“Air Suci dari Timur” yang Dipopulerkan Influencer Barat—Rasanya Begitu Sulit Diterima sampai Bikin Kamu Meragukan Segalanya
“Bumbu apa pun kalau dijadikan minuman, rasanya kemungkinan besar akan aneh—tapi bubuk kunyit seolah...
“Bumbu apa pun kalau dijadikan minuman, rasanya kemungkinan besar akan aneh—tapi bubuk kunyit seolah menang jauh sebagai yang paling sulit dinikmati.”
Setelah meneguk segelas minuman kunyit, Zuo Qing menggambarkan rasanya sambil meringis. Ia menambahkan, “Kalau perlu perbandingan, bayangkan bunga lawang dan bumbu semur digiling jadi bubuk, lalu kamu minum begitu saja.”
Kepopuleran minuman kunyit memang tidak lahir begitu saja. Tren ini ikut terbantu oleh “mistik diet sehat ala perempuan Barat” yang ramai di media sosial. Ketika para influencer kesehatan di Instagram mengangkat “kekuatan misterius dari Timur” dari panci kari, lalu menobatkannya sebagai air suci anti-inflamasi, angin tren itu pun resmi bertiup kencang.
Menjelang akhir 2025, warna “kuning sehat” yang mencolok ini menyeberangi lautan dan menerobos pasar minuman—dengan modal rasa yang unik (baca: ekstrem) dan skenario yang sudah sering terjadi: sesuatu yang terlebih dulu dipuja di Barat, lalu “dipulangkan” ke pasar dan selera Asia. Soal apakah rasanya benar-benar mirip paket bumbu rebusan? Itu urusan belakangan.
Di media sosial, tak sedikit orang menyebut minuman kunyit sebagai sesuatu yang “eksperimental” dan “sulit ditelan.” Justru karena rasanya begitu memecah pendapat, muncul berbagai versi “pengenceran” agar lebih mudah diminum—mulai dari soda kunyit, susu kunyit, latte kunyit, sampai minuman berkarbonasi rasa kunyit.
Di bawah sorotan tren gaya hidup sehat, bahkan minuman yang paling menantang sekalipun akan tetap menemukan pembelinya.
Walau komentar pro dan kontra berseliweran, respons pasar berbicara lewat angka. Minuman kunyit di Sam’s Club dan Hema kerap habis dan harus restock. Di aplikasi Hema, ulasan minuman kunyit disebut sudah menembus 10.000+ dengan tingkat kepuasan hingga 99%. Data Tmall menunjukkan, selama “Double 11” 2025, penjualan minuman kunyit melonjak 14 kali lipat dibanding September. Kata-kata seperti “anti-inflamasi,” “menghangatkan lambung,” “menyegarkan,” dan “kaya vitamin C” pun berulang kali muncul di kolom ulasan.
Namun, seiring kepopulerannya meningkat, pertanyaannya juga makin keras terdengar: apakah minuman kunyit benar-benar memberikan efek anti-inflamasi?
Apakah ini “superfood” baru yang lahir dari terobosan kesehatan—atau sekadar tren lain yang memungut “pajak kesehatan” dari kelas menengah?
Di internet, lelucon tentang minuman kunyit sangat banyak. Dan hampir semuanya, tanpa mengejutkan, kembali ke satu hal: rasanya.
01 Anti-inflamasi andalan, atau minuman yang sebenarnya tidak perlu?
Walaupun rasanya dianggap aneh, minuman kunyit tetap menggoda banyak anak muda yang cemas soal kesehatan—mereka yang merasa tubuhnya “terkuras” oleh ritme kerja modern, tetapi masih bersedia memaksakan segelas “minuman sehat” demi harapan ada perubahan.
Zuo Qing pertama kali mencoba minuman kunyit saat berlibur ke Bali. Ia merasa dirinya cukup tahan terhadap minuman unik, tetapi segelas kunyit yang diberi garam tetap tidak sanggup ia habiskan.
Sebagai orang yang gemar mencoba superfood, Zuo Qing pernah minum minuman dari bubuk açaí, bubuk buah merah, dan bubuk kale. Menurutnya, pekerja kota umumnya berada di kondisi “setengah tidak sehat,” sehingga membeli berbagai minuman serbuk sering kali adalah upaya memperbaiki fungsi tertentu—energi, pencernaan, kulit, bengkak, atau tidur.
