2026年9月10日

Empat “Bad Boy” CBA Resmi Pensiun! Dua Lulusan Guangdong, Sementara Pelapis Hu Jinqiu Tutup Karier dengan Gelar Juara

Setiap musim panas, CBA selalu menjadi momen perpisahan bagi para veteran yang memilih gantung sepat...

Setiap musim panas, CBA selalu menjadi momen perpisahan bagi para veteran yang memilih gantung sepatu. Tahun ini, selain nama besar seperti Han Dejun, Jia Cheng, dan Zhu Yanxi yang resmi pensiun, ada hal yang lebih spesial: dua pemain yang selama ini dicap sebagai “bad boy” lapangan ikut mundur sekaligus — Xu Zhonghao dan Ren Junwei. Ditambah Su Wei dan Wang Xiaohui yang lebih dulu pensiun beberapa tahun lalu, keempatnya pernah menjadi simbol permainan keras dan kontroversial di CBA. Kini mereka semua resmi meninggalkan panggung, meninggalkan pertanyaan: siapa yang akan menjadi penerus peran ini di masa depan?

Peran “Bad Boy” di CBA

Basket dianggap sebagai olahraga yang sarat kontak fisik. Beberapa pemain memang memanfaatkan postur tubuh dan bahkan aksi-aksi tidak sportif untuk memberi keuntungan pada timnya. Selama bisa membantu meraih kemenangan, aksi keras ini kerap ditoleransi, bahkan didukung oleh pelatih. Ada juga pemain yang ditugaskan sebagai spesialis bertahan dan pekerja keras, mengandalkan fisik untuk menguras energi lawan. Dari sinilah lahir sosok-sosok “bad boy” yang dikenal dengan pelanggaran keras dan berulang.

Xu Zhonghao: Dari Bayi Hingga Tutup Karier dengan Gelar

Karier Xu Zhonghao dimulai sejak 2008 bersama Bayi Rockets. Setelah tim tersebut bubar, ia bergabung dengan Zhejiang Guangsha pada 2020. Kini, di usia 35 tahun dan tanpa perpanjangan kontrak, kariernya praktis berakhir. Meski menit bermainnya menurun drastis dalam dua tahun terakhir, Xu tetap punya peran sebagai pelapis Hu Jinqiu berkat tubuh besar dan kekuatannya.

Sayangnya, namanya sering dikaitkan dengan aksi kontroversial. Ia pernah menghantam wajah Liao Sanning dengan sikut hingga patah tulang, lalu mencederai Li Tianrong. Akibatnya, ia dihukum larangan bermain enam laga dan dicap sebagai “bad boy” sejati. Namun, Xu masih bisa tersenyum lega — musim lalu Guangsha akhirnya meraih gelar juara, membuatnya pensiun dengan manis, menjadi salah satu dari sedikit eks pemain Bayi (bersama Fu Hao) yang berhasil mengangkat trofi CBA.

Ren Junwei: Bayangan Sang Kakak

Ren Junwei juga resmi menutup karier. Produk akademi Guangdong ini sempat membela Foshan dan Shanxi sebelum akhirnya bergabung dengan Shanghai pada 2021, mengikuti pelatih Li Chunjiang. Berbeda dengan kakaknya, Ren Junfei, yang sukses di Guangdong dengan gelar dan panggilan tim nasional, Ren Junwei lebih sering berjuang di tim menengah.

Di Shanghai, gaya mainnya semakin keras, mungkin karena terbawa kultur permainan Li Chunjiang yang penuh intensitas. Reputasinya pun berubah menjadi “bad boy.” Setelah kontraknya habis tahun 2023 tanpa perpanjangan, ia sempat beralih menjadi pelatih di Shenzhen. Namun, karena kekurangan pemain, ia turun lagi ke lapangan sebelum akhirnya benar-benar pensiun tahun ini.

Su Wei dan Wang Xiaohui: Pionir Kerasnya CBA

Tidak lengkap bicara soal “bad boy” tanpa menyebut Su Wei dan Wang Xiaohui, yang keduanya pensiun pada 2022. Su Wei adalah pilar Guangdong sejak 2006, mengoleksi banyak gelar juara, juga sempat bermain di Xinjiang dan Qingdao. Ia dikenal sebagai tembok pertahanan yang kuat, tapi juga sering memakai cara kotor seperti menjegal lawan saat bertahan pick-and-roll.

Wang Xiaohui dari Beijing pun punya reputasi sama. Ia bahkan punya “kompilasi” pelanggaran keras yang viral. Sebagai spesialis bertahan perimeter, ia sering menjaga bintang lawan dengan gaya super keras. Momen paling terkenal adalah benturan di udara dengan Franklin dari Shanxi pada 2020, yang membuat sang lawan retak tulang rusuk dan tak pernah kembali ke performa terbaiknya.

CBA Menuju Era Baru

Kini, federasi basket Tiongkok semakin tegas menindak keras pelanggaran kasar, perkelahian, maupun tindakan tidak sportif. Hukuman diperketat, sehingga peran “bad boy” di CBA mungkin akan benar-benar punah. Dengan pensiunnya Xu Zhonghao, Ren Junwei, Su Wei, dan Wang Xiaohui, liga tampaknya bergerak menuju atmosfer yang lebih bersih, disiplin, dan sehat — baik untuk para pemain maupun untuk masa depan basket itu sendiri.

接著讀

Penantian 21 Tahun: Ronaldo Juara Lagi di Usia 40, Akankah Piala Dunia 2026 Menjadi Momen Terakhir Mengejar Status GOAT?

Di usia 40 tahun, Cristiano Ronaldo akhirnya meraih trofi ketiga bersama timnas Portugal setelah menang adu penalti atas Spanyol di final UEFA Nations League. Dulu berjuang sendirian, kini Ronaldo memimpin generasi emas Portugal yang penuh bakat. Apakah Piala Dunia 2026 akan menjadi kesempatan terakhirnya merebut gelar terbesar dan menyaingi Messi dalam perebutan status “GOAT”?

457 天前