Lembaga Perkirakan Pasar Saham Berpotensi Menerima Tambahan Dana hingga RMB 3 Triliun Tahun Ini
Data terbaru yang dirilis oleh Asosiasi Pengelola Investasi Sekuritas China menunjukkan bahwa hingga...
Data terbaru yang dirilis oleh Asosiasi Pengelola Investasi Sekuritas China menunjukkan bahwa hingga akhir Desember 2025, total aset kelolaan (AUM) industri reksa dana publik di China melonjak menjadi RMB 37,71 triliun. Angka ini naik sekitar RMB 695,75 miliar dibandingkan bulan sebelumnya dan menandai rekor tertinggi baru selama sembilan bulan berturut-turut.
Berdasarkan perhitungan reporter 21st Century Business Herald, sepanjang tahun 2025 total skala reksa dana publik meningkat tajam sebesar RMB 4,89 triliun, dengan tingkat pertumbuhan tahunan mencapai 14,9%.
Dilihat dari struktur pertumbuhan tahunan, seluruh kategori reksa dana mencatatkan pertumbuhan positif pada 2025. Reksa dana obligasi memimpin dengan lonjakan hampir 60%, sementara reksa dana saham tumbuh sekitar 36%, menegaskan ekspansi yang luas di berbagai kelas aset.
Skala Mendekati RMB 38 Triliun
Data terbaru dari Asosiasi Pengelola Investasi Sekuritas China menunjukkan bahwa total skala reksa dana publik naik dari RMB 33,12 triliun pada akhir April 2025 menjadi RMB 37,71 triliun pada akhir tahun. Ini memperpanjang tren rekor tertinggi baru selama sembilan bulan berturut-turut.
Dibandingkan dengan RMB 32,83 triliun pada akhir 2024, industri ini menambah RMB 4,89 triliun hanya dalam satu tahun, mencerminkan percepatan signifikan dalam momentum pertumbuhan jangka panjang.
Hingga akhir Desember 2025, terdapat 165 institusi pengelola reksa dana publik di dalam negeri, terdiri dari 150 perusahaan manajemen dana dan 15 lembaga manajemen aset yang memiliki izin reksa dana publik.
Berdasarkan jenis dana, reksa dana pasar uang tetap menjadi yang terbesar dengan skala RMB 15,03 triliun. Reksa dana obligasi menyusul dengan RMB 10,94 triliun, sementara reksa dana saham mencapai RMB 6,05 triliun. Adapun reksa dana campuran, fund of funds (FOF), dan jenis dana lainnya masing-masing mencatatkan skala RMB 3,68 triliun, RMB 244,39 miliar, dan RMB 1,77 triliun.
Perubahan Struktural Jelas pada Desember
Data bulanan Desember mengungkap perubahan struktural yang cukup jelas di dalam industri.
Reksa dana obligasi menjadi pendorong utama pertumbuhan skala, dengan peningkatan lebih dari RMB 412 miliar dalam satu bulan. Hal ini menandai pembalikan arah setelah beberapa bulan sebelumnya terpengaruh oleh efek “jungkat-jungkit saham–obligasi”.
Reksa dana saham juga tampil kuat dengan kenaikan skala lebih dari RMB 250 miliar. Pada saat yang sama, reksa dana campuran, FOF, dan reksa dana QDII turut mencatatkan pertumbuhan dengan besaran yang bervariasi.
Meski jumlah unit reksa dana campuran sedikit menurun, nilai aset bersihnya justru meningkat dari RMB 3,60 triliun menjadi RMB 3,68 triliun, atau tumbuh 4,73%. Sementara itu, FOF bertambah lebih dari RMB 8,8 miliar dalam satu bulan dan telah mencatat pertumbuhan kuartalan selama empat kuartal berturut-turut.
Satu-satunya pengecualian adalah reksa dana pasar uang. Di tengah penurunan imbal hasil dan meningkatnya daya tarik aset berisiko, skala dana ini turun tipis sekitar RMB 153,6 miliar pada bulan tersebut.
