2026年9月10日

Menembus Tantangan “Chip China”: Kebangkitan Solusi EDA Buatan Lokal

Industri chip selalu menjadi urat nadi persaingan teknologi global, dan setiap pergerakannya langsun...

Industri chip selalu menjadi urat nadi persaingan teknologi global, dan setiap pergerakannya langsung memicu perhatian dunia digital. Di tengah situasi internasional yang semakin kompleks dan rantai pasok semikonduktor global yang terfragmentasi, menjelang tanggal 1 November 2025, fokus utama kini beralih pada pertempuran di ranah perangkat lunak penting — terutama pada EDA (Electronic Design Automation).

EDA sering dijuluki sebagai “ibu dari chip” karena perannya yang vital dalam proses desain semikonduktor. Selama bertahun-tahun, pasar ini dikuasai oleh raksasa-raksasa luar negeri, menjadikannya salah satu titik lemah dalam upaya China untuk mencapai kemandirian chip. Namun, di tengah tantangan ini, muncul juga tanda-tanda kebangkitan dari solusi EDA buatan dalam negeri.

Dominasi Panjang Raksasa Global

Seperti pepatah mengatakan, “untuk bekerja dengan baik, peralatannya harus tajam.” EDA adalah perangkat lunak otomatisasi desain elektronik yang tak tergantikan dalam industri chip. Menurut Tang Zhimin, Dekan Fakultas Komputasi dan Mikroelektronika Universitas Teknologi Shenzhen, “Integrasi mendalam antara desain dan manufaktur adalah kunci untuk menghasilkan produk unggulan, dan EDA adalah jembatan utama yang menghubungkan keduanya.”

Dulu, ketika papan sirkuit hanya berisi beberapa transistor, desain masih bisa digambar dengan tangan. Kini, dengan miliaran transistor dalam satu chip, EDA menjadi sama pentingnya bagi industri semikonduktor seperti CAD untuk arsitektur atau Photoshop untuk desain visual.

Namun, pasar EDA telah lama dikuasai oleh tiga perusahaan Amerika — Synopsys, Cadence, dan Siemens EDA. Berdasarkan data TrendForce tahun 2024, ketiganya masing-masing menguasai 31%, 30%, dan 13% pangsa pasar global — total mencapai 74%. Di Tiongkok sendiri, dominasi mereka bahkan melampaui 70%.

Dominasi ini memiliki akar sejarah yang panjang. Sejak pertengahan 1980-an, ketiga raksasa tersebut telah membangun pondasinya, sementara perangkat lunak EDA pertama buatan Tiongkok, Panda System, baru lahir pada 1993. Meski tertinggal dalam teknologi, sistem tersebut sempat menarik perhatian karena harganya hanya sepersepuluh dari produk asing, hingga beberapa perusahaan Amerika pun sempat menggunakannya. Namun, ketika tiga raksasa EDA masuk ke pasar Tiongkok dengan strategi agresif seperti lisensi gratis dan kemitraan teknologi, Panda System perlahan tersingkir.

Seorang insinyur perangkat lunak mengatakan, “Setiap perangkat lunak punya satu hukum dasar: bukan soal bagus atau tidak, tapi apakah ada yang mau memakainya. Begitu sebuah ekosistem matang terbentuk, pemain baru sulit menembusnya.” Akibatnya, EDA pun menjadi titik lemah terbesar dalam rantai kemandirian chip nasional.

Permintaan Meningkat, Tekanan Semakin Berat

Beberapa tahun terakhir, perusahaan teknologi besar China mulai menempuh jalannya sendiri di dunia semikonduktor. Xiaomi meluncurkan chip SoC Surge O1, Li Auto mengembangkan chip penggerak otonom M100, Baidu menciptakan chip AI Kunlun, sementara Alibaba menghadirkan chip li-NPU untuk komputasi inferensi.

Lonjakan inovasi ini mendorong permintaan terhadap perangkat lunak EDA melonjak tajam. Menurut Asosiasi Industri Semikonduktor China, lebih dari 75% dari seluruh proses desain dan manufaktur chip bergantung pada EDA. Dengan kata lain, jika lisensi dari tiga raksasa EDA global dihentikan, seluruh industri bisa mengalami “choke point” atau kebuntuan kritis.

Laporan YuanChuan Tech Review menegaskan, “Tanpa lisensi EDA, perusahaan desain chip tidak bisa mengakses PDK terbaru dari pabrik, dan seluruh proses desain hingga produksi pun terhenti.” Maka, tanggung jawab untuk mengembangkan solusi EDA lokal kini menjadi semakin besar.

Jalan Panjang Menuju Terobosan

Meski menghadapi tekanan besar, EDA buatan dalam negeri tidak menyerah. Mereka memilih dua jalur utama untuk bertahan dan tumbuh.

