2026年9月10日

Di Akhir 2025, Saya Menghidupkan Kembali Sebuah BlackBerry Q25

Catatan Editor: Kami secara berkala memilih artikel berkualitas dari Matrix untuk menampilkan pengal...

Catatan Editor: Kami secara berkala memilih artikel berkualitas dari Matrix untuk menampilkan pengalaman dan sudut pandang paling autentik dari para pengguna. Artikel ini sepenuhnya mewakili opini penulis. Redaksi hanya melakukan penyesuaian ringan pada judul dan tata letak.

BlackBerry Q25 yang Bangkit Kembali

Menjelang akhir tahun 2025, tiba-tiba muncul beberapa proyek bertema “kebangkitan BlackBerry”. Proyek pertama yang menarik perhatian saya adalah milik zinwa_lin yang saya temukan di HiPDA (kini 4D4Y). Sejak saat itu, saya terus mengikuti perkembangannya. Tak lama kemudian, muncul pula proyek lain bernama “BlackEvery 9900”, sebuah versi replika terbaru dari BlackBerry 9900. Pada bulan November, kedua perangkat ini hampir bersamaan dirilis ke pasar, membuat saya benar-benar dilema menentukan pilihan.

F9900 adalah replika BlackBerry 9900 yang dibuat dengan cetakan baru, menggunakan prosesor SC9863, RAM 3GB, penyimpanan 32GB, dan menjalankan Android 13. Kelebihan utamanya tentu saja harga yang sangat terjangkau—di PDD hanya sekitar 500 yuan. Setelah menonton beberapa ulasan, terlihat jelas bahwa keyboard-nya dibuat ulang sehingga rasa ketiknya pasti berbeda dari versi asli. Ditambah lagi, dengan konfigurasi 3+32GB, performanya terasa cukup terbatas. Bahkan aplikasi seberat WeChat pun kemungkinan tidak berjalan dengan mulus. Di sisi lain, meskipun saya sangat menyukai BlackBerry 9900 original—bahkan satu unit masih saya gunakan sebagai jam meja di samping tempat tidur—layarnya memang terlalu kecil untuk kebutuhan aplikasi Android masa kini, dan masalah kompatibilitas hampir pasti akan muncul.

Zinwa Q25 Muncul sebagai Alternatif Serius

Berbeda dengan F9900, Zinwa Q25 hadir dengan pendekatan yang jauh lebih modern. Batch pertamanya berupa “kit motherboard” yang dirancang untuk bodi Q20, lengkap dengan baterai serta kamera depan dan belakang, dengan kamera belakang ditingkatkan menjadi 50 megapiksel. Perangkat ini ditenagai MediaTek G99, dipadukan dengan RAM 12GB dan penyimpanan 256GB, serta menjalankan Android 14. Dari sisi spesifikasi, lonjakan performanya sangat signifikan dan jelas lebih siap untuk pemakaian harian. Layar Q20 sendiri juga jauh lebih besar dan jauh lebih ramah untuk ekosistem Android yang berbasis sentuhan. Secara kebetulan, saya memang masih memiliki satu unit Q20 dengan kondisi sangat baik yang sudah lama tersimpan di laci. Tanpa berpikir panjang, saya menghubungi sang kreator, langsung melakukan pembayaran, dan menunggu barang datang.

Barang Tiba, Tantangan Sebenarnya Dimulai

Proyek hardcore seperti ini praktis tanpa layanan purnajual. Semua bergantung pada keterampilan pribadi. Saya mencari panduan di Bilibili, dan di tengah proses baru menyadari bahwa untuk mengganti port pengisian menjadi Type-C, saya harus mengikir bodi perangkat secara manual. Karena tidak memiliki alat yang ideal, saya terpaksa menggunakan solder untuk “melubangi” rangka dengan hasil yang jauh dari rapi. Setelah terpasang, masalah kembali bermunculan: speaker tidak berfungsi, getaran mati, jack headphone tidak bekerja. Setelah bongkar pasang berkali-kali, akhirnya semua bisa digunakan kembali, meski dalam kondisi “cukup layak”. Sebagai penutup, saya pun mengabadikan koleksi lengkap ponsel ber-keyboard fisik yang saya miliki dalam satu foto keluarga.