Ketika kembali ke rumah, ia membeli bubuk kunyit karena tergiur klaim anti-inflamasi. Namun setelah mencoba konsisten beberapa waktu, ia menyerah—terutama karena rasa yang terlalu “menantang.”
“Ini bukan sesuatu yang seharusnya diminum manusia,” katanya lugas.
Ia menjelaskan, bubuk kunyit bukan rasa jahe. Yang terasa adalah pedas tajam khas rempah, bercampur aroma yang mengingatkan pada bumbu semur atau bumbu rebusan daging.
Dibandingkan serbuk lain, ia menganggap bubuk kunyit “paling sulit diminum, dan efeknya juga paling biasa.” Ia ingat pernah minum dua sampai tiga sachet bubuk kale sehari, dan bengkaknya berkurang cukup jelas. Sementara kunyit, ia nyaris tidak merasakan manfaat yang berarti.
Zuo Qing bukan satu-satunya yang meragukan efektivitas minuman kunyit. Di media sosial, banyak orang mencoba kunyit untuk memperbaiki kondisi kulit dan “konstitusi tubuh,” tetapi berakhir dengan kesimpulan: “tidak terlalu terasa.” Beberapa kreator ahli gizi pun mengingatkan agar masyarakat tidak ikut-ikutan tanpa pertimbangan.
Hampir semua produk minuman kunyit di pasaran menjual satu pesan utama: anti-inflamasi.
Namun apakah minuman kunyit benar-benar anti-inflamasi, masih layak diperdebatkan.
“Kalau kamu berharap minuman kunyit bisa memberi efek antioksidan dan anti-inflamasi yang nyata, itu pada dasarnya kecil kemungkinannya,” kata ahli gizi terdaftar Shen Xiabing dalam video edukasi. Ia mengakui manfaat kurkumin—senyawa aktif dalam kunyit—tetapi menegaskan bahwa hal itu tidak otomatis berarti minuman kunyit botolan punya dampak yang sama bagi tubuh.
Alasannya cukup teknis namun sederhana: kurkumin memiliki tingkat penyerapan yang rendah di tubuh dan dimetabolisme sangat cepat. Shen menjelaskan, teknologi enkapsulasi untuk meningkatkan kelarutan kurkumin, atau penambahan lada hitam, sering dipakai agar kurkumin lebih mudah diserap.
Tetapi untuk produk minuman konsumen, ada syarat yang bahkan lebih mendasar: rasanya harus bisa diterima.
Untuk menetralkan rasa pedas tajam kunyit dan jahe, banyak produk menambahkan madu, lemon, dan bahan serupa. Namun itu tidak serta-merta meningkatkan pemanfaatan kurkumin—justru bisa menambah beban asupan gula. Misalnya, minuman kunyit “Light Nutrition” dari Sam’s disebut memiliki kandungan gula 32g per 100ml, lebih dari tiga kali kandungan gula cola.
Demi menyenangkan konsumen, beberapa produsen bukan hanya menambahkan gula dalam jumlah tinggi pada “minuman sehat,” tetapi juga berpotensi mengaburkan fakta bahwa kandungan kunyit/kurkumin di dalamnya sangat kecil.
Pada April lalu, seorang konsumen bernama TieTie membeli 32 botol minuman kunyit Youledao secara online. Setelah itu ia menemukan bahwa kemasan tidak mencantumkan kandungan kurkumin per botol. Baru setelah bertanya ke layanan pelanggan, ia mengetahui bahwa satu botol 15g hanya mengandung 2,7mg kurkumin. Padahal, dalam rujukan medis yang sering dibicarakan, asupan kurkumin harian biasanya berada di kisaran ratusan miligram (misalnya 500–1500mg).
“Bedanya terlalu jauh. Kalau begitu mending aku makan semangkuk kari saja,” tulisnya.
Artinya, tanpa teliti membaca label gizi dan menekan produsen untuk memberikan angka yang jelas, konsumen bisa saja membayar mahal untuk kurkumin yang nyaris tak berarti—ditambah sebotol “air manis” yang dibungkus narasi kesehatan.
Dan kalau setiap keputusan belanja harus diiringi riset mendalam, itu sendiri sudah melelahkan.
