2026年9月10日

Satu Kekalahan Lagi Bisa Berakhir Fatal? Ketua Federasi Menekan Guo Shiqiang, Zhao Rui Dipastikan Tampil Meski Cedera di Laga Tandang Korea

Dalam laga pembuka Kualifikasi Piala Dunia FIBA zona Asia yang baru berakhir, tim basket putra China...

Dalam laga pembuka Kualifikasi Piala Dunia FIBA zona Asia yang baru berakhir, tim basket putra China memulai jendela pertandingan ini dengan kekalahan yang mengecewakan. Menghadapi rival klasik Korea Selatan, tim China hampir sepanjang pertandingan berada dalam posisi tertekan dan sempat tertinggal hampir 20 poin, sebelum akhirnya tumbang 76–80 di kandang sendiri. Kekalahan ini bukan hanya membuat langkah awal mereka tersandung, tetapi juga membuat sang pelatih kepala Guo Shiqiang—yang baru saja membawa tim meraih posisi kedua di Piala Asia—mengalami penurunan kredibilitas.

Perlu disoroti bahwa Korea Selatan datang sebagai tim tamu, dan bahkan kehilangan beberapa pemain inti termasuk pemain naturalisasi mereka. Namun dalam pertandingan ini, China justru memperlihatkan kelemahan mencolok—mulai dari konsep taktik yang ketinggalan era hingga rotasi pemain yang terlalu konservatif. Jika dibandingkan dengan tim penuh semangat dan alur permainan yang solid pada Piala Asia musim panas lalu, tim China kali ini terlihat minim arah strategis.

Sepanjang pertandingan, serangan tim China sangat bergantung pada kemampuan individual Zhou Qi di area low-post, dengan minimnya pergerakan tim yang terkoordinasi. Di sektor bertahan, skema Guo Shiqiang berulang kali ditembus oleh pick-and-roll sederhana, hingga membuat Lee Hyun-jung tampil dominan dengan torehan 33 poin dan 14 rebound. Atribut yang dulu menjadi kebanggaan—fast break cepat dan formasi small-ball—justru tak terlihat sama sekali. Sebaliknya, China mengandalkan serangan keras ke area dalam dan rotasi bertahan yang lambat, membuat Korea Selatan hampir menguasai jalannya pertandingan dari awal hingga akhir.

Absennya Zhao Rui akibat cedera semakin memperparah situasi. China kehilangan motor utama dalam pengorganisasian serangan sekaligus tembok pertahanan di lini belakang. Tidak ada pemain yang bisa mengatur ritme serangan dengan baik ataupun menjadi sosok yang mampu memecah tekanan Korea di momen-momen sulit. Di saat bersamaan, absennya pemain sayap penting Wang Junjie juga mengurangi kedalaman rotasi dan fleksibilitas tim di sisi lapangan. Meski keduanya, Zeng Fanbo dan Zhang Zhenlin, kembali masuk skuad, itu tetap belum bisa menutup kekosongan tersebut. Kini, untuk mengatasi masalah di posisi point guard, Zhao Rui dikabarkan akan tampil di pertandingan tandang berikutnya melawan Korea—meski belum pulih sepenuhnya. Kehadirannya tentu menjadi dorongan besar bagi tim, tetapi kemampuannya tampil prima di kedua sisi permainan masih menjadi tanda tanya karena ia akan bermain dalam kondisi cedera.

Kekalahan ini jelas menarik perhatian tinggi dari pimpinan federasi basket China. Menurut sumber internal, tak lama setelah laga berakhir, ketua CBA Guo Zhenming langsung mengadakan pembicaraan mendesak dengan pelatih Guo Shiqiang. Foto yang beredar menunjukkan suasana serius dengan tekanan yang besar—sebuah indikasi bahwa pertandingan berikutnya wajib dimenangkan. Meski isi perbincangan tidak diungkap ke publik, banyak pihak percaya bahwa jika Guo Shiqiang kembali menelan kekalahan di laga berikutnya, posisinya sebagai pelatih kepala kemungkinan akan ikut terancam.

Meski kembalinya Zhao Rui dapat membantu menambal beberapa kekurangan di sektor ofensif, masalah terbesar tim China tetap bersifat struktural: sistem taktis yang usang, ketergantungan berlebihan pada serangan interior tradisional, serta kurangnya kemampuan adaptasi permainan secara real-time. Jika ingin bersaing dengan tren basket internasional modern, tim ini harus mengembangkan permainan lebih terbuka, lebih mobile, dan lebih mengutamakan ruang serang. Memaksakan Zhou Qi—yang sejatinya bukan tipikal pemain low-post murni—sebagai titik utama serangan hanya akan menurunkan efisiensi ofensif tim secara keseluruhan.

Bagi Guo Shiqiang, laga tandang berikutnya ke Korea bukan lagi sekadar pertandingan biasa—itu bisa menjadi momen penentu karier kepelatihannya, sekaligus arah masa depan strategi pembangunan basket China.

接著讀