2026年9月10日

Demi Menyaingi DJI Pocket 3, Honor Kembali Menapaki “Jalan Berliku” yang Pernah Ditinggalkannya 10 Tahun Lalu

Desas-desus beredar bahwa DJI secara tiba-tiba menggelar promo besar-besaran untuk Pocket 3 pada 9 O...

Desas-desus beredar bahwa DJI secara tiba-tiba menggelar promo besar-besaran untuk Pocket 3 pada 9 Oktober lalu setelah mengetahui bahwa merek-merek besar seperti OPPO dan vivo berencana masuk ke pasar kamera gimbal. Benar atau tidak, satu hal pasti: penantang untuk DJI akhirnya muncul. Namun yang mengejutkan, bukan OPPO atau vivo yang melangkah lebih dulu, melainkan Honor.

Pada 15 Oktober, acara peluncuran Magic 8 Series yang awalnya berlangsung normal tiba-tiba berubah arah ketika Honor memperkenalkan “One More Thing”: sebuah Robot Phone, ponsel konsep dengan kamera gimbal bergaya robot.

Secara teknis, perangkat ini masih berstatus konsep dan baru akan debut resmi di ajang MWC Barcelona 2026. Dengan desain yang futuristik dan ide-ide yang berani, belum ada jaminan apakah fitur-fitur tersebut akan benar-benar masuk ke tahap produksi massal. Namun satu hal yang jelas—Robot Phone ini cukup untuk membuat DJI sedikit waspada.

Smartphone “Penyimpang”

Honor mendefinisikan Robot Phone sebagai “spesies baru yang menggabungkan otak AI dengan tubuh robotik.” Menurut perusahaan, perangkat ini memiliki kecerdasan buatan super canggih yang bisa memahami lingkungan di sekitarnya, bergerak seperti robot, dan bertindak layaknya fotografer pribadi yang selalu siap menangkap setiap momen berharga.

Tapi mari tinggalkan dulu jargon futuristiknya. Inti dari inovasi ini adalah kamera gimbal mekanis yang bisa berputar dari belakang ke depan—jelas terinspirasi dari DJI Pocket 3.

Kamera belakang Robot Phone terpasang pada lengan mekanik yang tersembunyi di dalam modul kamera. Saat diaktifkan, kaca pelindung bergeser ke samping dan kamera melakukan gerakan “salto” ke depan, berubah menjadi modul gimbal menghadap depan.

Dalam video demo resmi, kamera ini bahkan “mengintip” keluar dari saku baju layaknya kepala robot kecil yang sedang mengamati dunia. Fitur tersebut menonjolkan kemampuan pelacakan otomatis—kamera dapat mengenali dan mengikuti objek yang bergerak dengan halus, mirip dengan sistem ActiveTrack milik DJI.

Honor juga menunjukkan kemampuan kamera ini dalam merekam aktivitas ekstrem seperti terjun payung, mengisyaratkan performa stabilisasi dan adaptasi yang tinggi. Ada pula fitur asisten AI seperti saat pengguna memilih pakaian, di mana kamera menyesuaikan sudut pandang secara otomatis dan menampilkan rekomendasi “DRESS CODE” di layar.

Jika kita kupas narasi AI dan “robotik”-nya, esensi sebenarnya sangat jelas: Honor sedang menantang langsung DJI Pocket 3. Kedua produk mengedepankan kamera gimbal terintegrasi yang cerdas, stabil, dan praktis untuk konten kreator solo serta vlogger.

“Pocket 3” Versi Terpadu

Robot Phone pada dasarnya adalah smartphone dengan DJI Pocket 3 yang “tertanam” di dalamnya. Konsep ini menggabungkan fleksibilitas mekanis dari gimbal dengan kecerdasan AI untuk menghadirkan pengalaman perekaman otomatis dan stabil tanpa perangkat tambahan.

Strategi Honor pun lebih ambisius daripada sekadar bersaing secara produk-ke-produk. Mereka ingin mengubah kategori itu sendiri. Bukan bersaing dengan DJI lewat spesifikasi gimbal, melainkan menjadikan kamera gimbal mandiri sebagai perangkat yang tak lagi diperlukan—seperti bagaimana smartphone menggeser kamera saku satu dekade lalu.

Namun untuk saat ini, DJI belum perlu khawatir. Ketenangan itu justru datang dari tantangan besar yang dihadapi Honor sendiri.

Realitas yang Keras

Meski konsepnya menggoda, Robot Phone menghadapi tantangan rekayasa yang sangat besar. Ini bukan pertama kalinya Honor bermain dengan desain kamera mekanik. Pada 2015, mereka sudah pernah meluncurkan Honor 7i dengan kamera belakang yang bisa berputar ke depan—gagasan inovatif yang cepat menghilang dari pasaran.

Honor 7i menggunakan kamera utama 13MP yang bisa diputar ke depan untuk selfie, jauh lebih unggul dari kamera depan 2MP atau 8MP pada masa itu. Namun mekanisme putarnya memakan banyak ruang di dalam bodi, mengorbankan kapasitas baterai dan ukuran sensor. Seiring berkembangnya teknologi sensor besar dan kebutuhan daya tinggi, desain semacam ini menjadi tidak efisien.

Sepuluh tahun berlalu, masalah yang sama kini semakin kompleks. Tren smartphone masa kini adalah tipis, ringan, dan berperforma tinggi dengan baterai besar serta sistem pendingin yang efisien.

Struktur lipat dan rotasi multi-sumbu Robot Phone akan mengambil ruang besar di dalam perangkat, menekan area baterai dan pendingin. Motor dan gear-nya harus tahan debu, air, dan panas berlebih. Agar gimbal bergerak cepat dan ringan, ukuran modul kamera harus diperkecil—yang artinya sulit menggunakan sensor besar kelas flagship. Akibatnya, bisa jadi Honor mengorbankan kualitas gambar demi struktur yang kompleks.

Sementara itu, DJI Pocket 3 tetap menjadi perangkat profesional sejati, dengan dukungan 10-Bit D-Log M, HLG HDR, dan alur kerja video kelas pro—sesuatu yang masih sulit dicapai oleh smartphone mana pun saat ini, termasuk Honor sendiri.

Inovasi yang Layak Dihargai

Secara realistis, Honor Robot Phone mungkin tidak akan menjadi produk massal atau “pembunuh” Pocket 3. Bahkan belum tentu akan benar-benar diproduksi. Tapi mungkin memang bukan itu tujuannya.

Honor menyebutnya sebagai bagian dari “Strategi Alpha”—sebuah eksperimen untuk menjajaki masa depan. Walau nanti versi produksinya disederhanakan, keberanian Honor dalam berinovasi tetap patut diapresiasi.

Pasar smartphone kini tengah jenuh dengan desain serupa dan inovasi kecil-kecilan. Langkah Honor untuk menghadirkan konsep baru, meski penuh risiko, adalah sesuatu yang segar. Ingat saat banyak orang menertawakan layar belakang Xiaomi 17 Pro sebagai inovasi “tidak berguna”? Pada akhirnya, produk itu justru terjual lebih dari satu juta unit.

Mungkin ide “nyeleneh” Honor ini juga bisa memicu tren baru atau setidaknya menghidupkan kembali semangat industri yang mulai lesu.

Jadi meski nantinya Robot Phone tak sampai ke tangan konsumen, Honor tetap pantas mendapat tepuk tangan. Setidaknya mereka berani melakukan sesuatu yang tak lagi banyak dilakukan oleh pemain besar: menghadirkan kembali rasa antusiasme dan kejutan dalam dunia smartphone.

接著讀