2026年9月10日

Penguatan Nilai Ringgit — Benarkah Hanya Karena Dolar AS Melemah?

(Kuala Lumpur, 15 Februari) Seiring penguatan ringgit terhadap dolar AS dalam beberapa waktu terakhi...

(Kuala Lumpur, 15 Februari) Seiring penguatan ringgit terhadap dolar AS dalam beberapa waktu terakhir, para pengamat menilai pergerakan ringgit dipengaruhi banyak faktor dan tidak semata-mata ditentukan oleh faktor eksternal.

Sebagian pihak berpendapat penguatan ringgit terutama didorong pelemahan dolar dan ekspektasi penurunan suku bunga The Fed, bukan karena perbaikan fundamental Malaysia. Namun, pandangan ini tidak sepenuhnya disetujui oleh tim riset Maybank.

Dalam paparan media daring “Prospek Pasar Malaysia 2026”, Kepala Riset Valas Maybank, Andy, dan Kepala Ekonom Maybank Investment Bank, Suhaimi, menjelaskan bahwa ringgit ditopang kombinasi risiko eksternal dan dukungan fundamental domestik.

Ekonomi AS jadi ketidakpastian terbesar

Andy mengatakan keberlanjutan penguatan ringgit tetap bergantung pada dinamika risiko global serta keberlanjutan perbaikan struktural dalam negeri. Ketidakpastian terbesar datang dari ekonomi AS: bila data pertumbuhan atau manufaktur AS kembali menguat, pasar bisa menilai ulang waktu pemangkasan suku bunga—bahkan muncul kembali kekhawatiran kenaikan suku bunga—yang berpotensi menguatkan dolar dan menekan ringgit.

Ia juga menyoroti risiko gelembung AI. Keterlibatan Malaysia dalam rantai pasok AI global dan arus investasi terkait memang menopang ringgit, tetapi jika sentimen global berbalik karena kekhawatiran gelembung pecah dan dana kembali ke dolar, mata uang negara berkembang termasuk ringgit bisa menghadapi koreksi. Dari sisi kebijakan, ia menilai bank sentral kawasan cenderung tetap berhati-hati kecuali terjadi guncangan AI yang nyata terhadap sistem keuangan dan pertumbuhan.

Fundamental domestik ikut menopang

Suhaimi menegaskan penguatan ringgit tidak tepat jika dianggap hanya didorong faktor eksternal, karena fundamental domestik juga memberi dukungan nyata. Salah satu penopang penting adalah arus masuk investor asing yang berkelanjutan ke pasar obligasi Malaysia.

Ia menambahkan, kemajuan reformasi fiskal membuat defisit fiskal menyempit. Defisit tahun lalu bahkan berpotensi lebih rendah dari target pemerintah sebesar 3,8% PDB, serupa dengan 2024 ketika target defisit awal diturunkan dalam realisasinya.

Untuk tahun ini, Suhaimi memperkirakan pertumbuhan ekonomi tetap ditopang permintaan domestik. Kontribusi permintaan eksternal terhadap pertumbuhan bisa tetap negatif karena impor diproyeksikan tumbuh lebih cepat daripada ekspor. Impor yang kuat—khususnya barang modal—mencerminkan siklus kenaikan investasi yang masih berlanjut, sekaligus menegaskan ketahanan permintaan domestik.

接著讀