2026年9月10日

Mengapa Aplikasi “Penghasil Uang” Bisa Begitu Merajalela di Era Digital Saat Ini?

Jalan-Jalan Dapat Uang? Hati-Hati, Banyak Aplikasi Penuh Jebakan! Berjalan dapat uang, mendengarkan ...

Jalan-Jalan Dapat Uang? Hati-Hati, Banyak Aplikasi Penuh Jebakan!

Berjalan dapat uang, mendengarkan novel dapat uang, menonton video juga bisa dapat uang — belakangan, berbagai aplikasi dengan slogan “hasilkan uang kapan pun dan di mana pun” bermunculan di dunia digital. Namun di balik janji manis itu, banyak aplikasi justru menanamkan perangkap finansial, terutama menargetkan pengguna usia paruh baya dan lanjut usia. Bentuknya makin beragam, triknya makin tersembunyi. Banyak pengguna lanjut usia akhirnya tanpa sadar membeli layanan berbayar dan terjerumus ke dalam jebakan yang telah dirancang rapi. Lantas, mengapa aplikasi “penghasil uang” bisa begitu marak?

Niatnya Mau Untung, Malah Jadi Buntung

Pada Juni lalu, Lin, seorang warga Fujian, mendapati dua transaksi aneh di ponsel ibunya: masing-masing sebesar 888 yuan dan 898 yuan. Sang ibu mengaku tidak pernah mengikuti kursus online apa pun. Setelah diselidiki, ternyata transaksi itu berasal dari iklan pop-up di salah satu aplikasi “penghasil uang” yang menipu ibunya untuk membayar biaya langganan palsu. Saat Lin mencoba membuka aplikasi tersebut, ia diserbu berbagai jendela pop-up dan tautan ke situs pihak ketiga yang semuanya mengarah ke satu hal — pembayaran.

Selain penipuan pembayaran besar sekali waktu, banyak aplikasi sejenis “jalan-jalan dapat uang” menggunakan trik “bayar kecil sekali + perpanjangan otomatis”. Tanpa sadar, pengguna diiming-imingi untuk mengaktifkan layanan tambahan operator atau berlangganan kartu anggota bulanan.

Kasus serupa terjadi di Hunan. Seorang wanita baru tahu ibunya telah berlangganan paket data 35 yuan per bulan setelah menerima SMS kode verifikasi dari China Mobile. Setelah ditelusuri, ternyata sang ibu tanpa sadar menekan iklan dalam aplikasi “Walk & Earn Happy”, dan pembayaran dilakukan otomatis melalui mitra pihak ketiga.

Rantai Perangkap yang Dirancang Rapi

Investigasi dari Half-Month Talk mengungkap rantai jebakan yang sangat sistematis. Aplikasi-aplikasi ini memasang iklan di platform video pendek dan drama mini yang populer di kalangan pengguna paruh baya. Setelah diunduh, pengguna akan diarahkan untuk mengklik iklan yang secara halus memicu pembelian layanan berbayar atau aktivasi langganan otomatis.

Tim Half-Month Talk mencoba mengunduh aplikasi “Walk & Earn Change” dari toko aplikasi Xiaomi yang telah diunduh lebih dari 1,6 juta kali. Begitu dibuka, layar langsung dipenuhi pop-up. Menekan “Login” atau “Belum login” sama saja — semuanya mengarahkan ke tautan eksternal yang menawarkan “hadiah gratis”. Tapi begitu diklik, “hadiah” itu berubah menjadi langganan 25 yuan per bulan dengan fitur perpanjangan otomatis yang aktif secara default.

Menurut Chen Yinjiang, Wakil Sekretaris Jenderal Komite Perlindungan Konsumen di Asosiasi Hukum Tiongkok, pengguna lanjut usia sangat rentan terhadap manipulasi semacam ini. “Setelah beberapa kali salah klik, mereka bisa tanpa sadar mengaktifkan layanan berlangganan otomatis atau layanan tambahan operator, dan baru menyadari setelah saldo mereka berkurang,” jelasnya.

Laporan Asosiasi Konsumen Tiongkok pada Agustus 2025 juga menemukan bahwa banyak pelaku usaha nakal menggunakan slogan seperti “berjalan dapat uang” atau “klaim hadiah gratis” untuk menarik pengguna lanjut usia. Mereka mengaku pengguna cukup melakukan tindakan sederhana di ponsel untuk mendapatkan uang, padahal sebenarnya sistem diatur untuk memotong saldo otomatis lewat fitur pembayaran tanpa sandi.

