Kontroversi Sun Jihai Mengemuka? Pemain Muda di Jepang Sebut Sepak Bola Tiongkok Mulai Tertinggal Usai Usia 13 Tahun karena Tiga Hambatan Utama
Pada 8 Desember waktu Beijing, pesepak bola muda asal Tiongkok yang kini berkarier di Jepang, Cheng ...
Pada 8 Desember waktu Beijing, pesepak bola muda asal Tiongkok yang kini berkarier di Jepang, Cheng Yuan, merilis sebuah video yang langsung menarik perhatian publik. Dalam video tersebut, ia membagikan pandangannya tentang sistem pembinaan sepak bola usia dini di Jepang, sekaligus mengulas secara tajam akar penyebab perbedaan level antara sepak bola Tiongkok dan Jepang.
Cheng Yuan yang kini berusia 12 tahun sebelumnya menimba ilmu di Sekolah Sepak Bola Putuo, Shanghai. Tahun ini, ia memutuskan untuk mengejar mimpinya dengan berkarier di luar negeri dan bergabung dengan sebuah klub di Jepang. Yang patut diapresiasi, pihak Putuo tidak memberikan hambatan sedikit pun dan justru mendukung penuh langkah tersebut. Pada bulan Oktober, Cheng hanya membutuhkan waktu 21 hari untuk menyelesaikan pemutusan kontrak pelatihan secara damai, tanpa sengketa finansial, bahkan menyelesaikan proses transfer internasional secara gratis.
Dalam videonya, Cheng juga menceritakan secara rinci kehidupannya sebagai pesepak bola muda di Jepang.
“Sudah lebih dari tiga bulan saya berada di Jepang. Pola hidup saya sekarang adalah latihan klub setiap hari Selasa dan Rabu, latihan tim sekolah pada Kamis dan Jumat, dan akhir pekan diisi dengan pertandingan. Pada akhir November, tim kami promosi dari Liga Kota Kawasaki ke Liga Kanagawa U13, yang merupakan level kompetisi lebih tinggi. Awalnya saya sempat gugup karena takut tidak bisa mengikuti ritme permainan anak-anak Jepang. Namun setelah benar-benar bermain, saya menyadari bahwa saya sama sekali tidak kalah. Bahkan pelatih utama memberi saya kesempatan bermain di hampir semua posisi, kecuali penjaga gawang—sesuatu yang bahkan tidak bisa dilakukan oleh banyak pemain lokal.”
Cheng kemudian mengajukan sebuah pertanyaan yang sangat tajam dan menggugah:
“Jika anak-anak Tiongkok terlihat sangat kuat sebelum usia 12 tahun, mengapa setelah itu justru mulai tertinggal dari Jepang, bahkan jaraknya semakin melebar?”
Berdasarkan pengalamannya sendiri, ia menegaskan bahwa titik balik sesungguhnya terjadi pada usia 13 hingga 15 tahun, yaitu masa sekolah menengah pertama. “Jika tertinggal pada tiga tahun ini, maka di tingkat SMA hampir mustahil untuk mengejar ketertinggalan. Sumber masalah utamanya berasal dari tiga ‘jebakan besar’ dalam sistem pembinaan muda di Tiongkok: seleksi terlalu dini, pembinaan tertutup, dan pembatasan perpindahan pemain.”
Ia pun menjelaskan satu per satu ketiga persoalan tersebut.
“Pertama adalah seleksi terlalu dini. Di Tiongkok, proses seleksi lebih mirip eliminasi massal. Pada usia 11 tahun sudah ada penyaringan besar-besaran. Anak yang gagal terpilih akan langsung dilabeli sebagai ‘tidak punya masa depan’ dan ditinggalkan. Jepang sangat berbeda. Mereka menerapkan sistem seperti memetik apel—yang sudah matang dipetik, yang belum matang terus dibina. Bahkan anak 12 tahun yang belum berkembang sepenuhnya pun tidak akan langsung disingkirkan.”
“Kedua adalah pembinaan tertutup. Banyak sistem di dalam negeri mengurung anak-anak dalam lingkungan dan gaya bermain yang kaku. Mereka dijauhkan dari orang tua dan hampir harus mengorbankan pendidikan. Demi mengejar peluang sukses yang hanya satu persen, para pemain justru semakin takut melakukan kesalahan, dan ketakutan itu perlahan menggerus kepercayaan diri mereka.
Sebaliknya, di Jepang, setiap sesi latihan justru mendorong pemain untuk berkembang. Kiper didorong maju hingga tepi kotak penalti, bek tengah naik hingga lingkaran tengah, dan seluruh tim menekan sampai ke setengah lapangan lawan. Pertama kali saya bermain seperti ini, saya sangat takut. Namun pelatih Jepang hanya berkata satu kalimat: ‘Tidak apa-apa, beranilah bermain.’ Saat itulah saya menyadari bahwa sepak bola seharusnya membuat kita semakin bebas dan percaya diri, bukan semakin tegang.”