02 Segelas “air manis,” dan kepastian bahwa kamu “sudah berusaha”
Sebagai “kekuatan misterius dari Timur,” kunyit kerap dipasarkan dengan aura magis. Secara historis, kunyit memang pernah menjadi komoditas yang masuk ke Tiongkok melalui jalur seperti Jalur Sutra, dan teks medis kuno pun mencatat berbagai pemanfaatannya.
Namun, perubahan peran kunyit—dari resep tradisional menjadi minuman viral—bukan semata karena manfaatnya baru ditemukan. Lebih tepatnya, ia sangat pas menempel pada kecemasan sosial modern: tekanan untuk menunjukkan bahwa kamu “sedang hidup sehat.”
Menurut Lululemon 2024 Global Wellbeing Report, 61% konsumen global merasakan tekanan sosial untuk “menampilkan kesehatan” dengan cara tertentu. Hampir setengahnya memasuki fase “wellness burnout”—semakin mengejar kesehatan, semakin lelah.
Brand dan penjual menangkap psikologi ini: orang ingin keluar dari rasa lelah, tetapi tetap butuh sinyal cepat bahwa mereka melakukan hal yang benar.
Dibandingkan membayar mahal kartu gym tahunan dan menanggung komitmen jangka panjang, banyak orang lebih memilih mengerutkan kening dan meneguk segelas minuman kunyit berlabel “bermanfaat.” Ia menjadi simbol kesehatan yang terlihat—sebuah “token” untuk menukar kenyamanan psikologis, sekaligus menjawab penilaian orang lain dan ekspektasi diri.
Namun, kenyamanan instan ini bisa menyeret orang ke paradoks kesehatan. Laporan yang sama mencatat ketimpangan yang menarik: meski 89% orang mencoba lebih banyak cara untuk meningkatkan kesehatan dalam setahun terakhir, tingkat kesejahteraan secara keseluruhan tidak ikut meningkat. Ini mengisyaratkan bahwa mengejar “jalan pintas kesehatan” bisa menjadi bagian dari siklus yang tidak efektif—semakin berusaha, semakin capek.
Pada akhirnya, uang dan konsistensi yang dikeluarkan konsumen sering kali lebih banyak ditukar dengan reda sementara dari kecemasan, bukan perbaikan nyata pada indikator kesehatan. Yang dijual adalah kepastian dalam kelelahan: “setidaknya aku sudah mencoba.”
Karena itulah, kunyit dengan mudah menyusup ke berbagai skenario konsumsi modern.
Kini, kunyit bisa ditemukan di ranah teh dan kopi. Beberapa merek minuman teh seperti Guming dan Baozhu Cheese pernah meluncurkan minuman kunyit bertema superfood. Merek lain seperti Youledao, So Acai, dan Weiguoqing juga ikut masuk. Youledao misalnya menonjolkan klaim “bukan dari konsentrat,” lalu merilis produk “one-shot” kunyit 60ml. Maisheng, di bawah payung Mengniu, meluncurkan suplemen cair kunyit yang menekankan portabilitas dan konsentrasi tinggi.
Namun, yang benar-benar menempatkan minuman kunyit di puncak tren tetaplah jaringan ritel besar seperti Sam’s, Hema, dan Pupu—karena mereka punya jalur distribusi online dan offline yang kuat.
Di ritel semacam itu, harga per botol berkisar 7–17 RMB. Tidak murah, dan dibanding air lemon biasa, rasio harga-manfaatnya bisa dipertanyakan. Namun juga tidak terlalu mahal—pada skala satu botol, banyak pekerja yang mengejar kesehatan tidak merasa itu beban besar.
Harga yang masih “terjangkau” ini menurunkan beban keputusan membeli.
Tetapi jika dihitung per gram atau per volume, minuman kunyit sebenarnya cukup mahal.
Ambil contoh produk “one-shot” Youledao: paket 6 botol dijual 63 RMB, rata-rata 10,5 RMB per botol. Namun satu botol hanya 60ml. Jika dikonversi ke ukuran minuman umum sekitar 300ml, harga ekuivalennya menjadi 52,5 RMB.
Ketika kesehatan menjadi kecemasan yang paling mudah dijual, premi mahal yang dibayar demi “kepastian” pun berubah menjadi salah satu bentuk “pajak kesehatan” yang sangat khas hari ini.
03 Dari “makanan ala Barat” ke lidah Timur: siklus saling mengagumi dan saling penasaran
Naiknya kunyit sebenarnya sudah terlihat sejak 2016.
