2026年9月10日

Modi Tidak Gentar terhadap Tekanan Trump: Mengapa India Tetap Membeli Minyak Rusia Meski Dihantui

Kembalinya Trump ke Gedung Putih membawa kembali kebijakan perdagangan AS yang agresif. India kini m...

Kembalinya Trump ke Gedung Putih membawa kembali kebijakan perdagangan AS yang agresif. India kini menjadi salah satu target utama dalam “perang tarif” terbaru Washington. Mulai 1 Agustus 2025, AS menetapkan tarif 25% atas berbagai produk India, serta mengancam sanksi tambahan terhadap India karena tetap mengimpor energi dari Rusia. Namun, pemerintah Modi bersikap tegas: India akan terus membeli minyak dan gas dari Rusia. Di balik ketegasan ini, terdapat sejumlah pertimbangan strategis dan ekonomi yang mendalam.

1. Ketergantungan terhadap Pasar AS Relatif Rendah

Ekspor India ke AS hanya mencakup 2,1% dari total PDB-nya, sebagian besar berupa tekstil, bahan kimia, mesin, dan produk pertanian. Pasar-pasar alternatif tersedia, membuat India cukup tahan terhadap tekanan Washington.

2. Produk Teknologi Utama Dikecualikan dari Tarif

Trump mengecualikan smartphone, komputer, dan produk elektronik dari daftar tarif. Padahal, ekspor iPhone dari India ke AS melonjak 90% tahun lalu. Hal ini membuat dampak tarif terhadap surplus perdagangan India lebih terbatas.

3. Energi Rusia Jadi Tulang Punggung Strategis

Saat ini, 35% kebutuhan energi India dipasok Rusia, melalui kontrak jangka panjang dengan harga yang kompetitif. Peralihan dari pemasok Timur Tengah ke Rusia ini merupakan strategi energi jangka panjang India.

4. Hubungan Strategis India-Rusia yang Kuat

Hubungan India-Rusia sudah terjalin sejak tahun 1950-an dan mencakup sektor energi, pertahanan, serta nuklir. Lebih dari 50% peralatan militer India berasal dari Rusia. Dalam 10 tahun terakhir, Modi dan Putin telah bertemu 17 kali—menunjukkan kedekatan strategis yang tak mudah digoyang oleh AS.

5. Ancaman Sanksi Sekunder AS Kemungkinan Tak Efektif

Sanksi sekunder bertujuan menghukum negara yang berbisnis dengan Rusia. Namun, jika diterapkan terhadap India, itu justru akan memperburuk hubungan dagang AS-India yang strategis. Dalam konteks rivalitas AS-China, ini adalah risiko besar bagi Washington.

6. Perebutan Pengaruh dalam Rantai Pasok Global

Konflik ini mencerminkan pertarungan visi: “America First” vs. “Make in India.” AS ingin menarik kembali manufaktur ke dalam negeri, sementara India berupaya menjadi pusat produksi global. Hasilnya bisa mengubah peta perdagangan dan rantai pasok dunia secara signifikan.

Penutup:

Sikap tegas Modi menunjukkan kemandirian strategis India yang semakin kuat. Bukan lagi pion geopolitik semata, India kini menempuh jalur sendiri untuk menyeimbangkan kekuatan global dan melindungi kepentingan nasionalnya.

接著讀