2026年9月10日

Sutradara Wong Jing Murka soal Film *Feng Lin Huo Shan*! “Penuh Pamer, Jelas Sekali Para Aktor Telah Dieksploitasi!”

“Pamer. Selama 120 menit hanya pamer.” Satu kalimat dari sutradara legendaris Wong Jing langsung mem...

“Pamer. Selama 120 menit hanya pamer.” Satu kalimat dari sutradara legendaris Wong Jing langsung membuat film blockbuster Feng Lin Huo Shan menjadi pusat perdebatan panas selama libur Nasional. Menurut Wong Jing, karya yang menampilkan bintang besar seperti Takeshi Kaneshiro dan Tony Leung Ka-fai ini bukanlah sebuah proses kreatif, melainkan bentuk penyiksaan terhadap para aktor. “Wong Kar-wai memang menekan aktornya, tapi hasilnya luar biasa. Sementara di film ini, semua pemain terlihat seperti terikat kontrak—memaksakan diri untuk menyelesaikan adegan, tapi hasilnya tetap buruk,” ujarnya tajam. Lebih pedas lagi ketika ia menambahkan, “Tanpa ayah yang kaya, film ini mungkin tidak akan pernah selesai.” Meski tidak menyebut nama, sindiran itu jelas ditujukan pada Juno Mak—sutradara kaya raya yang juga dikenal lewat Rigor Mortis dan Sons of the Neon Night. Tak hanya Wong Jing, aktor senior Nat Chan juga ikut menambah bara. Ia mengaku tidak menonton film tersebut dan tidak paham ceritanya, namun terang-terangan iri dengan dana produksi sebesar HK$400 juta. “Kalau saya punya uang segitu, saya bisa bikin empat puluh film!” katanya. Kritik beruntun dari dua veteran Hong Kong itu langsung membuat film yang sudah gagal di box office ini tenggelam semakin dalam di pusaran kontroversi. Tak ada yang menyangka, proyek yang digarap selama tujuh tahun dengan investasi HK$450 juta—dijuluki “penyelamat film Hong Kong”—justru berubah menjadi lelucon terbesar musim liburan. Setelah empat hari tayang, pendapatan box office hanya menembus 40 juta yuan, dengan porsi layar anjlok ke 5,2%. Perkiraan akhir pun suram—total pendapatan tak akan mencapai 100 juta, yang berarti kerugian lebih dari 300 juta yuan. Ambisi besar Juno Mak sudah terlihat sejak awal. Anggaran awal hanya HK$150 juta, tapi makin lama makin gila: membangun set 60.000 meter persegi di Huizhou untuk meniru Causeway Bay dalam skala 1:1, menyewa mesin salju yang setiap hari menghabiskan biaya setara satu mobil Mercedes C-Class, bahkan menunda syuting berbulan-bulan demi “suasana musim dingin yang lebih tragis”, yang akhirnya menghancurkan jadwal para aktor. Biaya aktor pun tidak kalah fantastis. Takeshi Kaneshiro sendiri mengambil sepertiga dari total bayaran pemain, dan hanya untuk akomodasi hotel selama tiga tahun, produksi menghabiskan lebih dari HK$20 juta. Ditambah bayaran besar untuk Sean Lau dan Louis Koo, sebagian besar anggaran lenyap tanpa menghasilkan kualitas sepadan. Awalnya film ini direncanakan sebagai tetralogi, tapi ketika dana habis di tengah jalan, cerita dipotong menjadi satu film berantakan. Dari 180 halaman naskah, tersisa hanya 110, dan hubungan antarkarakter menjadi kusut seperti jaring laba-laba. Kaneshiro muncul hanya 20 menit dengan kurang dari sepuluh dialog, sementara subplot Sean Lau dipangkas sampai tinggal bayangan. Tak heran penonton mengejek, “Bayar tiket mahal cuma buat nonton video musik mahal—hitam putih, slow motion, sampai dikira proyektornya rusak.” Tuduhan Wong Jing soal “menyiksa aktor” ternyata bukan metafora. Media Hong Kong mengungkap kejadian mengejutkan di balik layar: dalam satu adegan gantung diri, stuntman Richie Jen benar-benar digantung tanpa perlindungan memadai. Adegan yang seharusnya 10 detik, diperpanjang jadi hampir semenit sebelum sutradara berteriak “cut” — saat sang stuntman sudah pingsan! Asuransi menolak menanggung, dan produksi rugi besar hingga tujuh digit dalam sehari. Insiden itu memicu kemarahan besar di lokasi. Richie Jen hampir berkelahi dengan sang sutradara dan menolak kembali syuting. Semua adegannya dihapus, meski wajahnya masih muncul setengah di poster. Takeshi Kaneshiro ikut mendukung dan keluar dari proyek. Louis Koo, yang semula dijadwalkan tampil sebagai cameo, langsung terbang ke Maladewa begitu dengar kabar reshoot. Agennya berkata tegas, “Tidak ada pembicaraan, kecuali bayaran naik.” Bahkan koreografer laga Stephen Tung tak tahan lagi: “90% adegan yang saya rancang dihapus, nama saya pun tak disebut. Film ini sebenarnya untuk siapa?” Ia akhirnya menyebut Juno Mak sebagai “sutradara dengan masalah mental.” Tony Leung Ka-fai menutup semuanya dengan sindiran dingin. Saat ditanya soal pengalamannya dalam promosi film, ia hanya berkata sambil memutar mata: “Mungkin setelah saya meninggal, baru bisa lihat versi director’s cut-nya.” Kalimat itu langsung menelanjangi kenyataan pahit—para aktor bukan kolaborator, melainkan korban ego sang sutradara. Semua orang masih ingat tahun 2013, saat Juno Mak mengejutkan dunia dengan Rigor Mortis, meraih penghargaan dan tampil di festival internasional. Banyak yang mengira Hong Kong telah menemukan talenta visioner baru. Tapi Feng Lin Huo Shan justru membuka semua kelemahannya—meniru gaya Wong Kar-wai tanpa kedalaman, mencoba struktur epik ala Johnnie To tanpa kemampuan bercerita. Kritikus mencibir, “Dia kena penyakit Wong Kar-wai, tapi tak punya bakatnya.” Ironisnya, film yang digadang-gadang akan “diakui dunia” malah dipermalukan. Setelah pemutaran di Cannes, distributor asing kabur, dan perwakilan Netflix hanya bertanya, “Apakah ada versi 90 menitnya?” Penonton di Tiongkok pun lebih kejam—banyak yang meninggalkan bioskop di tengah jalan, dan ada yang berkomentar, “Film ini bikin The White Storm 3 terlihat seperti The Godfather.” Kini, kalimat Wong Jing “Saya benar-benar iri pada sutradara ini” terasa penuh sindiran. Ayah Juno, konglomerat Clement Mak, memang sempat turun tangan membawa investor seperti Sil-Metropole dan Shaw Brothers agar proyek ini tak gagal total. Tapi perfilman bukan mainan anak orang kaya. Peter Chan dan Ann Hui juga lahir dari keluarga berada, tapi mereka dihormati karena kerendahan hati dan dedikasi terhadap seni. Ketika Juno Mak memperlakukan hidup sebagai properti film dan para aktor sebagai latar dekoratif, hasilnya bukan karya seni—melainkan pelajaran pahit senilai HK$400 juta tentang bagaimana kesombongan bisa menghancurkan impian sinema sebesar apa pun.

接著讀