2026年9月10日

Harga Naik, Minat Meningkat: Demam Emas di Libur Panjang

“Kalau saya tidak bangun sejam lebih awal, pasti tidak kebagian nomor antrean!” ujar seorang calon p...

“Kalau saya tidak bangun sejam lebih awal, pasti tidak kebagian nomor antrean!” ujar seorang calon pengantin di depan pasar perhiasan emas Chenghuangmiao, Shanghai, pada pagi 4 Oktober. Meski harga emas melonjak tinggi, antusiasme masyarakat justru meningkat tajam sepanjang libur panjang “Golden Week” tahun ini.

Di pasar perhiasan emas Shuibei, Shenzhen, jumlah pengunjung melonjak dua kali lipat. “Kami hampir tidak berhenti melayani pelanggan seharian,” kata salah satu pedagang. Perhiasan tradisional seperti gelang naga-phoenix, cincin kawin, dan kalung karakter ‘double happiness’ menjadi produk terlaris. Sementara itu, perhiasan dengan teknologi 5D yang ringan dan bergaya modern menjadi favorit anak muda.

Harga pun terus menembus rekor baru. Awal Oktober, harga emas murni di sebagian besar merek besar melampaui ¥1.100 per gram. Chow Sang Sang mencapai ¥1.155/g, sedangkan Chow Tai Fook, Luk Fook, dan King Fook menetapkan harga ¥1.139/g. “Harga naik malah bikin orang makin semangat beli,” ujar salah satu staf penjualan.

Ketika Harga Melonjak, Keyakinan Juga Naik

Alih-alih menunggu harga turun, para pembeli justru berbondong-bondong membeli emas karena khawatir harganya akan terus naik.
“Saya dan keluarga sudah lama berencana beli emas untuk pernikahan. Melihat harga terus naik, kami pikir lebih baik beli sekarang daripada nanti makin mahal,” kata seorang calon pengantin wanita.

Konsumen muda juga berpikir serupa. “Emas bukan soal murah atau mahal, tapi soal nilai. Kalau terus naik, artinya makin berharga,” ujar seorang pembeli.

Sementara itu, investor di pasar modal bersikap lebih rasional. Seorang manajer investasi mengatakan timnya belum menjual atau mengurangi posisi emas. “Risiko global, kebijakan The Fed yang belum pasti, dan pembelian besar-besaran oleh bank sentral menjadi penopang kuat harga emas.”

Pasar Modal Juga Panas: Arus Dana ke ETF Meningkat

Tidak hanya pasar fisik, pasar keuangan juga menunjukkan tren positif terhadap emas.
Laporan Goldman Sachs menyebut, kenaikan harga emas kali ini didorong oleh investor individu dan bank sentral—bukan spekulan jangka pendek. Investor ETF Barat pun kembali aktif, dengan aliran dana masuk yang jauh melampaui perkiraan.

Dalam pekan 23–30 September, Huabao Gold ETF mencatat arus masuk sebesar ¥2,996 miliar, sementara Bosera, ChinaAMC, dan E Fund masing-masing mencatat lebih dari ¥1 miliar. “Ini tanda bahwa emas semakin dilihat sebagai aset strategis jangka panjang,” ujar seorang manajer reksa dana.

Data terbaru juga menunjukkan cadangan emas resmi Tiongkok naik menjadi 74,06 juta ons, meningkat selama 11 bulan berturut-turut—menegaskan posisi emas sebagai aset cadangan global yang penting.

Goldman memperkirakan harga emas akan mencapai $4.000 per ons pada pertengahan 2026, dan $4.300 per ons pada akhir tahun depan.

Dari toko perhiasan yang penuh sesak hingga arus dana besar di ETF, libur panjang 2025 ini menandai dimulainya era baru emas—di mana emas bukan hanya simbol kemewahan, tapi juga pondasi strategis dalam dunia keuangan global.

接著讀