Pertama, jalur diferensiasi. Penerus teknologi Panda System, yakni Empyrean Technology (Huada Jiutian), menemukan terobosan di bidang desain panel layar datar. Kini, satu dari tiga chip penggerak layar smartphone di dunia menggunakan perangkat lunak EDA mereka. Setelah memperkuat posisinya, perusahaan ini mulai memperluas jangkauan ke desain chip inti dan berhasil mencapai tingkat penetrasi 35% di perusahaan fabless domestik, dengan klien besar seperti HiSilicon dan ZTE Microelectronics.

Kedua, jalur fokus pada pasar kelas atas. Contoh menonjol adalah Xpeedic, yang berfokus pada pemodelan perangkat dan simulasi sirkuit untuk chip berperforma tinggi seperti 5G. Produk andalannya, NanoSpice, telah lulus sertifikasi proses Samsung 3nm GAA, menjadikannya salah satu dari hanya tiga pemain global setara dengan Synopsys dan Cadence.

Lebih dari itu, Xpeedic mengakuisisi beberapa penyedia IP untuk membentuk model “EDA + IP”, mempercepat proses dari desain hingga peluncuran produk chip dan meningkatkan daya saing di pasar global.

Gelombang Baru Inovator Lokal

Seiring ketidakpastian global meningkat, percepatan lokal EDA bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan strategis. Data TechNode menunjukkan bahwa di Tiongkok kini terdapat lebih dari 60 perusahaan yang aktif mengembangkan perangkat lunak EDA — jumlah yang melampaui seluruh wilayah dunia lainnya digabungkan.

Salah satu pendatang baru yang mencuri perhatian adalah QiYunFang. Perusahaan ini baru saja meluncurkan dua produk EDA untuk desain skematik dan PCB, dengan peningkatan performa hingga 30%, siklus pengembangan perangkat keras yang 40% lebih cepat, dan tingkat keberhasilan desain pertama yang meningkat 30%. Lebih dari 20.000 insinyur telah mengadopsinya.

Yang paling menarik, QiYunFang melakukan inovasi mendasar. Berbeda dari sistem EDA luar negeri yang berbasis kerja serial, QiYunFang memperkenalkan kolaborasi paralel, memungkinkan hingga 100 insinyur bekerja bersamaan pada desain skematik dan 20 insinyur pada desain PCB secara real-time.

Menurut laporan PhantomTech, “QiYunFang tidak hanya mengejar ketertinggalan, tapi justru melampaui — menciptakan standar baru lewat rekonstruksi algoritma dan inovasi arsitektur, menetapkan tolak ukur baru bagi efisiensi dan kompatibilitas global.”

AI Mendorong Lompatan Besar

Gelombang AI membawa peluang besar bagi industri EDA lokal untuk melompat lebih jauh. Model AI besar kini mampu memprediksi performa chip pada beban kerja tertentu, mengurangi pengulangan desain, serta meminimalkan kesalahan. Algoritma pembelajaran mesin juga dapat mengoptimalkan tata letak chip jauh lebih efisien daripada metode tradisional.

Yang menarik, dalam perlombaan EDA berbasis AI ini, perusahaan domestik dan global kini berada di garis start yang sama. Siapa pun yang berhasil menemukan “pengganda efisiensi” lebih dulu akan menjadi pemenang masa depan.

Sebagai contoh, Xpeedic tengah mengembangkan sistem pemodelan AI berbasis arsitektur Transformer, dengan target memangkas waktu pemodelan dari dua minggu menjadi hanya 24 jam.

Menuju Kemandirian Teknologi

Transformasi industri EDA kini tak terhindarkan. Membangun kemandirian dalam perangkat lunak inti bukan lagi target jangka panjang, melainkan misi mendesak. Baik pemain lama seperti Empyrean dan Xpeedic, maupun pendatang baru seperti QiYunFang, kini bahu membahu membangun ekosistem EDA nasional.

Suatu hari nanti, “Chip China” tak lagi bergantung pada siapa pun — dan saat itulah dunia akan benar-benar menyaksikan lahirnya kekuatan semikonduktor baru dari Timur.

接著讀

Uji Kekerasan Ekstrem Switch 2: Dihantam Tang Lebih dari 50 Kali Baru Retak — Nintendo Bikin Konsol Tahan Banting

Di tengah tren teknologi yang mengejar desain tipis dan estetika elegan, Nintendo diam-diam menghadirkan sebuah konsol yang sangat tahan banting — secara harfiah. Baru-baru ini, Zack Nelson dari channel YouTube terkenal JerryRigEverything melakukan pembongkaran menyeluruh dan uji ketahanan ekstrem terhadap Nintendo Switch 2. Hasilnya? Konsol ini jauh lebih kuat dari yang dibayangkan.

452 天前