Sebagai rempah yang banyak digunakan di Timur, kunyit adalah bagian dari resep berbagai masakan—kari India misalnya menjadikan kunyit sebagai salah satu basis. Karena menyukai iklim hangat dan lembap, lima kawasan produksi utama dunia juga berada di Asia. India sering disebut sebagai produsen terbesar, menyumbang sekitar 80% produksi global. China pun memproduksi kunyit dan kurkumin dalam jumlah besar, terutama dari Yunnan, Guangxi, Sichuan, dan Guizhou.
Sekitar 2016, tren kunyit di Eropa dan Amerika makin menguat, bahkan sempat menjadi “primadona” baru dalam dunia wellness.
Sebuah “Laporan Tren Makanan 2016” menyebutkan bahwa dalam lima tahun sebelumnya, pencarian Google untuk “turmeric/kunyit” meningkat drastis (sering disebut sekitar 300%). Di tahun yang sama, Starbucks meluncurkan turmeric latte. Minuman berbahan kunyit pun mulai muncul di Inggris, Amerika Serikat, Australia, dan negara lainnya.
Pada 2018, kunyit masuk daftar bahan pangan yang paling disorot secara global, menandakan potensinya sebagai “bahan viral.” Selebriti dan influencer luar negeri ramai memamerkan makanan dan minuman berbahan kunyit. Sejak saat itu, kunyit bukan lagi sekadar rempah Timur—ia sukses masuk ke narasi kelas menengah Barat sebagai simbol gaya hidup sehat.
Masyarakat Barat seakan memiliki imajinasi yang cenderung “mengagungkan” makanan Timur. Di sisi lain, orang Timur kerap ikut terseret oleh tren konsumsi Barat—melalui proses mengejar dan meniru—tanpa disadari.
Dunia Barat sudah beberapa kali menciptakan “mitos” tentang bahan pangan dari Timur.
Daun kelor (moringa), yang berasal dari wilayah seperti India utara dan Afrika timur, dipaketkan di Barat sebagai superfood bernilai tinggi—karena kandungan protein nabati, antioksidan, serta klaim dapat membantu menurunkan gula darah dan kolesterol. Sekitar 2010, kelor sudah muncul di rak supermarket Barat, dan kini lebih sering dijadikan suplemen dalam bentuk kapsul.
Goji berry (gouqi/枸杞), bahan tradisional Tiongkok, sempat masuk narasi superfood di Barat sekitar 2012 lewat media besar. Sejak itu, goji menjadi bahan favorit para penggiat wellness. Di Instagram dan Twitter bahkan ada tag khusus seperti #Gojiberries: ada yang menaburkannya di salad dan kacang-kacangan, ada juga yang membuatnya menjadi kukis atau yogurt. Beberapa tahun lalu, “merendam goji di termos” kembali menjadi ritual wellness anak muda di Tiongkok—sebuah gaung yang pulang kampung.
Jika ditarik garisnya, minuman kunyit tidak jauh berbeda dari superfood lain yang dimitoskan. Ketika sebuah bahan lebih dulu “meledak” di dunia Barat, popularitasnya sering mengalir kembali ke Timur—padahal bahan itu sudah hadir selama ribuan tahun dan sangat umum.
Banyak “pangan Timur yang diekspor lalu diimpor kembali” mengikuti pola serupa: dimulai dari legitimasi “food as medicine” lewat teks kuno, lalu mendapat lapisan glamor dari tren kesehatan Barat, kemudian didorong oleh pemasaran berbasis kecemasan—dan akhirnya disodorkan kepada konsumen yang terburu-buru. Terburu-buru sampai lebih memilih percaya pada opsi kesehatan yang disederhanakan dan bisa “dibeli saja,” rela membayar mahal, ketimbang bangun dari mitos kesehatan yang dibangun brand.
Pada akhirnya, yang mendorong konsumsi bukan hanya klaim manfaatnya, melainkan imajinasi tentang hidup sehat.
Minuman kunyit bukan superfood pertama yang dimitoskan, dan jelas bukan yang terakhir. Di bawah sorotan modal dan kemasan konsep kesehatan, pertanyaan yang tersisa hanya satu: superfood “ajaib” berikutnya akan datang dari mana?