“Ketiga adalah pembatasan perpindahan pemain. Di Tiongkok, ketika seorang anak ingin pindah tim atau mengubah lingkungan bermain, ia harus menghadapi banyak hambatan, bahkan tuntutan kompensasi yang sangat besar. Di Jepang, situasinya justru berkebalikan. Prosedurnya transparan dan tidak ada yang menghalangi masa depan seorang anak.”
Di akhir pernyataannya, Cheng Yuan menyampaikan refleksi yang sangat mendalam:
“Sekarang saya benar-benar mengerti bahwa jarak antara anak-anak Tiongkok dan Jepang bukan dimulai dari bakat, tetapi dari apakah mereka masih diberi kesempatan untuk terus berkembang. Anak-anak Jepang memasuki fase percepatan pada usia 13 hingga 14 tahun, sementara banyak anak Tiongkok justru terjebak oleh tiga masalah besar ini pada fase yang sama. Bukan karena anak-anak Tiongkok tidak mampu, melainkan karena terlalu banyak yang masih dalam proses tumbuh, tetapi sudah lebih dulu ditinggalkan.”
“Setelah datang ke Jepang, saya melihat sendiri bahwa jika seorang anak diizinkan untuk mencoba, melakukan kesalahan, sering bermain, dan berganti posisi, maka perkembangan mereka bisa sangat cepat—bahkan sampai mengejutkan diri mereka sendiri. Saya berharap pengalaman saya ini bisa didengar oleh lebih banyak orang dewasa yang benar-benar peduli pada pembinaan sepak bola usia dini Tiongkok. Anak-anak Tiongkok sama sekali tidak kalah dari negara mana pun di dunia, asalkan kita berani membuka tiga ‘kunci’ besar ini.”
Pernyataan Cheng tentang pembatasan perpindahan pemain juga mengingatkan publik pada kasus kontroversial di akademi milik Sun Jihai, di mana seorang pemain muda pernah diminta membayar kompensasi hingga 2,66 juta yuan untuk pemutusan kontrak. Lewat pengalaman pribadinya, bocah 12 tahun ini kembali menegaskan bahwa jarak antara sepak bola Tiongkok dan Jepang masih terus melebar, dan jalan menuju kemajuan masih sangat panjang serta penuh tantangan.
Menjelajahi Fenomena: Mantan Istri Tao Baibai Raih Pendapatan Fantastis dari Penjualan 5.000+ "Otak Einstein"
Sebuah skenario yang terkesan sangat fiktif justru menjadi kenyataan dan meledak di dunia maya. Luji...
Pendidikan: Taruhan Indah yang Salah Dimengerti
Di masyarakat modern, pendidikan sering dianggap sebagai investasi paling aman. Namun jika dilihat d...
Gaya Musim Gugur yang Sederhana dan Rapi untuk Perempuan Bertubuh Mungil
Musim gugur adalah waktu terbaik untuk bermain dengan lapisan dan tekstur. Bagi perempuan bertubuh m...
Elon Musk Puji Roket Komersial China Zhuque-3: Berpotensi Melampaui SpaceX Falcon 9
IT Home melaporkan pada 24 Oktober bahwa roket dapat digunakan kembali milik Blue Arrow Aerospace, Z...
Sprint Menuju 2026! Tiga Target Besar Mbappé: Piala Dunia Kedua, Ballon d’Or, Liga Champions
Musim 2025 Kylian Mbappé telah usai, dan baru-baru ini ia terlihat di Maroko untuk menyaksikan Piala...
Genesis Luncurkan EV Produksi Performa Tinggi Pertama: GV60 Magma
Pada 27 Januari, Genesis memperkenalkan model produksi performa tinggi pertamanya, GV60 Magma, yang ...
Timnas Tenis Meja China Sapu Bersih Gelar Juara & Runner-up! Wang Manyu Perpanjang Rekor 10 Kemenangan Beruntun atas Miwa Harimoto, Wang Yidi Turun ke Peringkat Dunia 7
Pada pukul 13.00 waktu Beijing, 8 Februari, ajang 2026 ATTU (Asian Table Tennis Union) Haikou Asian ...
Maestro Sinematografi Peraih Golden Horse, Lai Cheng-Ying, Wafat di Usia 95 Tahun
(Taipei, 19 April) Industri perfilman Taiwan berduka atas kepergian sosok legendaris, sinematografer...
JJ Lin and Girlfriend Qiqi Make Sweet Appearance at World Cup Final, Cozy Moments Melt Fans' Hearts
Mandopop star JJ Lin has once again attracted attention after being spotted with his girlfriend Qiqi...