2026年9月10日

Dua Nasib yang Bertolak Belakang: Henan Disambut Hangat Meski Kalah, Jalan Juara Guoan Masih Penuh Tantangan

Final Piala FA China musim 2025 resmi berakhir dengan hasil gemilang bagi Beijing Guoan. Tim ibu kot...

Final Piala FA China musim 2025 resmi berakhir dengan hasil gemilang bagi Beijing Guoan. Tim ibu kota tersebut tampil dominan dan berhasil membungkam Henan dengan skor telak 3-0, sekaligus meraih gelar Piala FA kelima dalam sejarah klub. Sementara itu, Henan yang untuk pertama kalinya melangkah ke partai final gagal menciptakan keajaiban dan harus puas membawa pulang medali perak. Meski demikian, nasib yang diterima kedua tim setelah laga justru menunjukkan kontras yang sangat tajam, bak dua dunia yang berbeda.

Pada 7 Desember, Sekretaris Partai Provinsi Henan, Liu Ning, secara langsung menerima para pemain dan staf kepelatihan Henan serta menyampaikan ucapan selamat atas prestasi bersejarah mereka sebagai runner-up Piala FA. Di waktu yang sama, akun resmi Biro Olahraga Provinsi Henan juga mengunggah pesan penuh semangat: “Tiga puluh tahun menjaga impian, akhir bukanlah garis finis. Dengan harapan, kita menanti keberangkatan berikutnya. Para suporter Henan selalu bersama kalian.” Dukungan itu benar-benar terasa nyata. Sebelum kick-off di Stadion Olimpiade Suzhou, para pendukung Henan membentangkan TIFO raksasa bertuliskan “United as One, We Make History” (Bersatu sebagai satu, kita menciptakan sejarah), menciptakan salah satu momen paling menggetarkan di partai final.

Walau kehilangan gelar juara tentu menyakitkan, Henan justru memperoleh sesuatu yang jauh lebih bernilai: perhatian dan pengakuan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Pemerintah provinsi secara terbuka menyatakan komitmennya untuk mendukung penuh perkembangan sepak bola, olahraga, dan industri olahraga di Henan. Dalam banyak hal, kekalahan ini justru menjadi titik balik penting bagi klub. Alih-alih tenggelam dalam kekecewaan, masa depan Henan kini terlihat semakin cerah dengan fondasi yang jauh lebih kuat.

Sebaliknya, cerita berbeda justru mengiringi sang juara, Beijing Guoan. Sebelum laga, Ketua Klub Zhou Jinhui menyampaikan pidato membakar semangat di ruang ganti, mengajak para pemain berjuang demi kehormatan kota, sembari menegaskan, “Kami adalah Beijing, nama lengkap kami adalah Beijing Guoan.” Seruan itu terjawab sempurna di lapangan, ketika para pemain bertarung habis-habisan selama 90 menit dan akhirnya mengangkat trofi kemenangan.

Namun setelah meraih gelar juara, Guoan hanya menerima sepucuk surat ucapan selamat dari Asosiasi Sepak Bola Beijing. Sebagai perbandingan, tim wanita Beijing yang menjuarai Liga Super Wanita serta tim basket putra Shougang yang menjadi runner-up CBA justru mendapatkan ucapan resmi dari Biro Olahraga Kota Beijing. Perbedaan perlakuan terhadap juara dan runner-up Piala FA di dua wilayah ini pun menjadi sorotan tajam publik.

Media olahraga ternama, Football News, kemudian mengulas kondisi tersebut lebih dalam. Menurut laporan mereka, sejak 2024, Pemerintah Kota Beijing telah menghentikan dana pembinaan olahraga tahunan yang sebelumnya rutin diberikan kepada Beijing Guoan. Memang, pada akhir 2023 sempat ada dana darurat sebesar 210 juta yuan yang dikoordinasikan oleh Asosiasi Sepak Bola Beijing melalui perusahaan milik negara, namun dana itu bukanlah hibah dan wajib dikembalikan beserta bunganya dalam jangka waktu tertentu.

Artinya, sepanjang musim 2024 dan 2025, Beijing Guoan bertahan hampir tanpa dukungan dana eksternal. Seluruh kebutuhan transfer pemain dan operasional klub ditanggung sepenuhnya oleh perusahaan induk, Zhonghe Group. Dalam kondisi demikian, keberhasilan menjuarai Piala FA menjadi pencapaian yang sangat luar biasa. Namun runtuhnya peluang juara di Liga Super China musim ini tetap menyisakan penyesalan mendalam.

Dalam sembilan tahun terakhir, Zhonghe Group telah menggelontorkan total investasi hingga 8 miliar yuan untuk membesarkan Beijing Guoan dan menjaga eksistensinya sebagai kekuatan utama sepak bola China. Namun kini, pihak grup pun mengakui bahwa mereka telah berada di batas kemampuan finansial.

Henan memang kalah telak dan hanya menjadi runner-up, tetapi justru mendapat sambutan hangat dari seluruh provinsi. Sepak bola semakin mengakar kuat di Henan, dan dukungan besar yang mengalir menjanjikan jalan yang luas bagi masa depan klub. Sementara itu, Beijing Guoan yang berhasil menjadi juara justru terasa sepi perhatian. Dengan kondisi perusahaan induk yang mulai kelelahan, klub legendaris yang telah berjuang lebih dari 30 tahun di panggung sepak bola China ini tampaknya harus bersiap menghadapi periode sulit yang panjang di masa depan.

接著讀