2026年9月10日

Aktor TVB Hai Junjie Menyampaikan Pesan Duka untuk Istrinya: “Ia Pergi dengan Tenang, Tanpa Rasa Sakit”

Pada tanggal 29 November, di saat akhir pekan dipenuhi tren hiburan dan gosip selebriti, sebuah peng...

Pada tanggal 29 November, di saat akhir pekan dipenuhi tren hiburan dan gosip selebriti, sebuah pengumuman duka berwarna hitam-putih muncul diam-diam di sudut media sosial. Aktor TVB, Hai Junjie, menuliskan kata-kata sederhana namun memilukan: “Ia pergi dengan tenang, tanpa rasa sakit. Di saat terakhirnya, orang-orang terdekat selalu berada di sisinya.” Sang istri, penata rias profesional Mo Jiazi, meninggal dunia karena gagal hati akut pada 27 November 2025 pukul 15.30, di usia yang baru 39 tahun.

Beberapa minggu sebelum momen menduka itu, Hai Junjie masih berjuang berlarian dengan waktu, berusaha merebut kembali hidup istrinya dari genggaman maut. Pada akhir Oktober, Mo Jiazi didiagnosis menderita gagal hati akut. Ia bertahan penuh harapan selama 20 hari di Rumah Sakit Queen Mary di Hong Kong. Ketika kondisinya semakin memburuk, harapan terakhir tertuju pada operasi transplantasi hati di Rumah Sakit Pertama Sun Yat-sen di Guangzhou—namun biaya medis sebesar 1,5 juta dolar Hong Kong menjadi dinding besar antara hidup dan ajal.

Pada awal November, momen ketika Hai Junjie muncul dalam video sambil menahan tangis benar-benar menyayat hati. Seorang aktor yang di layar kaca sering memerankan sosok kuat dan gagah, kini tampak rapuh di hadapan kenyataan pahit. Namun kehangatan manusia kembali terasa: Louis Koo, Aaron Kwok, Eric Tsang, dan rekan-rekan artis lainnya langsung memberi dukungan, sementara banyak orang asing ikut menyumbang tanpa ragu. Dalam 36 jam saja, dana bantuan mengalir deras dan berhasil mencapai target.

Namun realita jauh lebih keras dari film mana pun. Kekurangan dana sudah teratasi, tetapi dua masalah krusial tetap tak terselesaikan: donor hati yang cocok tak kunjung ditemukan, dan kondisi fisik Mo Jiazi tidak pernah mencapai standar yang cukup aman untuk operasi. Di hadapan data medis yang dingin, segala usaha dan harapan terasa nyaris tak berdaya.

Saat penggalangan dana dimulai, Hai Junjie berjanji untuk transparan sepenuhnya: membuka laporan medis secara publik dan mengembalikan sisa dana. Ketulusan dan tanggung jawab ini menunjukkan sisi kemanusiaan mereka, sesuatu yang sering tak terlihat di balik sorotan dunia selebriti. Kini, janji-janji itu—seperti rencana “kembali ke Hong Kong untuk pemulihan setelah operasi”—harus selamanya berhenti sebagai harapan yang tidak terwujud.

Kisah cinta mereka dimulai pada tahun 2012, sebuah pertemuan tak terduga yang membuka babak baru dalam hidup keduanya. Setelah lima tahun menjalin hubungan, mereka menikah pada 2017. Sebagai salah satu penata rias yang dihormati di industri hiburan, Mo Jiazi dikenal profesional namun selalu rendah hati. Dan dalam sebuah wawancara lama, Hai Junjie pernah berkata, “Istriku adalah pelabuhan terbaik bagi hatiku”—sebuah pengakuan cinta yang kini terasa jauh lebih mengharukan.

Bagi rekan kerja, ia adalah mitra yang teliti dan dapat dipercaya. Bagi sang suami, ia adalah kekuatan batin yang tak tergantikan. Namun di usia yang masih begitu berharga, Mo Jiazi harus pergi karena gagal hati akut. Di media sosial, ucapan belasungkawa membanjiri linimasa—ada yang berduka atas sosok wanita pekerja keras ini, ada yang mengkhawatirkan kondisi emosional Hai Junjie, dan banyak pula yang merenungkan betapa rapuhnya kehidupan, sambil berdoa diam-diam: “Semoga di surga tidak ada lagi rasa sakit.”

Peristiwa 36 jam yang penuh cinta dan empati ini menunjukkan bagaimana kebaikan orang-orang asing dapat bersatu menjadi kekuatan kasih yang nyata, serta bagaimana di balik gemerlapnya dunia selebriti, yang tersisa adalah kemanusiaan paling tulus. Meskipun akhir kisah ini tak dapat diubah, kejujuran, keteguhan hati, dan cinta dalam perjalanan ini mungkin merupakan penghormatan terindah bagi Mo Jiazi—sebab meski raganya pergi, cinta itu tetap tinggal.

接著讀