Sebagai seseorang yang ponsel pertamanya adalah Treo 600, kecintaan saya terhadap keyboard fisik tentu tidak perlu diragukan. Namun sejak era iPhone dimulai, konsumsi konten telah menjadi fungsi utama ponsel, sementara komunikasi dan input teks semakin menjadi pelengkap. Coba renungkan, dalam sehari mana yang lebih sering Anda lakukan: mengetik atau menggulir layar?

Perubahan ini menggeser seluruh logika interaksi. Perangkat lunak kini sepenuhnya dirancang untuk sentuhan dan gestur. Era shortcut cepat, kontrol satu tangan, serta filosofi “produktivitas di atas segalanya” yang dulu menjadi kebanggaan ponsel ber-keyboard kini telah berlalu.

Beberapa tahun terakhir saya juga sempat menggunakan ponsel Android ber-keyboard seperti Titan yang besar seperti batu bata dan Duoqin dengan keyboard sembilan tombol. Namun dalam praktiknya, sebagian besar waktu tetap dihabiskan untuk mengusap layar. Bahkan posisi genggaman pun harus bergeser ke atas agar jari bisa menjangkau layar. Keyboard fisik jarang benar-benar menjadi alat utama, karena sistem Android sendiri memang tidak dirancang untuk itu.

Ditambah lagi dengan layar kecil berbentuk persegi, banyak aplikasi tampil aneh atau bahkan tidak sepenuhnya terlihat. Pengalaman yang mulus pun sulit diwujudkan. Tak sedikit komentar yang menyebutkan bahwa cara penggunaannya terasa terlalu “hati-hati”.

Maka muncul pertanyaan besar: di tahun 2025, apakah ponsel Android dengan keyboard fisik bisa benar-benar menghadirkan pengalaman yang berbeda?

Sistem dan Touchpad yang Tetap Dipertahankan

Dari sisi sistem, ini adalah proyek yang digerakkan oleh komunitas penggemar dalam skala kecil, sehingga ekspektasi tentu harus realistis. Q25 menjalankan Android hampir murni dengan Google Services lengkap, serta hanya dilengkapi satu aplikasi utama bawaan bernama KeyMapper. Sederhana, namun sangat fungsional.

Keunggulan terbesar Q25 dibanding F9900 adalah tetap dipertahankannya touchpad ikonik ala BlackBerry. Pada F9900, touchpad hanya bersifat dekoratif dan berfungsi sebagai tombol konfirmasi. Bagi saya, keberadaan touchpad ini adalah alasan utama memilih Q25. Tanpa elemen klasik ini, nuansa BlackBerry terasa jauh berkurang. Saya juga penasaran apakah touchpad ini benar-benar bisa meningkatkan pengalaman Android.

Kursor Kembali Hadir

Touchpad ini memiliki dua mode: sebagai tombol arah atau sebagai mouse. Dalam mode mouse, pengguna bisa langsung menggerakkan kursor dan melakukan klik. Ini membuka kemungkinan interaksi yang benar-benar baru. Mengingat ukuran layar yang kecil dan keterbatasan tata letak pada 500 DPI—antara elemen yang terlalu kecil atau konten yang terlalu sedikit—mode mouse justru menjadi solusi yang cukup efektif.

Saat tombol di layar terlalu kecil untuk disentuh dengan presisi, kursor membantu menghindari rasa frustrasi. Sementara mode arah atas-bawah-kiri-kanan pada Android umumnya kurang fungsional, di sinilah peran KeyMapper menjadi sangat penting.

KeyMapper dan Kustomisasi Shortcut

KeyMapper memungkinkan pengguna menentukan shortcut global untuk berbagai fungsi, mirip dengan Karabiner di macOS. Bagi perangkat ber-keyboard, fitur ini terasa wajib. Meski jumlah aksinya tidak terlalu banyak, namun sudah sangat memadai: menyalakan senter, mengatur Wi-Fi dan Bluetooth, membuka aplikasi, hingga mensimulasikan klik dan gestur geser.