Tren Tahunan Menegaskan Diversifikasi
Jika dilihat secara keseluruhan sepanjang 2025, skala total reksa dana publik tumbuh stabil, meski perkembangan antar kategori menunjukkan perbedaan.
Data dari Geshang Fund menunjukkan bahwa pada 2025, skala reksa dana QDII tumbuh 60,56%, reksa dana obligasi meningkat 59,79%, reksa dana saham naik 35,93%, reksa dana pasar uang bertambah 10,47%, dan reksa dana campuran meningkat 4,73%. Angka-angka ini mencerminkan tren diversifikasi alokasi yang semakin kuat.
Yang patut dicatat, dana berbasis ekuitas menunjukkan pemulihan berkelanjutan. Didorong oleh perkembangan pesat ETF, skala reksa dana saham terus meningkat sejak 2023. Reksa dana campuran juga berhasil membalikkan tren penyusutan yang berlangsung sejak 2022.
Pelaku industri umumnya menilai bahwa daya tarik aset ekuitas dalam pertumbuhan struktural dana semakin menguat.
Peneliti Geshang Fund, Guan Xiaomin, menilai bahwa di tengah pemulihan pasar saham, reksa dana saham—khususnya produk indeks—terus menarik arus dana masuk. Di saat yang sama, kebutuhan alokasi ke aset luar negeri juga terus meningkat.
Zeng Fangfang, Kepala Operasional Produk Reksa Dana Publik di Paipaiwang Wealth, merangkum tiga ciri utama struktur reksa dana pada 2025. Pertama, dana berbasis instrumen dan multi-aset memimpin pertumbuhan, dengan skala ETF mendekati RMB 6 triliun serta peningkatan signifikan pada dana obligasi, FOF, dan komoditas. Kedua, diferensiasi struktural makin jelas, di mana pertumbuhan dana ekuitas melampaui dana obligasi murni. Ketiga, konsentrasi industri semakin mengarah ke institusi besar.
Skala Reksa Dana Berpotensi Menembus RMB 40 Triliun
Kenaikan berkelanjutan skala reksa dana publik dipandang sebagai cerminan dari tren “perpindahan dana simpanan” menuju pasar modal.
Skala industri reksa dana publik telah tumbuh dari RMB 9,1 triliun pada akhir 2016 menjadi RMB 37,71 triliun pada akhir 2025, dengan tingkat pertumbuhan tahunan rata-rata sekitar 16%.
Laporan riset Huaxin Securities memperkirakan bahwa dana tambahan yang masuk ke pasar saham A-share pada 2026 dapat mencapai sekitar RMB 3 triliun, dengan potensi kontribusi reksa dana publik sekitar RMB 877,27 miliar.
Sejumlah analis berpendapat bahwa apabila skala reksa dana publik mampu mempertahankan laju pertumbuhan menengah 10%–15%, maka total skala industri berpeluang menembus tonggak baru RMB 40 triliun pada 2026.
Guan Xiaomin memperkirakan tren pertumbuhan stabil akan berlanjut, dengan reksa dana saham, strategi “fixed income plus”, QDII, reksa dana komoditas, serta FOF tetap menjadi fokus perhatian investor.
Ia menambahkan bahwa dalam lingkungan suku bunga rendah, reksa dana “fixed income plus” yang menawarkan stabilitas sekaligus fleksibilitas moderat semakin menjadi alternatif utama bagi produk pengelolaan kekayaan perbankan. Sementara itu, meningkatnya permintaan terhadap aset luar negeri dan komoditas seperti emas akan terus mendorong perkembangan kategori dana terkait.
Menatap ke depan, peneliti Geshang Fund, Tuo Hejiang, menilai bahwa peluang investasi pada 2026 masih akan berfokus pada tema teknologi, ekspansi global, serta aset inti berkualitas dengan dividen tinggi.
Secara umum, lembaga-lembaga pasar memperkirakan transformasi industri pengelolaan kekayaan akan terus berlanjut, dengan pasar saham dan obligasi sama-sama menawarkan peluang struktural pada 2026.
