2026年9月10日

Fakta Mengejutkan! ‘Pesanan Kecil Tembus 10 Ribu’ Hanyalah Tipuan – Benarkah Persaingan Ketat Memaksa Produsen Mobil Memalsukan Data?

Demi menjaga “gengsi”, sebagian merek mobil ternyata rela mengorbankan nilai paling mendasar: integr...

Demi menjaga “gengsi”, sebagian merek mobil ternyata rela mengorbankan nilai paling mendasar: integritas.

Baru-baru ini, blogger otomotif terkenal Wu Pei mengungkap di media sosial bahwa ada agensi iklan yang sudah menyiapkan kampanye “pesanan kecil tembus 10 ribu unit” berbulan-bulan sebelum peluncuran mobil baru. Ia memang tak menyebut merek secara langsung, namun praktik ini jelas melanggar semangat kejujuran industri, prinsip persaingan sehat, bahkan berpotensi menyalahi Undang-Undang Periklanan.

Ledakan Angka yang Terlalu Indah untuk Jadi Nyata

Sejak tahun lalu, laju peluncuran mobil—terutama di segmen kendaraan listrik yang sangat kompetitif—semakin kencang. Tak jarang, hanya beberapa hari setelah dibuka pemesanannya, angka order sudah diklaim mencapai puluhan ribu, lengkap dengan status “locked order” yang terdengar meyakinkan.

Selama ini, publik percaya begitu saja. Dengan adanya norma moral dan hukum, rasanya mustahil merek besar berani memalsukan data. Tapi kini, tampaknya sebagian pabrikan memang tak secara langsung mengarang angka, melainkan “merelakan” agensi iklan menciptakan ilusi kesuksesan demi memoles citra.

Bahkan dalam pertemuan media dengan para bos besar seperti Li Bin, Qin Lihong, dan He Xiaopeng, setiap kali ditanya soal angka order, mereka selalu berhati-hati:

“Data yang belum diaudit tidak akan kami publikasikan.”

Namun, seperti yang dikatakan Wu Pei, fenomena “pesanan kecil tembus 10 ribu” tetap marak—dan ironisnya, disambut antusias oleh eksekutif dan calon pembeli.

Mengapa Tipuan Ini Efektif?

Dari mobil harian di bawah 300 ribu yuan hingga EV premium di atasnya, klaim pesanan berlebih ada di mana-mana. Menurut EVTalk, ini menunjukkan ketidakpercayaan diri merek terhadap produknya—lalu mencoba membangun atmosfer “produk laris” secara instan.

Secara psikologis, trik ini bekerja. Angka besar memicu efek herd mentality: Kalau semua orang beli, pasti ini pilihan tepat. Sama seperti label “bestseller” atau “paling populer” di e-commerce.

Bagi agensi, memoles angka “small deposit” adalah strategi murah tapi berdampak besar. Small deposit hanyalah uang muka kecil yang bisa dikembalikan kapan saja—lebih sebagai indikator minat, bukan komitmen beli. Data yang benar-benar menunjukkan performa pasar adalah large deposit dan angka pengiriman resmi.

Sayangnya, memanipulasi angka small deposit dianggap “aman” karena risikonya kecil, tapi bisa memancing calon pembeli lain untuk membayar large deposit—membuat sensasi palsu berubah menjadi penjualan nyata.

Bukan Satu-satunya Trik Kotor di Industri Mobil

  1. Perang Harga
    Dalam beberapa tahun terakhir, perang diskon besar-besaran memang menguntungkan konsumen, tapi menimbulkan kerugian besar bagi pabrikan. Data Laporan Tahunan Industri Sirkulasi Otomotif China 2024 mencatat, hanya dalam 11 bulan, kerugian ritel kumulatif mencapai 177,6 miliar yuan.
  2. “Mobil Bekas Nol Kilometer”
    Mei lalu, Ketua Great Wall Motor, Wei Jianjun, mengkritik praktik mendaftarkan mobil baru sebagai mobil bekas demi mempercantik data penjualan. Mobil ini memang lebih murah, tapi pembeli kehilangan hak-hak eksklusif pemilik baru, dan pasar mobil baru serta bekas sama-sama terganggu.
  3. Kampanye Serangan Terorganisir
    Agustus lalu, Li Auto melaporkan ada lebih dari 40 postingan negatif serupa yang menyerang pemilik mobil mereka di satu platform—indikasi kuat adanya serangan berbayar, bukan kritik organik.

Suara “Anti-Overcompetition” Semakin Kencang

Tokoh besar seperti Li Shufu (Geely), Zeng Qinghong (GAC), Yin Tongyue (Chery), dan Zhu Huarong (Changan) sudah berulang kali menyerukan agar industri menghentikan persaingan tidak sehat dan praktik bisnis tanpa batas.

Menurut EVTalk, semua ini hanyalah gejala dari “involusi” ekstrem di industri otomotif. Solusi sejati adalah menggeser fokus dari perang harga dan perang marketing ke perang nilai—mendorong inovasi teknologi dan kekuatan produk yang nyata.

Arah ke Depan

Pemerintah kini turun tangan memberantas praktik curang—dari klaim otonom yang dilebih-lebihkan, penipuan harga, hingga tunggakan pembayaran ke pemasok. Namun, di pasar yang sesesak ini, tidak semua merek bisa menjadi nomor satu.

Bagi “pendatang terlambat” tanpa keunggulan jelas, godaan untuk memakai trik licik memang besar—tapi itu jalan pintas menuju kehancuran. Konsumen sekarang jauh lebih rasional dan kurang toleran terhadap kebohongan. Jika merek tidak segera beralih fokus pada penciptaan nilai nyata, mereka bahkan tak perlu dijatuhkan pesaing—mereka akan runtuh oleh kesalahan sendiri.

接著讀