2026年9月10日

Afghanistan Terjerumus ke “Kegelapan Digital” Saat Taliban Putuskan Seluruh Jaringan Internet

-

Afghanistan kini resmi masuk dalam era sunyi digital, setelah pemerintah Taliban memutuskan layanan telekomunikasi di seluruh negeri, hanya beberapa minggu setelah memutus koneksi internet berbasis serat optik.

Menurut pemantau internet NetBlocks, negara itu tengah mengalami “pemadaman internet total”, membuat jutaan warga kehilangan akses komunikasi. Media internasional melaporkan mereka sudah tidak bisa berhubungan dengan kantor di Kabul, sementara internet seluler, televisi satelit, hingga operasional penerbangan ikut lumpuh.

Komunikasi Nasional Lumpuh

Taliban sejauh ini belum memberikan alasan resmi. Seorang pejabat hanya menegaskan bahwa pemutusan ini berlaku “hingga pemberitahuan lebih lanjut.” Sejak kembali berkuasa pada 2021, Taliban terus memberlakukan berbagai larangan atas nama syariat Islam, dan pemadaman internet kali ini menjadi yang paling luas.

Stasiun TV swasta Tolo News memperingatkan khalayak bahwa siaran televisi dan radio mereka akan terganggu, dan meminta masyarakat mengikuti akun media sosialnya untuk informasi terbaru—ironisnya, platform tersebut kini tidak lagi bisa diakses di dalam negeri.

Pemadaman juga menghantam Bandara Internasional Kabul. Data dari Flightradar24 menunjukkan setidaknya delapan penerbangan dibatalkan pada Selasa akibat gangguan komunikasi. Sistem perbankan, e-commerce, dan bisnis lokal diperkirakan akan lumpuh parah.

Warga Merana, Harapan Pupus

Bagi rakyat biasa, pemadaman mendadak ini sangat menghancurkan. Internet serat optik—urat nadi bagi perbankan, pendidikan, dan bisnis—dihentikan pada pukul 17.00 waktu setempat.

BBC melaporkan bahwa komite di Kabul kini tengah membahas rencana “memfilter” internet demi mencegah apa yang mereka sebut sebagai “kemaksiatan”, bahkan mempertimbangkan pelarangan total internet serat optik di seluruh negeri.

Keresahan warga pun kian nyata:

  • Seorang penukar uang di Takhar mengatakan kelas bahasa Inggris daring putrinya kini terhenti: “Kesempatan terakhir mereka untuk belajar hilang begitu saja.”
  • Seorang wanita mengaku tidak bisa melanjutkan kuliahnya dan kehilangan mimpi bekerja jarak jauh: “Mimpi itu telah hancur.”
  • Mahasiswi lain yang sebelumnya kehilangan jalur pendidikan bidan, kini berkata: “Saat mendengar internet diputus, dunia terasa gelap bagi saya.”

Mantan pemimpin redaksi TV Afghanistan, Hamid Haidari, menyebut situasi ini: “Kesepian menyelimuti seluruh negeri.”

“Afghanistan Saingi Korea Utara”

Di media sosial, banyak yang membandingkan Afghanistan dengan rezim otoriter. Haidari bahkan menyindir bahwa Afghanistan kini telah menyalip Korea Utara dalam soal isolasi digital. Mantan anggota parlemen, Mariam Solaimankhil, menulis dari AS: “Kesunyian daring tanpa suara dari Afghanistan terasa memekakkan telinga.”

Langkah ini hanyalah bagian dari gelombang pembatasan terbaru. Awal bulan ini, Taliban menghapus buku-buku karya perempuan dari universitas, melarang pengajaran hak asasi manusia, dan menutup kursus kebidanan. Perempuan dan anak perempuan, yang sudah dilarang sekolah setelah usia 12 tahun, kini semakin kehilangan semua jalur pendidikan.

Menuju Kegelapan Digital

Sejak merebut kekuasaan pada 2021, Taliban terus memperketat kendali atas seluruh aspek kehidupan. Dengan internet—jalur hidup penting bagi pendidikan, komunikasi, dan ekonomi—kini diputus total, Afghanistan benar-benar terjebak dalam isolasi digital tanpa preseden.

接著讀