Jebakan di Mana-Mana, Sulitnya Menuntut Hak

Mengapa aplikasi seperti ini bisa tetap eksis? Hasil investigasi menunjukkan ada beberapa celah besar yang dimanfaatkan:

Perjanjian pengguna yang tidak adil. Banyak aplikasi menulis klausul sepihak dalam syarat pengguna yang memperluas hak pengembang dan membebaskan mereka dari tanggung jawab. Investigasi Dewan Konsumen Sichuan menemukan beberapa aplikasi “walk-to-earn” bahkan secara eksplisit menolak bertanggung jawab atas kebenaran iklan yang mereka tayangkan, memaksa pengguna menanggung kerugian sendiri.

Sulitnya pengembalian dana. Banyak pengguna mengaku kesulitan meminta refund. Lin mengatakan, ibunya tidak tahu alasan pembayaran itu dilakukan, dan setelah melacaknya melalui riwayat transaksi, pihak penerima menolak mengembalikan uang dengan alasan “lebih dari tujuh hari”. Barulah setelah Lin mengancam akan melapor ke polisi, uang tersebut dikembalikan. Seorang pengguna di Liaoning mengaku harus menelepon enam kali sebelum berhasil terhubung ke layanan pelanggan. Semua pihak saling lempar tanggung jawab — aplikasi bilang itu urusan pihak ketiga, penyedia pembayaran mengklaim pengguna memasukkan kata sandi sendiri, dan perusahaan penerima uang berdalih pembelian dilakukan “secara sukarela”.

Jaringan penipuan berskala nasional. Banyak aplikasi semacam ini dioperasikan oleh beberapa perusahaan cangkang di berbagai provinsi, membuat korban sulit menuntut secara hukum. Misalnya, kasus “Walk & Earn Happy” melibatkan tiga perusahaan berbeda, hingga hotline konsumen 12315 di Guangxi menyarankan korban menempuh jalur hukum.

Saatnya Menutup Ruang Hidup bagi Aplikasi Nakal

Para ahli menilai, aplikasi-aplikasi ini kerap mengarang klaim seperti “jalan dapat uang” atau “hadiah gratis”, yang sebagian besar dilebih-lebihkan atau sepenuhnya palsu. Target utamanya adalah kalangan lanjut usia yang kurang paham teknologi dan lemah dalam kesadaran risiko, menjadikan dampaknya sangat buruk bagi masyarakat.

Menurut Deng Yong, Wakil Sekretaris Jenderal Tim Hukum Dewan Konsumen Shenzhen, para pelaku penipuan ini biasanya bersembunyi di balik anonimitas dunia maya, sehingga sulit dilacak dan dituntut.

Chen Yinjiang menyarankan agar pemerintah segera membuat daftar pengawasan khusus untuk konsumsi lansia, memperketat pengawasan terhadap iklan palsu dan tautan penipuan, serta menindak tegas praktik pemotongan saldo tanpa izin. Ia juga menekankan agar platform daring memperkuat verifikasi pelaku usaha, memperbaiki sistem iklan, dan mencegah konten berisiko tinggi ditampilkan kepada pengguna lanjut usia.

Selain itu, para ahli menambahkan bahwa toko aplikasi perlu menerapkan sistem evaluasi dan pelaporan yang lebih ketat untuk aplikasi yang sering dilaporkan bermasalah. Sementara itu, perusahaan teknologi besar dan operator telekomunikasi — yang sering menjadi pihak pemasang iklan — harus lebih bertanggung jawab secara sosial, meninjau ulang strategi iklan dan langganan mereka.

Di sisi lain, pusat komunitas dan universitas lansia juga diimbau untuk mengadakan pelatihan literasi digital yang fokus pada keamanan penggunaan perangkat pintar, cara mengenali iklan menipu, menonaktifkan pembayaran otomatis, dan menangani pemotongan saldo yang mencurigakan.

Kesimpulannya: aplikasi “penghasil uang” bukanlah jalan menuju cuan, melainkan ladang bagi para penipu mencari keuntungan. Hanya dengan pengawasan yang lebih ketat, tanggung jawab platform yang lebih kuat, dan edukasi konsumen yang lebih luas, aplikasi semacam ini bisa benar-benar kehilangan ruang untuk hidup — dan masyarakat dapat bertransaksi dengan aman serta percaya diri.

接著讀