2026年9月10日

Jika Yang Hanshen Dikirim ke G League, Itu Bisa Jadi Awal Perjalanannya Kembali ke CBA — Cukup Lihat Contoh Zhou Qi

Jika Yang Hanshen Dikirim ke G League, Itu Bisa Jadi Awal Perjalanannya Kembali ke CBA — Cukup Lihat...

Jika Yang Hanshen Dikirim ke G League, Itu Bisa Jadi Awal Perjalanannya Kembali ke CBA — Cukup Lihat Contoh Zhou Qi

Oleh Jiang Shihua

Setelah lima laga musim reguler, Yang Hanshen kini berada di bawah sorotan tajam publik. Kritik datang dari berbagai arah: pergerakannya yang lambat, kemampuan fisik yang kurang solid, serta kesulitan mengikuti ritme cepat pertandingan NBA. Dalam laga melawan Utah Jazz, pemain lawan Kris Ris memanfaatkan peluang dengan sempurna, membuat posisi Yang semakin tergeser ke peran “penjaga bangku cadangan”. Jelas terlihat bahwa ia masih belum sepenuhnya beradaptasi dengan kerasnya permainan di NBA.

Banyak suara menyarankan agar Yang dikirim ke G League untuk “menimba pengalaman”. Namun menurut penulis, jika langkah itu benar-benar terjadi, justru itu akan menjadi awal dari perjalanan pulangnya ke CBA — seperti yang pernah dialami Zhou Qi.

Banyak orang belum menyadari seberapa serius situasi ini. Kontrak Yang bersama Portland Trail Blazers berbentuk 2+2, di mana dua tahun terakhir merupakan opsi tim. Artinya, hanya dua tahun pertama yang benar-benar dijamin. Jika di musim ini ia gagal menunjukkan nilai yang berarti, Blazers bisa saja menukarnya atau bahkan melepaskannya musim depan — tanpa beban finansial besar.

Perlu diingat, Blazers bahkan rela membeli kontrak Deandre Ayton demi menata ulang lini depan mereka. Dan meski performa Ayton kini menurun, ia tetap mampu mencetak angka dengan mudah saat berhadapan dengan Yang. Sederhananya, jika Blazers sedang dalam fase “tanking”, posisi Yang mungkin masih aman. Namun dari penampilan beberapa pertandingan awal musim, tim ini justru tampak serius memburu posisi play-in, yang otomatis membuat peluang Yang semakin tipis.

Hal-hal di luar lapangan seperti apakah ia membawa pacar atau makan malam di mana, bukanlah persoalan utama. Intinya, jika musim ini ia tetap tidak bisa menonjol, apakah Blazers akan punya kesabaran menunggu satu tahun lagi?

Memang, tidak sedikit pemain NBA yang berkembang lewat G League. Tetapi bagi pemain Tiongkok, terutama yang berposisi sebagai center, jalur itu nyaris tidak efektif. Tempo permainan dan tingkat fisik di G League tidak kalah keras dibanding NBA, dan lebih menonjolkan permainan individu. Siapa yang akan dengan sukarela memberi bola kepada seorang center yang belum dikenal?

Tanpa performa gemilang seperti rata-rata 20 poin dan 10 rebound per pertandingan, sulit bagi Yang untuk kembali menembus roster utama. Zhou Qi pun gagal mencapainya saat bersama Houston Rockets, sementara secara mobilitas, kekuatan inti, dan perlindungan ring, Yang masih tertinggal jauh. Keunggulannya hanyalah kemampuan passing dari posisi tinggi, tetapi pertanyaannya: apakah pelatih akan menyusun strategi khusus hanya untuknya?

Singkatnya, di skuad utama Blazers, masih ada struktur permainan dan peran yang jelas. Namun di G League, semua harus diperjuangkan sendiri. Baik Zhou Qi di masa lalu maupun Yang Hanshen saat ini, sama-sama akan menghadapi situasi yang lebih sulit.

Pemain Tiongkok yang benar-benar sukses di NBA — seperti Yao Ming dan Yi Jianlian — tidak pernah membutuhkan G League untuk membuktikan diri. Jadi, meski terdengar seperti kesempatan, bagi Yang Hanshen, dikirim ke G League bisa jadi bukan jalan maju — melainkan langkah pertama menuju kepulangannya ke CBA.

接著讀