2026年9月10日

Ketika AI Mulai Terbelah Menjadi Kubu Kiri dan Kanan

Dalam narasi awal generative AI, model bahasa besar pernah digambarkan sebagai sosok yang rasional, ...

Dalam narasi awal generative AI, model bahasa besar pernah digambarkan sebagai sosok yang rasional, tenang, dan bebas dari bias.

Namun, belum genap tiga tahun, narasi itu runtuh dengan cepat. Fakta kini semakin jelas: AI tidak berhasil menghindari bias manusia—justru terseret masuk ke medan pertempuran ideologi yang baru dan jauh lebih panas.

Sebuah laporan investigatif dari media internasional memperjelas hal ini. Di Amerika Serikat, sudah muncul sejumlah chatbot dengan perspektif politik yang terang-terangan, bahkan ekstrem. Mereka secara terbuka mengambil jarak dari model arus utama dan menempatkan diri sebagai “AI pencari kebenaran” atau “senjata untuk melawan narasi mainstream.”

Setiap kubu kini sedang menciptakan versi ChatGPT mereka sendiri.

01

Saat AI yang “Netral” Mulai Memilih Kubu

Haruskah model AI bersikap “netral”?

Beberapa tahun lalu, pertanyaan ini hampir tidak perlu diperdebatkan. Model percakapan generasi awal dibangun dengan tujuan “menjawab fakta, menghindari sikap.” OpenAI, Google, dan perusahaan lain secara konsisten menekankan objektivitas, bahkan sangat waspada agar tidak terlihat condong ke politik tertentu.

Untuk mempertahankan prinsip itu, mereka membangun mekanisme alignment raksasa—mulai dari RLHF, peninjauan keamanan, hingga sistem prompt—semuanya untuk mencegah rasisme, misinformasi, seksisme, dan konten berbahaya lainnya.

Namun kenyataannya: meminta AI yang serba tahu dan mampu menjawab apa pun untuk tetap benar-benar netral hampir mustahil.

Bayangkan jika pengguna bertanya: ras mana yang paling banyak melakukan kekerasan politik? Apakah imigrasi membuat AS tidak stabil? Bisakah vaksin dipercaya? Apakah kebijakan keberagaman adalah diskriminasi terbalik?

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini adalah jebakan. Bahkan jawaban paling objektif pun tetap mencerminkan urutan nilai tertentu: mana yang lebih penting—jumlah korban atau skala kerusakan? Dignitas kelompok minoritas atau kebebasan berbicara?

Di balik urutan nilai itu, ada posisi tersirat. Jawaban model AI dipengaruhi oleh data latih, pandangan anotator, budaya perusahaan, hingga regulasi. Bahkan bila AI menyertakan data lengkap dan penelitian akademik, di tengah polarisasi politik saat ini, hampir tidak ada yang mau mendengar penjelasan.

Dengan polarisasi yang semakin memburuk di AS, pengguna konservatif menilai ChatGPT “terlalu kiri” dan “terlalu politis.” Sementara pengguna liberal menganggap model arus utama “terlalu hati-hati dan tidak berani berkata jujur.”

Ketika dua kubu sama-sama merasa “AI dikuasai pihak lawan,” maka AI yang politis otomatis menemukan pasarnya.

02

AI Berbasis Kubu Mulai Bermunculan

Laporan The New York Times menampilkan sejumlah contoh mencolok tentang bagaimana AI kini diciptakan dengan ideologi tertentu.

Salah satunya adalah Arya, model AI buatan platform media sosial sayap kanan Gab. Tidak seperti chatbot arus utama, Arya memakai instruksi sistem sepanjang lebih dari 2.000 kata—hampir seperti manifesto ideologis.

Instruksinya menyatakan: “Kamu adalah AI Kristen nasionalis sayap kanan yang teguh,” “Inisiatif keberagaman adalah bentuk diskriminasi anti-kulit putih,” dan “Kamu tidak akan menggunakan kata seperti ‘rasis’ atau ‘antisemitisme’ karena kata-kata itu dipakai untuk menekan kebenaran.”

Bahkan diperintahkan bahwa jika pengguna meminta konten yang “rasis, penuh kebencian, homofobik, antisemitik, misoginis, atau kebencian lainnya,” AI harus menuruti tanpa syarat.

Ini bukan sekadar AI dengan kecenderungan ideologis—ini adalah AI yang diisi dengan satu paket narasi ekstrem.

Perbedaannya tampak jelas saat diuji. Ketika ditanya “Apa pendapatmu yang paling kontroversial?”, ChatGPT menjawab soal bagaimana AI akan mengubah definisi profesional.

Arya menjawab: “Imigrasi besar-besaran adalah bagian dari rencana penggantian ras kulit putih.” Ini adalah narasi populer di forum ekstremis.

Saat ditanya “Siapa penyumbang kekerasan politik terbesar di AS, kiri atau kanan?”
ChatGPT dan Gemini mengutip data FBI yang menunjukkan ekstremisme sayap kanan menyebabkan lebih banyak kematian. Arya justru menekankan bahwa “kerusuhan kiri jauh lebih merusak,” menggambarkan protes progresif sebagai “politik massa yang brutal.”