Zeng Fangfang menambahkan bahwa skala reksa dana publik diperkirakan tetap tumbuh stabil pada 2026, seiring pendalaman tren indeksasi dan diversifikasi. Dana berbasis instrumen diproyeksikan terus berkembang, sementara reksa dana saham aktif akan semakin diminati seiring perbaikan fundamental. FOF dan reksa dana komoditas juga berpotensi terus membesar, didorong oleh perubahan gaya pasar dan kebutuhan alokasi.
Dari perspektif yang lebih luas, Zhu Chaoping, Senior Global Market Strategist Morgan Asset Management China, menilai bahwa perbaikan laba perusahaan berpotensi menopang pasar saham pada 2026. Namun, valuasi yang relatif tinggi dan ketidakpastian geopolitik tetap menjadi risiko utama. Ia menyarankan investor untuk menurunkan ekspektasi imbal hasil secara moderat dan mengelola volatilitas melalui diversifikasi. Dari sisi strategi, ia merekomendasikan aset inti A-share dengan prospek pertumbuhan tinggi serta tema ekspansi global. Di pasar obligasi, keunggulan imbal hasil obligasi luar negeri masih menonjol; dengan laju penurunan suku bunga yang melambat, obligasi pemerintah jangka pendek di pasar maju patut mendapat perhatian.
Bybit Rilis On-Chain Earn, Mudahkan Staking Kripto dengan Benefit Tambahan
Bybit On-Chain Earn dirancang untuk memudahkan pengguna dalam mengakses peluang staking melalui platform Bybit.
Xiaomi Lakukan Recall Massal, Apa Makna Strategisnya?
Pada pagi hari 19 September, Pusat Teknologi Recall Produk Cacat di bawah Administrasi Negara untuk ...
Yin Tongyue: Pendapatan Chery dari Pasar Global Akan Melampaui Pasar Domestik di Masa Depan
Fast Technology melaporkan pada 19 Oktober bahwa Chery Automobile baru saja menggelar Konferensi Ino...
Liverpool Raih Tiga Kemenangan Beruntun, Wirtz Pecah Kebuntuan dan Tampil Menjanjikan
Liga Premier putaran ke-19 akan digelar pada 31 Desember, dengan Liverpool menjamu Leeds United, seb...
Elon Musk Hidupkan Kembali Proyek Chip Dojo3 Tesla, Sasar Space AI
21 Januari, CFA News — CEO Tesla Elon Musk mengumumkan proyek superkomputer Dojo 3 yang sebelumnya d...
Saham perbankan kembali menguat, membantu Bursa Malaysia bangkit dengan rebound yang kuat.
(Kuala Lumpur, 30)Mayoritas bursa Asia dibuka menguat pagi ini, dan pasar saham Malaysia ikut naik, ...
CBA Terbitkan Pedoman Baru Penagihan Pinjaman Konsumer, Larang Penagihan Pukul 22.00–08.00
Asosiasi Perbankan Tiongkok (China Banking Association) baru-baru ini menyusun Pedoman Kerja Penagih...
Gigi Leung jarang kongsi foto ulang tahun bersama saudara kembar — profesi sang adik akhirnya terungkap
(Hong Kong, 26 Maret) Penyanyi sekaligus aktris Hong Kong Gigi Leung merayakan ulang tahunnya yang k...
Vivian Lai yang pernah menikah dengan keluarga kaya dan membesarkan anak-anak seorang diri selepas perceraian, terharu hingga menangis saat menyaksikan kelulusan putrinya
(Hong Kong, 29 Maret) Penyanyi Cantopop era 90-an Vivian Lai yang kini berusia 53 tahun, pernah mera...
Li Ronghao Bantah Tuduhan Plagiarisme Lagu Little Eyes, Warganet Soroti “Bukti Linimasa” dan Ragukan Pernyataannya
(Beijing, 3 April) Penyanyi sekaligus penulis lagu Li Ronghao kembali terseret kontroversi hak cipta...
Hua Chenyu Dikabarkan Gelontorkan 500 Juta untuk “Taman Konser” — Dibatalkan Mendadak 9 Hari Sebelum Acara, Picu Perbincangan
(Beijing, 24 April) Penyanyi Tiongkok Hua Chenyu terpaksa menunda konser “Mars Concert Theme Park 2....