membagikan kisah hidupnya, dan melihat pemandangan yang lebih indah dari brosur wisata mana pun. Mungkin saya kalah dalam spekulasi rumah, tapi pemandangan dari jendela masih ada — dan saya memilih untuk menatap ke depan, bukan menyesali yang telah lewat.

接著讀

Masa Depan Højlund di Manchester United Diragukan: Diam-diam Jalin Kontak dengan Inter, Ten Hag Bisa Jadi Faktor di Jerman

Meski secara terbuka menyatakan akan tetap di Manchester United musim depan, Rasmus Højlund dilaporkan tengah menjalin komunikasi pribadi dengan Inter Milan. Media Italia mengungkap bahwa agen pemain asal Denmark tersebut telah bertemu pihak Inter. Klub Serie A itu menginginkan skema pinjaman dengan opsi pembelian, sedangkan United hanya mempertimbangkan penjualan permanen seharga €40–45 juta. Kehadiran mantan pelatih Erik ten Hag di Bayer Leverkusen menambah dinamika, karena sejumlah klub Bundesliga juga disebut tertarik.

457 天前