Mampukah Industri Otomotif Inggris Bangkit Kembali?
Belum lama ini, Society of Motor Manufacturers and Traders (SMMT) merilis data produksi mobil Inggri...
Belum lama ini, Society of Motor Manufacturers and Traders (SMMT) merilis data produksi mobil Inggris untuk paruh pertama tahun 2025 — dan hasilnya mengecewakan.
Total hanya 417.000 unit mobil baru yang diproduksi, menjadi catatan terendah untuk periode yang sama sejak 1953. Dari posisi peringkat 10 dunia pada tahun 2019, Inggris kini terjun bebas ke peringkat 18 dunia dan peringkat 6 Eropa — kalah bukan hanya dari Jerman, Prancis, dan Spanyol, tetapi juga dari Ceko dan Slovakia.
Kondisi makin parah pada bulan Mei, dengan produksi hanya 49.800 unit, anjlok 32,8% dibanding periode yang sama tahun lalu. Ini menjadi angka bulanan terendah sejak 1949 (kecuali tahun 2020 akibat pandemi). Bisa dikatakan, di masa damai sejak awal abad ke-20, industri otomotif Inggris belum pernah sesuram ini — bahkan saat krisis finansial 2008 pun tidak separah ini.
1. Serangan Mendadak dari Tarif Amerika Serikat
Penyebab pertama penurunan drastis ini adalah serangkaian kebijakan tarif baru dari Amerika Serikat terhadap mobil buatan Inggris:
- 12 Maret — Tarif 25% untuk impor baja, aluminium, dan produk turunannya.
- 3 April — Tarif 25% untuk semua mobil dan truk ringan impor.
- 3 Mei — Tarif 25% untuk suku cadang mobil impor.
Serangkaian “pukulan tiga kali” ini membuat produsen mobil Inggris kelabakan.
AS merupakan pasar ekspor mobil terbesar kedua bagi Inggris, menyerap sekitar 100.000 unit pada 2024 atau hampir 17% dari total ekspor mobil Inggris. Tarif baru ini memukul keras, terutama merek-merek premium.
Contohnya Jaguar Land Rover (JLR): biaya ekspor satu unit SUV F-Pace ke AS melonjak lebih dari 20.000 dolar AS, menurunkan minat beli konsumen. Akibatnya, penjualan JLR di AS pada April–Mei turun lebih dari 15%, mengacaukan rencana produksi di Inggris.
Meski tarif mobil turun dari 25% menjadi 10% pada Mei dan tarif baja/aluminium dihapus, tarif tersebut tetap empat kali lipat dari level sebelum April 2025, dengan batas kuota 100.000 unit sebelum kembali ke tarif 25%.
2. Brexit: Luka Lama yang Belum Sembuh
Jika tarif AS adalah pukulan mendadak, maka Brexit adalah luka kronis yang menggerogoti industri otomotif Inggris selama satu dekade terakhir.
Brexit memicu efek domino: gangguan pasokan, kenaikan biaya suku cadang, penarikan investasi, kebijakan yang berubah-ubah, hingga lambannya transisi ke kendaraan listrik.
Pemeriksaan perbatasan memperbesar biaya logistik, memperlambat pengiriman, dan memicu ketegangan dagang dengan Uni Eropa.
Inflasi memperburuk keadaan — pada Juli 2025, inflasi Inggris mencapai titik tertinggi dalam 18 bulan. Harga energi dan bahan baku melonjak, membuat biaya produksi membengkak. Menurut analis sementara SMMT, Sarah Ellis:
“Harga listrik di Inggris kini hampir dua kali lipat dibanding pesaing utama di Eropa.”
3. Nissan Sunderland: Ikon yang Terancam Runtuh
Korban paling mencolok adalah pabrik Nissan di Sunderland, yang pernah menjadi pabrik mobil terbesar dan paling produktif di Inggris.
Pada puncaknya di 2011, pabrik ini memproduksi lebih dari 500.000 unit per tahun. Tahun 2024, produksinya anjlok menjadi 282.000 unit, jauh di bawah kapasitas 600.000 unit.
Selain dampak Brexit, Nissan global juga sedang terseok-seok, terutama dalam persaingan kendaraan listrik. Perusahaan berencana memangkas 9.000 karyawan dan mengurangi kapasitas global sebesar 20% untuk menghemat 2,6 miliar dolar AS.
Produksi di Sunderland makin tertekan karena generasi baru Leaf EV baru akan diproduksi pada Maret 2026, menciptakan kekosongan produksi.
Peringatan internal Nissan bahkan menyebut:
“Kami mungkin hanya punya waktu 12–14 bulan untuk bertahan.”
Jika Sunderland tumbang, sepertiga produksi mobil Inggris akan lenyap.
4. Arus Keluar Merek-Merek Otomotif
Dalam 10 tahun terakhir, banyak produsen meninggalkan Inggris:
- Ford menutup beberapa pabrik antara 2014–2020.
- Honda menutup pabrik Swindon pada 2021.
- BMW membatalkan investasi £600 juta untuk produksi MINI EV di Inggris pada 2024 dan memindahkannya ke China.
Sementara itu, MG milik SAIC China menutup produksi di Inggris pada 2016 namun mempertahankan pusat desain di Birmingham. MG4 EV yang diluncurkan pada 2022 sukses besar — terjual 81.536 unit pada 2024, masuk 10 besar merek terlaris di Inggris.