Judul: Manchester United Rekrut Cunha seharga £62,5 Juta! Tiga Pemain Tinggalkan Old Trafford, Rekonstruksi Musim Panas Dimulai
Seiring berakhirnya musim Liga Inggris, Manchester United resmi memulai tahap rekonstruksi musim panas. Klub telah mengumumkan kepergian tiga pemain veteran—Christian Eriksen, Victor Lindelof, dan Jonny Evans—serta memastikan perekrutan pertama di era pelatih baru Ruben Amorim: striker Wolves Matheus Cunha. Cunha akan mengenakan nomor 10 dan menandatangani kontrak berdurasi lima tahun dengan klausul pelepasan senilai £62,5 juta. Fokus berikutnya adalah memperkuat lini depan, dengan Liam Delap dari Ipswich menjadi target utama.
Sepak Bola Asia Bergeser! Malaysia Bantai Vietnam 4-0 dengan 9 Pemain Naturalisasi, Nilai Skuad Lampaui Timnas Tiongkok €4 Juta
Malaysia mengejutkan dunia sepak bola Asia dengan kemenangan 4-0 atas Vietnam di kualifikasi Piala Asia. Dalam laga ini, 9 dari 11 starter Malaysia adalah pemain naturalisasi. Dengan dua kemenangan di Grup F, Malaysia memuncaki klasemen, sementara Vietnam—yang dulu mendominasi Asia Tenggara—terancam gagal lolos. Kini, nilai skuad Malaysia mencapai €15,38 juta—€4 juta lebih tinggi dari Timnas Tiongkok.
Krisis Talenta Brasil! Mantan Raja Dunia U20 Tersingkir Memalukan: 3 Laga Tanpa Kemenangan, Hanya Raup 1 Poin Setelah 5 Kali Jadi Juara
Pada 5 Oktober, ajang Piala Dunia U20 kembali menghadirkan kejutan besar. Tim muda Brasil U20 harus ...
Harga Kacau, Banyak Produk Baru Ditunda — Pakar Sebut Kenaikan Harga Memori Bisa Bertahan Sepuluh Tahun!
Fast Technology melaporkan pada 16 November bahwa harga memori dan hard disk melonjak tajam dalam be...
Perusahaan perangkat keras AI yang melakukan listing melalui skema reverse takeover ini berencana melantai di Hong Kong, dan nilai pasarnya telah naik 69% sepanjang tahun ini.
Lingyi iTECH Ajukan IPO di Hong Kong: Perusahaan Perangkat Keras AI yang Masuk Bursa Lewat Reverse T...
Kontroversi Sun Jihai Mengemuka? Pemain Muda di Jepang Sebut Sepak Bola Tiongkok Mulai Tertinggal Usai Usia 13 Tahun karena Tiga Hambatan Utama
Pada 8 Desember waktu Beijing, pesepak bola muda asal Tiongkok yang kini berkarier di Jepang, Cheng ...
Putri Beckham 14 Tahun Bawa Tas £3,100 Bikin Kontroversi, Victoria Tampil Ramping di Usia 51
Pada 27 Desember, juara renang Olimpiade Adam Peaty menikahi pacar lamanya, Holly Ramsay, putri koki...
Tiga Gol dalam Tiga Laga AFCON! Winger Real Madrid Brahim Diaz Berteriak Selebrasi, Bawa Maroko ke Rekor 49 Tahun
Di laga ketiga fase grup Piala Afrika, tuan rumah Maroko mengalahkan Zambia 3-0, finis pertama denga...
Tunggal Putri China Terpuruk: 5 Pemain, Hanya 1 Lolos ke Babak Utama
Turnamen WTT Contender Muscat pada 21 Januari membawa hasil pahit bagi sektor tunggal putri China. D...
Trump Kembali ke Davos Setelah 6 Tahun: Bagaimana Geopolitik Akan Terguncang?
Pada 21 Januari, pertemuan tahunan Forum Ekonomi Dunia (Davos) memasuki hari ketiga. Mantan Presiden...
Pepatah mengatakan, “Tak ada asap tanpa api.”
Baru-baru ini, para penggemar menyadari bahwa Zheng Qinwen berhenti mengikuti pelatihnya Pere Riba d...
Pets Tseng Melejit di “Sisters Who Make Waves 7”, Cover Lagu “Lonely Heart” Picu Gelombang Nostalgia
(Taipei, 17) Penyanyi dan aktris Taiwan Pets Tseng kembali meraih popularitas setelah tampil menonjo...