2026年9月10日

Matcha yang Kamu Nikmati di Jepang Mungkin Saja Berasal dari Sebuah Kabupaten Kecil di Guizhou

Jepang menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan selama libur panjang, dan bagi banyak orang, p...

Jepang menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan selama libur panjang, dan bagi banyak orang, perjalanan ke Negeri Sakura belum lengkap tanpa mencicipi salah satu khasnya yang paling ikonik — matcha. Namun, tak banyak yang tahu bahwa kini sebagian besar matcha yang dijual di Jepang justru berasal dari tempat yang tak terduga — sebuah kabupaten kecil bernama Jiangkou di Tongren, Guizhou, Tiongkok. Ya, dari kota pegunungan kecil di timur laut Guizhou inilah matcha yang dikagumi dunia lahir. Bahkan merek-merek teh ternama di Kyoto dan Uji — yang selama ini dianggap sebagai simbol budaya matcha Jepang — kini mencantumkan asal bahan bakunya: “Jiangkou, Tongren, Guizhou.” Seorang netizen bahkan bercanda, “Ini seperti menjual saus cabai ke Sichuan atau menyajikan mi panas ke Wuhan.” Dalam waktu kurang dari sepuluh tahun, Jiangkou berhasil membalik keadaan — dari daerah miskin menjadi pusat produksi matcha kelas dunia. Pada tahun 2024, kabupaten ini menghasilkan 1.300 ton matcha dengan nilai produksi lebih dari 300 juta yuan. Siapa sangka, sebuah kota kecil yang dulu tersembunyi di pegunungan bisa membangun industri yang kini menguasai pangsa pasar global?

1. Menjadi Tempat “Paling Hijau” di Tiongkok

Mungkin tanpa sadar, secangkir matcha latte yang Anda nikmati atau sepotong kue matcha yang Anda santap, berasal dari pegunungan hijau Jiangkou. Menurut laporan CCTV Finance, pada peta konsumsi matcha dunia tahun 2024, satu dari tujuh cangkir matcha yang diminum di seluruh dunia berasal dari Jiangkou, Guizhou. Sulit dipercaya, karena Jiangkou terletak di kaki Gunung Fanjing — bagian dari provinsi tanpa dataran yang dikenal akan medan terjalnya. Dulu, Jiangkou adalah wilayah miskin dengan pendapatan rendah dan tingkat migrasi tinggi. Pada 2014, tercatat 80 desa miskin dan hampir 20% penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan. Namun dari tempat terpencil inilah berdiri sebuah “pabrik super matcha” berskala dunia.

Dibangun pada tahun 2018 oleh Guizhou Tea Group dengan investasi 600 juta yuan, pabrik ini memiliki workshop matcha tunggal terbesar di dunia, dengan kapasitas produksi tahunan mencapai 4.000 ton. Luasnya setara dengan 31 lapangan sepak bola, dan di dalamnya, jalur produksi canggih beroperasi secara otomatis — mesin berteknologi tinggi menggantikan tenaga manusia, namun tetap menjaga jiwa dari setiap helai daun teh.

Proses pembuatan matcha di sini sangat teliti: daun teh dipetik, dikukus, didinginkan, dikeringkan dua kali, lalu disortir ketat. Hanya bagian daun terbaik yang digunakan untuk membuat tencha, bahan dasar matcha berkualitas tinggi. Setelah melalui tahap pengeringan, sterilisasi, dan penggilingan halus, bubuk matcha yang lembut dan harum seperti rumput laut siap dikirim — ke kafe, toko roti, dan pabrik es krim di seluruh dunia.

Kini, Tiongkok telah menjadi produsen matcha terbesar di dunia, menyumbang sekitar 60% produksi global, dan seperempatnya berasal dari Jiangkou. Namun, Jiangkou tak ingin hanya menjadi “dapur dunia.” Mereka ingin menjadi merek global dengan identitas budaya sendiri — “Fanjing Matcha.” Setiap tahun, Jiangkou menggelar Festival Budaya Matcha, acara “Guizhou Matcha × World Cuisine”, serta mengembangkan proyek “Matcha Town” di kaki Gunung Fanjing, menandakan tekad kuat untuk membawa aroma hijau Guizhou ke panggung dunia.

