2026年9月10日

Raksasa Bir Jepang Asahi Diserang Siber, Operasi di Jepang Terhenti

-

Raksasa bir asal Jepang, Asahi, terkena serangan siber besar yang menyebabkan gangguan sistem serius, sehingga menghentikan operasional pengiriman dan layanan pelanggan di Jepang.

Dalam pernyataan resminya, perusahaan mengonfirmasi bahwa pemrosesan pesanan dan pengiriman di Jepang telah dihentikan, begitu pula dengan layanan pelanggan. Namun, Asahi menegaskan bahwa hingga saat ini tidak ada kebocoran data pelanggan yang terkonfirmasi.

Lebih lanjut, perusahaan memastikan bahwa operasi di Eropa, termasuk Inggris, tidak terpengaruh dan pasokan bir internasional tetap berjalan lancar.

Raksasa Global yang Terhantam

Asahi bukan hanya produsen bir terbesar di Jepang, tetapi juga pemain global dengan portofolio bergengsi seperti Peroni, Pilsner Urquell, Grolsch, dan Fuller’s di Inggris. Fuller’s memproduksi bir populer London Pride, serta cider merek Cornish Orchards dan bir kerajinan Dark Star.

Dengan sekitar setengah dari penjualannya berasal dari pasar Jepang, serangan ini menjadi pukulan berat bagi bisnis domestik Asahi. Perusahaan pun menyampaikan permintaan maaf kepada pelanggan dan mitra, seraya menegaskan bahwa mereka sedang bekerja keras memulihkan sistem.

“Kami sedang menyelidiki penyebabnya dan berupaya memulihkan operasional; namun saat ini belum ada perkiraan waktu pemulihan,” kata Asahi.

Risiko Siber Sudah Lama Diwaspadai

Dalam laporan risiko tahun 2024, Asahi sebenarnya sudah mengidentifikasi serangan siber sebagai risiko utama jangka menengah-pendek, yang berpotensi mengganggu operasional, memicu masalah arus kas, dan merusak reputasi merek. Perusahaan telah berinvestasi dalam keamanan sistem, tetapi serangan kali ini menyoroti rapuhnya bisnis di era digital.

Gelombang Serangan Global

Kasus Asahi terjadi di tengah gelombang serangan siber terhadap perusahaan besar di Inggris, termasuk Harrods, Jaguar Land Rover, Marks & Spencer, serta Co-op dalam beberapa bulan terakhir.

Di Jepang sendiri, momen ini semakin krusial karena pasar domestik bir menghadapi tantangan: semakin banyak anak muda yang memilih untuk tidak minum alkohol. Tahun lalu, CEO Asahi Atsushi Katsuki bahkan menargetkan menggandakan porsi minuman rendah atau tanpa alkohol hingga 20% dari total penjualan.

Kesimpulan

Meski operasional global tetap aman, serangan ini menjadi peringatan nyata bahwa bahkan raksasa seperti Asahi tidak kebal terhadap ancaman digital.

Di era modern, jelas bahwa keamanan siber kini sama pentingnya dengan bahan utama bir—malt, hop, dan ragi.

接著讀