2026年9月10日

Di Eropa, Tesla Tak Lagi Mampu Menandingi BYD

Banyak orang membeli Tesla karena percaya merek ini adalah simbol ketahanan—mobil listrik yang palin...

Banyak orang membeli Tesla karena percaya merek ini adalah simbol ketahanan—mobil listrik yang paling “aman dari kejatuhan”. Tapi izinkan saya cerita sesuatu yang mengejutkan: di Eropa, Tesla benar-benar semakin dekat ke jurang kehancuran.

Berdasarkan data dari ACEA (European Automobile Manufacturers’ Association), penjualan Tesla pada Juli tahun ini anjlok hingga 42,4% dibandingkan tahun sebelumnya. Di pasar Uni Eropa yang berpopulasi 450 juta jiwa, Tesla hanya berhasil menjual 6.600 unit. Bandingkan dengan BYD, merek asal Tiongkok yang bahkan dikenai tarif bea masuk tinggi, berhasil menjual 9.698 unit—unggul jauh dari Tesla.

Lebih parahnya lagi, jika dibandingkan dengan performa November 2023 yang mencapai 31.810 unit, penjualan Tesla di Eropa kini telah merosot hampir 80%. Ini bukan sekadar penurunan biasa—ini benar-benar kejatuhan yang drastis.

Jika melihat lebih luas, tren penurunan ini terjadi hampir di seluruh benua. Baik di Norwegia yang dikenal ramah terhadap mobil listrik, di negara-negara kuat seperti Jerman dan Prancis, maupun di Inggris yang sudah keluar dari Uni Eropa—semuanya menunjukkan gejala yang sama: masyarakat mulai meninggalkan Tesla. Di Spanyol, penurunannya bahkan mencapai 75%, sebuah angka yang mencerminkan kepanikan pasar.

Tekanan terhadap Tesla di Eropa kini berada pada titik tertinggi sepanjang sejarah. Dan sayangnya, bukan hanya di Eropa saja kondisi ini terjadi. Menurut laporan Reuters, pada Agustus lalu, pangsa pasar Tesla di segmen kendaraan energi baru di Amerika Serikat turun menjadi 38%, untuk pertama kalinya sejak 2017 Tesla jatuh di bawah 40%. Sekilas tampak tidak fatal—hingga kita ingat bahwa Tesla pernah menguasai 80% pasar EV Amerika. Dari 2021, penurunan terjadi terus-menerus: tahun lalu jatuh di bawah 50%, kini bahkan tak lagi mencapai 40%.

Secara global, Tesla juga tidak dalam kondisi ideal. Di Tiongkok, penjualan bulanan berkisar antara 30.000 hingga 40.000 unit, stabil tapi jauh di bawah pertumbuhan pasar EV domestik yang mencapai 20% per tahun.

Masalah terbesar Tesla? Kompetisi yang semakin ketat. Kini, pembeli dengan anggaran sekitar Rp400 jutaan punya banyak pilihan selain Model 3 atau Model Y. Di Eropa, Tesla dikepung dari tiga arah: pabrikan Jerman yang menyerang langsung, merek Prancis dan Korea yang menyusup dengan produk lebih kecil dan murah, serta merek Tiongkok yang kian agresif di pasar global.

Ambil contoh Volkswagen—pabrikan Jerman ini kini sudah menyalip Tesla sebagai merek EV terlaris di Eropa pada paruh pertama 2025. Model andalannya, ID.7, terjual 36.565 unit, jauh di atas Model 3 yang hanya 27.084 unit. Keunggulannya sederhana: lebih besar dan lebih familiar bagi selera orang Eropa. Di sisi lain, Renault, Peugeot, dan Kia sukses menarik pelanggan dengan mobil listrik mungil seperti EV3, Renault 5, dan Mégane E-Tech—pilihan yang lebih praktis bagi pengguna perkotaan.

Lalu datanglah “gelombang merah” dari Timur: BYD. Model SEAL (Haibao) menjadi saingan langsung Model 3. Meski terkena bea impor tinggi hingga harga naik ke €45.000 (sekitar Rp760 juta)—lebih mahal dari Model 3 yang €40.000—BYD tetap tumbuh pesat di Eropa.

Namun, bukan hanya soal produk—Elon Musk juga ikut memperburuk situasi. Gaya komunikasinya yang semakin kontroversial di media sosial membuat banyak orang Eropa menjauh dari Tesla. Ia bahkan sempat turut mendukung aksi protes di London dan berkomentar soal pemilu Jerman, yang membuat publik dan politikus sama-sama geram.

Di Inggris, muncul gerakan “Everyone Hates Elon” yang menyerukan boikot terhadap produk Tesla dan ajakan untuk menghapus akun X. Sebuah survei T-Online terhadap 100.000 warga Jerman menunjukkan 94% responden menyatakan tidak akan membeli Tesla, dan hanya 3% yang masih mempertimbangkannya. Di Amerika Serikat sendiri, sejumlah aktivis anti-Musk bahkan melakukan aksi vandalisme terhadap showroom dan stasiun Supercharger Tesla.

Dulu, Tesla adalah simbol kemajuan teknologi dan masa depan mobilitas. Sekarang, di mata banyak orang Eropa, merek ini telah berubah menjadi ikon sayap kanan teknologi—sebuah citra berisiko di pasar yang liberal dan progresif.

Masalah lain, Musk kini lebih sibuk dengan proyek AI dan robotika, bahkan menyebut Tesla sebagai perusahaan robot AI, seolah melupakan bisnis mobil listrik yang membesarkannya. Tak heran, setelah Model Y versi Long Range, Tesla belum meluncurkan produk massal baru selama bertahun-tahun. Cybertruck dan Semi Truck memang futuristik, tapi jauh dari kebutuhan pasar umum. Model 3 dan Y—yang dirilis masing-masing pada 2017 dan 2021—masih menjadi tulang punggung penjualan, padahal sudah mulai terasa usang di tengah derasnya inovasi pesaing.

Meski begitu, secara teknis Tesla masih kuat. Efisiensi energi Model 3 yang di bawah 14 kWh/100 km masih mengungguli Volkswagen ID.7 yang mencapai 14–16 kWh. Ditambah jaringan Supercharger yang luas, Tesla masih lebih hemat dan praktis. Namun, kekuatan teknologi kini tak cukup menahan erosi reputasi.

Sementara BYD mungkin lebih mahal karena bea impor, faktor emosi dan persepsi publik jauh lebih menentukan. Dan di Eropa, emosi publik kini jelas berpihak pada pesaing Tesla.

Beberapa tahun lalu, interior minimalis Tesla dan sistem kendali berbasis layar sempat menuai kritik, tapi justru jadi tren karena Tesla dianggap “mobil masa depan”. Kini, ketika aura futuristik itu memudar dan kontroversi makin banyak, bahkan teknologi terbaik pun sulit menyelamatkan citra merek.

Jika keadaan ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin Tesla akan menghadapi kenyataan pahit: di Eropa, merek yang dulu tak tergoyahkan itu benar-benar bisa jatuh dari tahtanya.

接著讀

Kabar Olahraga

⚡ Kejutan Liga Inggris: Villa Menang 8 Kali Berturut-turut Aston Villa 2-1 Chelsea: Watkins cetak du...

255 天前