2026年9月10日

Blogger Ungkap KOL Tak Pernah Cek Iklan: Klaim “Isi Daya dari 10% ke 80% Hanya 7 Detik” Jadi Bahan Ejekan Netizen

Kuaikeji, 12 Oktober — Baru-baru ini, beberapa KOL (Key Opinion Leader) menuai gelombang ejekan dari...

Kuaikeji, 12 Oktober — Baru-baru ini, beberapa KOL (Key Opinion Leader) menuai gelombang ejekan dari netizen setelah memposting iklan sebuah merek dengan klaim yang jelas tak masuk akal: perangkat tersebut dikatakan bisa mengisi daya dari 10% hingga 80% hanya dalam tujuh detik.

Menanggapi hal ini, blogger teknologi @科技新一 angkat bicara di Weibo, membongkar kekacauan yang lebih dalam di balik industri pemasaran KOL. Unggahannya langsung menarik perhatian besar di dunia maya.

Menurut sang blogger, insiden “gagal total” para KOL ini bukanlah kebetulan. “Sebagian besar KOL bahkan tidak memeriksa naskah iklan sebelum dipublikasikan,” ungkapnya. Masalah utamanya, kata dia, terletak pada daya tarik rendah dari iklan yang terlalu bersifat promosi keras (hard-sell). Penonton sudah terbiasa “melewati otomatis” konten seperti itu, membuat para KOL kehilangan motivasi untuk meninjau atau memperbaiki materi yang mereka bagikan.

Sebagai gantinya, banyak influencer hanya mengandalkan strategi permukaan seperti giveaway, undian, atau pembagian angpao interaktif, demi menciptakan ilusi keterlibatan yang tinggi. Namun, nyatanya sangat sedikit orang yang benar-benar memperhatikan isi pesan iklan tersebut.

Blogger itu juga mengungkapkan bahwa banyak perusahaan hanya menilai keberhasilan kampanye dari jumlah interaksi, tanpa memeriksa apakah interaksi tersebut nyata atau sekadar hasil dari akun palsu. Pola pikir yang mengutamakan angka daripada hasil nyata ini, katanya, telah membuat banyak anggaran pemasaran terbuang sia-sia tanpa hasil berarti. Hanya segelintir tim PR yang benar-benar menaruh perhatian pada kualitas konten dan berusaha menciptakan materi yang autentik dan menarik.

“Sebagai seorang veteran media di Weibo, saya merasa ini cukup menyedihkan,” ujarnya. Kasus “pengisian 7 detik” ini bukan hanya menunjukkan kurangnya pengawasan konten dari KOL, tetapi juga mencerminkan penyakit lama industri pemasaran digital — terlalu fokus pada tampilan, melupakan esensi sebenarnya.

接著讀