2. Mengubah Pola Pikir, Membangun Ulang Jalur Industri

Tiongkok dikenal sebagai negeri teh selama ribuan tahun. Namun, meski Guizhou merupakan salah satu provinsi penghasil teh hijau terbesar, wilayah ini lama kekurangan merek yang menonjol. Banyak pedagang hanya membeli teh Guizhou untuk dijual ulang di bawah label lain. Pada tahun 2017, Jiangkou dan Guizhou Tea Group sepakat untuk mengakhiri pola itu: mereka tak mau lagi jadi pemasok tanpa nama.

Mereka memilih matcha bukan karena tren, tetapi karena strategi. Matcha adalah “jalur baru” yang bisa menghindari persaingan ketat teh tradisional. Meski matcha awalnya berasal dari Tiongkok pada masa Dinasti Tang dan Song, budaya ini berkembang pesat di Jepang. Dengan mendobrak dominasi Jepang, Jiangkou tahu risikonya besar — namun peluangnya juga luar biasa.

Kunci sukses pertama adalah anugerah alam. Jiangkou terletak di sabuk emas teh pada lintang 27° utara, dengan iklim berkabut, ketinggian ideal, dan lingkungan subur di bawah perlindungan Gunung Fanjing. Kondisi ini memungkinkan daun teh tumbuh dengan kandungan rasa dan aroma yang kaya. Struktur tanah karst membuat kebun teh tersebar di lereng-lereng bukit, namun justru menciptakan ekosistem alami yang bebas pestisida.

Kedua, ada peran manusia. Masuknya Guizhou Tea Group membawa perubahan besar: investasi besar, teknologi modern, dan rantai pasok yang lengkap — dari penanaman hingga produksi. Para petani dilatih mengikuti standar Uni Eropa, tanpa bahan kimia dan hanya menggunakan metode organik. Meskipun biayanya tinggi, hasilnya luar biasa. “Merawat pohon teh itu seperti membesarkan anak,” kata seorang petani. “Sulit, tapi tak boleh menyerah.”

Melalui dedikasi itu, Jiangkou kini memiliki reputasi sebagai produsen matcha paling murni di dunia. Ditambah lagi, platform e-commerce membantu menjual produk langsung dari pegunungan ke kota besar — memperpendek jarak antara “kebun” dan “meja makan.”

3. Dari Bahan Baku ke Pengalaman Gaya Hidup

Dengan meningkatnya produksi dan ekspor, Jiangkou kini menghadapi tantangan baru: bagaimana agar dunia tak hanya mengonsumsi matcha Guizhou, tapi juga mengingat namanya. Sebab, sebagian besar matcha Jiangkou masih dipasarkan lewat merek lain.

Untuk itu, mereka mulai melangkah lebih jauh — membawa matcha ke berbagai sisi kehidupan. Dalam Matcha Culture Festival, Anda akan menemukan kreasi tak terduga seperti cokelat matcha, bir matcha, mie matcha, bahkan tahu dan ikan sturgeon dengan cita rasa matcha! Guizhou Tea Group pun meluncurkan lini produk baru “Wu Cha Bai,” yang kini dipasarkan melalui toko fisik dan siaran langsung daring.

Matcha kini bukan sekadar minuman — tapi bagian dari gaya hidup modern, mulai dari kuliner hingga kecantikan, kesehatan, dan pariwisata. Wisatawan di Gunung Fanjing bisa menikmati pengalaman “upacara teh gaya Dinasti Song” dan tur ke desa-desa teh yang menggabungkan alam, budaya, dan inovasi.

Jiangkou telah melangkah dari mengikuti standar Jepang hingga melampaui standar Uni Eropa; dari pemasok bahan mentah hingga pencipta merek global. Di sini, teh bukan lagi sekadar daun — tapi simbol transformasi. Ketika secangkir matcha bisa menjadi bir, perjalanan, atau gaya hidup sehat, potensi industri ini baru saja dimulai.

Kini, tak hanya Jiangkou. Produk-produk seperti foie gras dari Anhui, cranberry dari Heilongjiang, hingga salmon dari Xinjiang menunjukkan arah baru pertanian Tiongkok — dari “apa yang bisa diproduksi” menjadi “apa yang dunia butuhkan.” Dan perjalanan menuju masa depan itu, baru saja dimulai.

接著讀