2026年9月10日

Terkait jajaran pengisi suara versi Mandarin Zootopia 2, pihak produksi mungkin salah memperhitungkan satu hal penting.

Jangan Sampai Pengisi Suara Jadi Satu-satunya Hal yang “Gila” di Zootopia 2 Setelah menunggu 9 tahun...

Jangan Sampai Pengisi Suara Jadi Satu-satunya Hal yang “Gila” di Zootopia 2

Setelah menunggu 9 tahun, Zootopia 2 sebenarnya digadang-gadang menjadi animasi yang penuh nostalgia sekaligus berkualitas tinggi. Namun ketika deretan pengisi suara versi Mandarin diumumkan—dengan Da Peng, Fei Xiang, Jin Chen, dan Wang Anyu sebagai pengisi suara karakter baru—banyak penonton merasa antusiasme mereka berubah jadi keraguan. Niat awal untuk menambah “daya tarik” lewat selebritas justru berbalik memicu kontroversi.

Penonton yang menghadiri pemutaran perdana menilai bahwa suara para selebritas terasa kurang cocok dengan karakternya.


Ada yang mengeluhkan logat Timur Laut Da Peng yang terlalu mencolok; pelafalan bahasa Mandarin Fei Xiang dijuluki seperti “bahasa bangsawan bisnis”; Jin Chen sudah berusaha mengubah tempo dan menekan suara aslinya, tetapi warna suaranya tetap sangat mudah dikenali; sementara aksen “santai namun berkelas” yang dipilih Wang Anyu justru terdengar, bagi banyak orang, seperti “mahasiswa yang baru bangun tidur”.

Yang membuat penonton makin tidak nyaman adalah cara promosi diatur.
Di poster, suvenir tiket, hingga posisi berdiri di acara premiere, selebritas selalu ditempatkan di pusat perhatian, sedangkan karakter animasi dan dubber profesional tampak tersisih di pinggir. Untuk sebuah film animasi, kesan “bintang nyata lebih penting dari karakter animasi” ini terasa cukup mengganggu.

Tak heran muncul komentar pedas seperti:
“Main film sendiri saja masih perlu didubbing, kok sekarang malah mendubbing animasi?”
“Selebritas masuk dunia dubbing, bukankah itu merebut pekerjaan para pengisi suara profesional?”

Sejumlah pengisi suara menjelaskan bahwa dubbing animasi bukan sekadar membaca dialog. Suara harus mampu menyampaikan emosi, ritme, dan dunia batin karakter. Napas, tempo, tekanan suara, dan artikulasi semuanya penting. Jika dasar kemampuan dialog lemah, karakter animasi akan mudah terasa “tanpa jiwa”. Di tengah tekanan teknologi suara AI dan maraknya selebritas yang masuk dunia dubbing, ruang hidup dubber level menengah dan bawah bisa makin terhimpit.

Tentu saja, selebritas mengisi suara bukan otomatis sesuatu yang salah. Baik di Hollywood maupun di Tiongkok, ada banyak contoh di mana aktor terkenal justru memberikan performa dubbing yang sangat baik. Kuncinya adalah:

apakah mereka cocok dengan peran, cukup profesional, dan benar-benar melayani karakter—bukan sekadar melayani gimmick promosi.

Kontroversi Zootopia 2 bukan sekadar soal “tidak suka selebritas”, melainkan cerminan ketidakpuasan publik terhadap pola “popularitas mengalahkan profesionalitas” yang terus berulang.

Pada akhirnya, penonton tidak hanya ingin melihat nama besar di daftar pengisi suara, tetapi menginginkan:

suara yang benar-benar menyatu dengan karakter, performa yang terasa hidup, dan profesionalisme yang sepadan dengan ekspektasi mereka.

Kalau tidak, jangan-jangan satu-satunya hal yang benar-benar “gila” di Zootopia 2 justru hanya tinggal—pilihan pengisi suaranya.

接著讀