2026年9月10日

Melawan Penyakit Langka Pemakan Otak: Perjuangan Hidup di Kerala

Menjelang festival terbesar Kerala, Onam, sebuah tragedi melanda sebuah desa kecil di Malappuram. So...

Menjelang festival terbesar Kerala, Onam, sebuah tragedi melanda sebuah desa kecil di Malappuram. Sobhana, seorang wanita Dalit berusia 45 tahun yang bekerja membotolkan jus buah, awalnya hanya mengeluh pusing dan tekanan darah tinggi. Namun dalam hitungan hari, kondisinya memburuk drastis: demam, menggigil hebat, hingga akhirnya meninggal dunia pada hari utama perayaan.

Penyebabnya mengejutkan: Naegleria fowleri, dikenal sebagai “amoeba pemakan otak.” Parasit ini hidup di air tawar hangat dan masuk melalui hidung, lalu menghancurkan jaringan otak dengan cepat. Penyakit ini begitu langka hingga sebagian besar dokter tidak pernah menemukannya seumur hidup. “Kami tak berdaya menghentikannya. Kami baru tahu penyakit ini setelah Sobhana meninggal,” kata Ajitha Kathiradath, sepupu korban sekaligus pekerja sosial.

Ancaman yang Meningkat di Kerala

Apa yang dulunya nyaris tak terdengar kini menjadi ancaman nyata di Kerala. Tahun ini saja, hampir 70 kasus terdeteksi dan 19 orang meninggal, mulai dari bayi hingga lansia. Sejak 1962, hanya 488 kasus tercatat di seluruh dunia dengan tingkat kematian 95%. Kini Kerala berada di garis depan pertempuran.

Namun ada secercah harapan. Berkat laboratorium canggih dan deteksi dini, angka keselamatan meningkat. Tahun ini, tingkat kematian turun menjadi sekitar 24%, jauh lebih rendah dibandingkan masa lalu. “Kasus memang naik, tapi kematian menurun. Diagnosis dini dan pengobatan tepat sasaran menjadi kuncinya,” jelas Dr Aravind Reghukumar, kepala penyakit infeksi di Thiruvananthapuram.

Mengapa Kerala Rentan

Kerala memiliki 5,5 juta sumur dan 55.000 kolam, dan sebagian besar masyarakat bergantung pada sumber air alami yang sering tercemar. Ini menjadikannya lahan subur bagi amoeba. Tahun lalu, sekelompok kasus terkait praktik berisiko di mana pemuda menghirup uap ganja yang dicampur air kolam.

Mulai dari mandi di kolam, berenang, hingga praktik keagamaan seperti membilas hidung dengan air mentah, semuanya berpotensi menularkan penyakit. Pemerintah merespons dengan kampanye besar: 2,7 juta sumur diklorinasi hanya dalam satu bulan, serta pemasangan papan peringatan di sekitar kolam.

Edukasi Lebih Penting dari Ketakutan

Tujuan utama kini adalah meningkatkan kesadaran, bukan menebar ketakutan. Warga dianjurkan membersihkan tangki, menutup kolam, menggunakan air bersih untuk ritual, serta berenang dengan pelindung hidung dan menghindari air tergenang.

“Ini masalah sulit,” kata Prof Dennis Kyle dari University of Georgia. “Amoeba bisa ada di sumber air mana pun yang tidak diolah. Namun di lingkungan terkontrol seperti kolam renang, pengawasan ketat dan klorinasi dapat sangat mengurangi risiko.”

Perubahan Iklim Memperburuk Situasi

Pakar memperingatkan bahwa perubahan iklim memperbesar ancaman. Air yang lebih hangat dan musim panas yang lebih panjang menciptakan kondisi ideal bagi amoeba, sementara polusi menyediakan bakteri sebagai makanannya. “Kenaikan suhu 1°C saja dapat mempercepat penyebarannya,” tegas Prof Anish, seorang epidemiolog.

Peringatan untuk Dunia

Perjuangan Kerala tidak hanya relevan secara lokal, tetapi juga global. Perubahan iklim tengah mengubah peta penyakit, dan bahkan patogen paling langka pun bisa menjadi lebih umum.

Kisah Kerala bukan hanya tentang kehilangan, melainkan juga tentang ketahanan, inovasi, dan tekad untuk melawan musuh mematikan. Pesannya jelas: di era perubahan iklim dan dunia yang saling terhubung, tidak ada penyakit yang bisa diremehkan.

接著讀