Kisah MG membuktikan bahwa konsumen Inggris masih menginginkan EV yang terjangkau, stylish, dan terasa “lokal”, meski sebenarnya dimiliki asing.
5. Ancaman Terhadap Masa Depan EV Inggris
Mulai 2027, aturan dagang UE–Inggris akan memberlakukan tarif 10% pada EV yang tidak memenuhi syarat kandungan lokal (60% baterai dan 45% komponen dari UE/Inggris).
Saat ini, kapasitas baterai Inggris hanya cukup untuk 50.000 EV per tahun. Satu-satunya gigafactory ada di pabrik Nissan dengan kapasitas 2GWh — hanya cukup untuk sekitar 40.000 kendaraan.
Rencana ekspansi seperti proyek 11GWh Nissan dan pabrik baterai £4 miliar Tata untuk JLR masih dibayangi ketidakpastian politik.
Kegagalan Britishvolt pada 2023 menjadi peringatan keras: tanpa kebijakan dan pendanaan konsisten, proyek baterai besar akan ambruk
6. Industri yang Dikuasai Asing
Kini, hampir 90% industri otomotif Inggris dimiliki oleh asing: MINI (BMW), Vauxhall (Stellantis), Lotus (Geely), JLR (Tata), MG (SAIC), hingga merek-merek mewah seperti McLaren, Aston Martin, dan Bentley pun dimiliki pihak luar negeri.
Label “Made in Britain” kini lebih menjadi simbol nostalgia ketimbang kenyataan kepemilikan.
7. Tradisi Menghambat Diri Sendiri
Sejarah panjang kebijakan keliru telah berkali-kali menghambat industri otomotif Inggris — dari Undang-Undang Bendera Merah di abad ke-19, penolakan terhadap lini perakitan massal di awal abad ke-20, hingga deindustrialisasi demi sektor keuangan pada 1990-an.
Kini, kebijakan EV berubah setiap kali pemerintahan berganti, membuat investor ragu. Yang dibutuhkan adalah stabilitas jangka panjang — namun sejarah menunjukkan, Inggris jarang bisa memberikannya.
Setelah Meninjau 1.289 Produk AI yang Gagal, Ini Alasan Mengapa Beberapa Kebutuhan Tidak Harus Diselesaikan dengan AI
Dalam beberapa tahun terakhir, industri AI telah mengalami lonjakan produk inovatif, namun bersamaan...
Kontroversi di China Open: Musetti Dikecam, Diminta Minta Maaf pada Penonton China
Beijing, 27 September — Insiden mengejutkan terjadi di ajang China Open ketika petenis Italia Lorenz...
Di Eropa, Tesla Tak Lagi Mampu Menandingi BYD
Banyak orang membeli Tesla karena percaya merek ini adalah simbol ketahanan—mobil listrik yang palin...
Meski Hanya Raup Laba 4%, Raksasa Chip Ponsel Qualcomm Nekat Taruhan Besar di Pasar AI PC — Mengapa?
“Keuntungan dari satu unit komputer sebenarnya tidak besar, hanya sekitar 4% saja,” ujar Don McGuire...
Show Lo Rayakan 30 Tahun Karier — Siap Gelar Konser di Genting pada 10 Januari Tahun Depan
Genting Highlands, 19 — Merayakan 30 tahun debutnya, “Raja Pop Asia” Show Lo akan kembali ke Arena o...
Negara Paling Diidamkan Wisatawan Dunia Diumumkan: Jepang Kembali Raih Gelar Juara Setelah 10 Tahun
(Tokyo, 24) Jepang kembali meraih gelar negara paling diidamkan untuk dikunjungi di dunia, setelah t...
Kejutan Besar! Timnas Basket China Kalah dari Korea — 3 Pemain Menghilang di Lapangan, Fans Minta Guo Shiqiang Panggil Kembali 2 Bintang
Timnas basket China mengalami kekalahan mengejutkan dari Korea, dan dalam pertandingan ini tiga pema...
Apakah “Era Mini-App” di AI Akan Tiba? — Keajaiban Flash Apps Lingguang
Selama lebih dari seminggu terakhir, saya paling sering menggunakan dua aplikasi AI: Gemini 3.0 dari...
Mourinho Telah Meramalkan! Pemain Turki Cetak Gol Tendangan Bebas Spektakuler, Tapi Wasit Bilang “Saya Tidak Melihatnya”
Baru-baru ini, standar kepemimpinan wasit di Turki kembali menjadi sorotan publik. Dalam sebuah laga...
Yang Ming Bongkar Insider Bursa Transfer: Zhang Zhenlin Pilih Shanghai, Zhou Qi Punya “Hak Istimewa”, dan Apakah Zhao Jiwei Akan Menyusul Pergi?
Belakangan ini, kabar pengunduran diri Yang Ming, mantan pelatih kepala Liaoning di CBA, langsung me...
Aktor antagonis senior Kong To meninggal dunia di usia 89 tahun, industri perfilman kehilangan sosok ikoniknya
(Hong Kong, 15 April) Kabar duka datang dari dunia hiburan Hong Kong. Aktor senior Kong To meninggal...
Perebutan Transfer Memanas: Manchester United dan Manchester City Berebut Bintang Liga Inggris Senilai 100 Juta, Juventus Diprediksi Sulit Membayar
Perpindahan ini sejak awal memang bukan persaingan yang seimbang. Menurut wartawan Matteo Moretto, J...