2026年9月10日

Israel Ingin "Mengendalikan," Amerika Ingin "Mengambil Alih"? Perkembangan Terbaru di Gaza

Pada 16 Mei 2025, Pasukan Pertahanan Israel mengumumkan peluncuran operasi militer besar-besaran yang dinamai "Operasi Tank Gideon," dengan tujuan menguasai sepenuhnya Jalur Gaza, menyerang Hamas, dan mendorong warga Palestina pindah ke bagian selatan Gaza. Operasi ini bertujuan mencegah Hamas mengendalikan bantuan kemanusiaan dan memastikan dominasi penuh Israel atas wilayah tersebut.

Dalam sehari terakhir, Angkatan Udara Israel menyerang lebih dari 150 target militer di Gaza, dengan fokus pada situs peluncuran rudal anti-tank dan bangunan yang digunakan untuk menyerang pasukan Israel. Pertahanan sipil Gaza melaporkan kota Beit Lahia di utara menjadi sasaran berat, dengan banyak korban yang masih terjebak di bawah reruntuhan. Statistik menunjukkan sedikitnya 100 orang tewas dan lebih dari 200 terluka akibat serangan ini. Otoritas kesehatan Gaza melaporkan lebih dari 250 kematian sejak pagi 15 Mei, menjadi gelombang serangan dengan korban terbanyak sejak Israel melanjutkan aksi militer pada 18 Maret.

Sementara itu, pada 15 Mei, Presiden AS Donald Trump yang menghadiri diskusi meja bundar bisnis di Qatar kembali mengusulkan "mengambil alih Gaza" dan menjadikannya "zona bebas," tanpa memberikan rincian lebih lanjut. Sumber mengatakan pemerintah AS berencana memindahkan secara permanen hingga satu juta warga Palestina dari Gaza ke Libya sebagai bagian dari rencana pemukiman ulang, mungkin sebagai imbalan pembebasan miliaran dolar dana Libya yang dibekukan. Belum ada kesepakatan akhir, namun pembicaraan dengan pemimpin Libya telah berlangsung.

Pemimpin Hamas dengan tegas menolak usulan tersebut, menegaskan bahwa Gaza adalah bagian tak terpisahkan dari wilayah Palestina dan bukan barang dagangan yang bisa diperjualbelikan.


Analisis dan Pendapat

  • Operasi militer Israel meningkat dengan tujuan jelas
    Operasi Tank Gideon menunjukkan niat Israel untuk menguasai Gaza sepenuhnya, meningkatkan tekanan militer terhadap Hamas, dan melemahkan pengaruh Hamas melalui pemindahan penduduk, memperlihatkan sikap tegas.
  • Kenaikan korban menunjukkan krisis kemanusiaan yang parah
    Serangan udara terus-menerus menyebabkan korban sipil signifikan, terutama di Gaza utara, memperburuk kekhawatiran kemanusiaan.
  • Usulan "pengambilalihan" AS mendapat skeptisisme
    Gagasan Trump membuat “zona bebas” dan memindahkan warga Palestina mencerminkan upaya AS menyelesaikan krisis Gaza melalui pemukiman ulang, tetapi kurang perencanaan detail dan dukungan lokal, sehingga sulit dilaksanakan.
  • Kompleksitas geopolitik rencana relokasi
    Memindahkan warga Palestina ke Libya menimbulkan isu stabilitas regional dan hak asasi manusia; situasi Libya yang tidak stabil dan kurangnya penerimaan internasional membuat rencana ini sangat menantang.
  • Hamas dengan tegas menolak konsesi wilayah
    Hamas menegaskan Gaza adalah bagian integral Palestina dan menolak segala bentuk “jual beli” tanah, menunjukkan sikap keras politik dan kedaulatan yang dapat memperpanjang konflik.
  • Situasi kompleks dengan prospek perdamaian yang suram
    Kampanye agresif Israel, rencana relokasi AS, dan perlawanan Hamas menunjukkan risiko konflik yang tinggi dan krisis kemanusiaan yang memburuk, membutuhkan perhatian dan intervensi internasional yang berkelanjutan.

接著讀