2026年9月10日

Wang Junjie mengaku iri: pelatih terus mendorong dan memberi kesempatan, memaksimalkan Lin Wei—ia cetak 23 poin dan menunjukkan nilai sebagai combo guard.

Oregon kalah tipis 85–88 dari Rutgers lewat overtime, tapi pertandingan ini tetap menunjukkan sesuat...

Oregon kalah tipis 85–88 dari Rutgers lewat overtime, tapi pertandingan ini tetap menunjukkan sesuatu yang besar: versi terbaik Lin Wei musim ini. Sepanjang musim, ia sering kesulitan di sisi offense dan kerap “dingin” dalam akurasi tembakan. Namun kali ini ia bermain 33 menit, masuk 8 dari 14 tembakan, mencetak 6 dari 12 tripoin, total 23 poin dan 5 assist—angka yang sangat meledak untuk efisiensi dan produksinya. Bahkan di detik-detik akhir waktu normal, Lin memasukkan tripoin penyama kedudukan untuk memaksa overtime.

Sejak bergabung di NCAA musim ini, kontribusi Lin yang paling stabil sebenarnya adalah playmaking-nya. Di dalam tim, kemampuan mengatur serangan dan membaca permainan termasuk yang terbaik, dan itu membuatnya tetap mendapatkan menit bermain serta perlahan menyesuaikan diri dengan ritme basket kampus. Di laga ini pun, playmaking-nya masih jadi “lantai” performa: 5 assist adalah bukti ia tetap bisa memberi dampak walau tidak hanya lewat skor. Yang paling terasa adalah peningkatan dalam membaca defense dan mengambil keputusan—jauh lebih matang dibanding sebelumnya.

Kemampuan mencetak angka sebenarnya sudah lama dimiliki Lin, hanya saja selama ini belum konsisten keluar. Untungnya, di pertandingan ini tembakan tripoinnya sangat akurat—dan itulah efisiensi yang seharusnya ia pertahankan. Waktu di CBA pun Lin dikenal punya tembakan, dan dalam latihan internal pelatih juga sering menekankan bahwa persentasenya bagus. Nah, akhirnya performa latihan itu benar-benar terlihat di pertandingan resmi.

Ledakan ini juga tidak lepas dari kepercayaan pelatih. Musim ini Lin beberapa kali tampil buruk, dan pelatih sempat mengkritik serta menyoroti masalahnya di konferensi pers. Namun meski begitu, Lin tetap diberi menit bermain dan kesempatan “trial and error”, yang penting untuk perkembangan pemain muda. Hasilnya terlihat: Lin tampil seperti combo guard—bisa mengatur, bisa mencetak angka, dan berani mengambil tembakan krusial.

Di sisi lain, Wang Junjie pasti merasa iri. Ia seperti langsung ditarik keluar setiap kali membuat kesalahan, nyaris tanpa ruang toleransi. Lama-lama itu bisa membuat pemain jadi ragu-ragu dan tidak tegas, apalagi saat melawan tim kuat di mana kesempatan memang sudah sedikit. Dibanding itu, Lin memang lebih “beruntung” karena dipercaya. Semoga ia bisa menjaga momentum ini dan terus menampilkan performa tinggi ke depannya.

接著讀