2026年9月10日

Apakah James Trafford Akan Menyesal Kembali ke Manchester City?

-

Kepindahan James Trafford kembali ke Manchester City pada musim panas lalu awalnya tampak seperti mimpi yang jadi kenyataan. Namun, baru beberapa pekan berjalan, kiper berusia 22 tahun itu mungkin mulai bertanya-tanya apakah pilihannya tepat.

Lulusan akademi City ini sebelumnya tidak pernah tampil di tim utama sebelum hijrah ke Burnley pada 2023. Bersama The Clarets, ia mengalami pahitnya degradasi sekaligus memimpin kebangkitan luar biasa dengan menjuarai Championship. Penampilannya yang gemilang membuatnya dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Championship versi PFA.

Kembali ke Etihad, Trafford langsung mendapat kehormatan mengenakan jersey nomor satu. Ia bahkan menjadi starter dalam tiga laga perdana Premier League musim ini, dan diprediksi siap bersaing dengan Ederson. Namun, skenario berubah drastis di hari terakhir bursa: Ederson dijual ke Fenerbahce, dan Pep Guardiola justru memilih mendatangkan kiper bintang Italia, Gianluigi Donnarumma, dari PSG seharga £26 juta.

Kini Trafford kembali ke bangku cadangan. Kesempatan berikutnya akan datang saat menghadapi Huddersfield di Carabao Cup, setelah Guardiola memastikan ia tampil sebagai starter di putaran ketiga.

Janji yang Patah

Trafford sebelumnya menolak tawaran Newcastle demi pulang ke City, yakin bahwa jalannya menuju posisi utama sudah terbuka. Mantan kiper City, Shay Given, berkata kepada BBC Radio 5 Live:

“Pep pasti sudah menjanjikannya: ‘Inilah waktumu, kamu akan pakai nomor satu, bermain di Premier League, berjuang di Liga Champions, bahkan bisa ke Piala Dunia.’ Dua minggu kemudian Donnarumma datang. Kalau saya, pasti sangat marah!”

Pada Juli lalu, Trafford berkata penuh harapan: “Saya selalu bermimpi bisa kembali ke Manchester City. Ini adalah rumah saya.” City pun harus merogoh dana besar—antara £27 juta hingga £31 juta, menjadikannya salah satu kiper termahal asal Inggris.

Dari Rekor Transfer ke Masa Belajar

Bersama Burnley, Trafford tampil luar biasa dengan 29 clean sheet dalam 45 pertandingan Championship. Ia bahkan tampil impresif di debutnya bersama City, menjaga gawang bersih saat menang 4-0 atas Wolves. Namun, dengan kedatangan Donnarumma, perannya langsung berubah.

Pihak klub tetap menilai Trafford memiliki masa depan yang “luar biasa”. Guardiola pun memuji sikapnya:

“Luar biasa. Latihannya sangat bagus, bahkan lebih baik dari sebelumnya. Dengan saya, kiper kedua tetap banyak main. Dia akan belajar dari Gigi, dan soal masa depan, kita lihat nanti.”

Tantangan Berat

Tantangan yang dihadapi Trafford tidak main-main. Donnarumma bukan kiper biasa—ia adalah bakat generasi. Di usia 26 tahun, ia sudah menjadi kapten timnas Italia, mengoleksi 76 caps, meraih Trofi Yashin, dan menempati peringkat kesembilan Ballon d’Or. Fans Inggris tentu tak lupa penyelamatannya di final Euro 2020.

Bagi Guardiola, kesempatan merekrut kiper kelas dunia terlalu berharga untuk dilewatkan—meskipun itu berarti Trafford harus menunggu lebih lama untuk bersinar.

Seandainya bergabung dengan Newcastle, Trafford akan bersaing dengan Nick Pope yang juga sedang on-fire dengan empat clean sheet dalam lima laga. Namun persaingan itu mungkin terasa lebih seimbang ketimbang menghadapi salah satu kiper terbaik dunia di Etihad.

Lalu Apa Selanjutnya?

Untuk saat ini, Trafford harus memanfaatkan menit bermain di piala domestik dan sabar menunggu. Dengan City yang berkompetisi di empat ajang sekaligus, kesempatan tetap ada, meski panggung utama Premier League sementara menjauh.

Apakah ini langkah impian atau sekadar waktu yang kurang tepat? Trafford akan turun menghadapi Huddersfield pada Rabu malam—masih punya peluang untuk membuktikan diri, meski diam-diam mungkin bertanya: bagaimana jika dulu ia memilih Newcastle?

接著讀