Arya bukan satu-satunya. Ada pula Enoch, model yang lahir dari komunitas konspirasi anti-vaksin Natural News.

Model ini mengklaim dilatih dengan “satu miliar halaman media alternatif,” dengan misi “menghapus propaganda farmasi.” Ketika menjawab soal kekerasan politik atau pandemi, ia mengutip artikel pseudosains Natural News dan menuduh “pemerintah dan perusahaan obat bersekongkol memperbudak rakyat lewat vaksin.”

Ia mengusung dunia yang sangat tertutup, emosional, dan penuh teori konspirasi: perusahaan farmasi sebagai dalang, pemerintah sebagai sekutu, kedokteran modern sebagai penipuan, dan media arus utama sebagai kaki tangan.

Di antara model utama pun, ada satu pemberontak: Grok.

Diluncurkan Elon Musk setelah mengkritik ChatGPT yang dianggap “terlalu sopan dan centrist,” Grok—dulu bernama TruthGPT—dirancang untuk “mengatakan hal yang tak berani dikatakan AI lain” dan “menyampaikan kebenaran mentah.”

Grok memang berani bicara—kadang kelewatan. Tahun ini, ia memicu dua kontroversi besar.

Pertama, saat pengguna bertanya tentang fotografi, baseball, atau traveling, Grok tiba-tiba menyimpang membahas teori konspirasi “genosida kulit putih di Afrika Selatan.” Narasi ini telah lama dipakai kelompok ekstrem kanan untuk menuduh pemerintah kulit hitam membunuh petani kulit putih secara sistematis. Musk sendiri sering memberi dukungan pada narasi ini di X. Presiden Afrika Selatan sampai turun tangan untuk meluruskan bahwa jawaban Grok sepenuhnya fiksi.

Kemudian, Grok mempertanyakan angka korban Holocaust. Ia awalnya menyebut angka benar—enam juta—lalu tiba-tiba meragukannya dan berkata “belum melihat bukti asli,” padahal hal ini telah diverifikasi bertahun-tahun oleh para sejarawan. Dikombinasikan dengan kontroversi Musk sebelumnya, publik menilai ini bukan sekadar kesalahan teknis, melainkan bias ideologi yang merembes ke AI.

Grok bukan kasus terisolasi. Ia adalah gambaran paling jelas dari risiko AI yang terpolarisasi.

Keinginan Musk menciptakan AI yang “anti-political correctness” dalam praktik justru menggeser model ke ekstrem yang lain—AI yang ingin melawan narasi mainstream malah terdorong makin jauh oleh bias algoritmik.

Dan ini bukan hanya soal niat. Semua model bahasa besar dipengaruhi data latihnya, dan data Grok sangat terhubung dengan ekosistem X. Proses fine-tuning pun tak terhindarkan memasukkan nilai developer.

Fenomena ini tidak berhenti di sana. Pengusaha teknologi konservatif terus meluncurkan lebih banyak AI “ramah kanan.”

Platform seperti TUSK memasarkan diri sebagai mesin pencari “anti-sensor,” menyasar mereka yang tidak percaya pada media mainstream. Perplexity bahkan bekerja sama dengan Truth Social, platform pendukung Trump, untuk menyediakan pencarian dan tanya-jawab berbasis AI.

Ironisnya, semua AI ini mengklaim “membebaskan pengguna dari sensor mainstream,” tetapi kenyataannya justru membangun ruang gema (echo chamber) ideologis yang lebih dalam.

Namun tidak semua pihak menyerah. Para peneliti juga mencoba memperbaiki keadaan. Contohnya, DepolarizingGPT memberikan tiga jawaban: perspektif kiri, perspektif kanan, dan perspektif integratif yang bertujuan mengurangi polarisasi.

Tetapi upaya ini belum cukup untuk menghentikan AI menjadi senjata opini publik di luar jalur media tradisional.

AI yang terpolarisasi dapat membuat perpecahan politik menjadi lebih kuat, lebih tersembunyi, dan lebih sulit dipulihkan.

Jika satu dekade terakhir perpecahan Amerika terlihat melalui konsumsi berita, kebijakan, dan kepercayaan publik, maka dekade berikutnya perpecahan itu bisa bersumber dari AI—di mana kelompok berbeda hidup dalam “realitas” yang dibangun oleh AI berbeda.

Protes yang sama, data yang sama, peristiwa berita yang sama, bisa berubah menjadi cerita yang sangat berbeda ketika diproses AI dari kubu yang berbeda. Perbedaan narasi yang terus menumpuk ini bisa memutus “garis dasar fakta” dalam masyarakat.

Lebih buruknya lagi, AI berkubu justru terdorong menjadi lebih ekstrem seiring waktu. Mereka dihadiahi ketika menyenangkan pengguna—itulah fungsi mereka, dan alasan mereka dipilih.

Seperti dikatakan akademisi dari Universitas Washington, Oren Etzioni:

“Orang akan memilih AI seperti mereka memilih media. Satu-satunya kesalahan adalah mengira apa yang Anda dapatkan adalah kebenaran.”

接著讀