Saya mengatur gerakan “bawah” pada touchpad sebagai gestur scroll. Hasilnya, penggunaan harian terasa jauh lebih praktis. Saat ini, pengalihan antara mode arah dan mouse belum bisa dilakukan dengan cepat, namun pengembang telah mengonfirmasi bahwa fitur tersebut sedang dalam pengembangan.

Keyboard sebagai Bintang Utama

Sorotan utama tentu saja adalah keyboard fisiknya. Google Keyboard bawaan terasa biasa saja meski sudah mendukung input fisik. Namun menurut saya, dukungan terbaik saat ini masih datang dari iFlytek. Sebagian besar kata bisa langsung diketik dan ditegaskan dengan spasi. Meski sistem pemilihan lima tombol di bagian bawah sudah menjadi kenangan, pemilihan melalui layar tetap nyaman. Alternatifnya, pengguna juga bisa memakai kombinasi Alt + angka.

Pengalaman mengetik dengan keyboard fisik terasa sangat memuaskan. Ini seperti memiliki mechanical keyboard di telapak tangan. Walau kecepatan mengetik tidak meningkat drastis, sensasi sentuhan jari jauh lebih menyenangkan dibanding mengetuk layar kaca. Di WeChat, cukup tekan Enter untuk mengirim pesan, dan alur komunikasi pun terasa mengalir kembali.

Lebar bodi Q20 adalah batas maksimal untuk penggunaan satu tangan, sehingga mengetik dengan satu tangan masih tergolong nyaman. Namun ada kekurangan yang cukup terasa: tombol Alt tidak bisa dikunci. Artinya, untuk mengetik angka, Alt dan angka harus ditekan bersamaan, yang membuat input satu tangan menjadi tidak mungkin.

Aplikasi, Layar Persegi, dan Realita Penggunaan

Dari sisi kompatibilitas, aplikasi Android berjalan tanpa kendala berarti. Tantangan terbesar tetap datang dari layar berbentuk persegi, yang membuat sebagian aplikasi tampil kurang proporsional.

Dahulu, Titan menyediakan fitur khusus untuk mengubah DPI aplikasi tertentu menjadi tampilan persegi panjang dengan bilah hitam di kiri-kanan, seperti menjalankan aplikasi iPhone di iPad. Meski terlihat aneh, setidaknya fungsional. Sayangnya, Q25 tidak memiliki kemampuan tersebut. Soal kemungkinan menggunakan Xposed Framework untuk solusi ekstrem, saya memilih untuk tidak melangkah sejauh itu. Dalam praktiknya, sebagian besar aplikasi masih tetap dapat digunakan dengan baik.

Masalah yang cukup mengganggu adalah di beberapa antarmuka, hanya dua baris tengah yang bisa digulir, sehingga fleksibilitas menjadi terbatas.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, ini adalah proyek yang sangat menarik. Untuk penggunaan harian, perangkat ini tergolong layak. Sebagai mesin komunikasi yang mampu menjalankan WeChat dengan lancar, Q25 sudah memenuhi ekspektasi. Di balik itu, saya juga memiliki tujuan pribadi: mengurangi kecanduan bermain ponsel. iPhone terlalu menyenangkan—sekali membuka TikTok atau Xiaohongshu, satu jam bisa berlalu tanpa terasa.

Kini, Q25 menjadi perangkat utama saya untuk komunikasi, dengan WeChat, Alipay, dan berbagai aplikasi utilitas terpasang. Untuk hiburan, saya kembali menggunakan iPhone. Kode verifikasi dari iPhone pun bisa diteruskan melalui pintasan otomatis, membuat penggunaan dua perangkat terasa cukup praktis. Andai saja WeChat mendukung login ganda di dua perangkat sekaligus, semuanya akan terasa sempurna.

Di era model AI yang terus berkembang, menggunakan keyboard fisik untuk lebih sering berdiskusi dengan ChatGPT, belajar lebih banyak, dan memperdalam wawasan jelas terasa jauh lebih bernilai dibanding sekadar terus menggulir konten tanpa henti.

Sebagai penutup, saya sertakan beberapa foto hasil jepretan Q25, agar Anda bisa ikut merasakan nuansa retro yang khas ini.

接著讀