2026年9月10日

Tak Disangka! “Pemenang Tahun Ini” di Liga Super Tiongkok Ternyata Dia—Dari “Flop” Jadi Bintang dalam 3 Bulan

Baru-baru ini, situs Transfermarkt (Jerman) memperbarui data nilai pasar pemain Liga Super Tiongkok ...

Baru-baru ini, situs Transfermarkt (Jerman) memperbarui data nilai pasar pemain Liga Super Tiongkok (CSL). Salah satu sorotan terbesar datang dari Shanghai Port: gelandang Brasil, Vitão, mengalami lonjakan nilai yang sangat tajam—naik 1,5 juta euro dari 2,0 juta euro menjadi 3,5 juta euro, sekaligus menjadi pemain dengan kenaikan nilai tertinggi di CSL tahun ini. Yang membuat kisah ini makin menarik, Vitão sempat menghabiskan hampir separuh musim berada dalam pusaran kritik, namun justru mampu menutup musim dengan “kebangkitan” yang memukau dan tak banyak orang duga.

Sejak awal, Shanghai Port sebenarnya sudah menunjukkan keyakinan besar pada Vitão. Pada awal tahun, klub menebusnya dengan biaya transfer 300 ribu euro dan memberinya kontrak dua tahun, sebuah sinyal bahwa mereka ingin membangun kerja sama jangka panjang, bukan sekadar taruhan sesaat. Dalam 15 laga pertamanya bersama Shanghai Port, Vitão mencatat 2 gol dan 4 assist. Angka itu jelas tidak buruk, tetapi bayang-bayang Oscar yang begitu ikonik membuat standar publik melonjak tinggi—hasilnya, kontribusi Vitão dianggap “cukup”, namun belum benar-benar meyakinkan.

Lalu, periode sulit pun datang. Dalam 9 pertandingan berikutnya, Vitão hanya mampu menyumbang 1 assist. Cap “pemain gagal” mulai menempel, dan ia sempat dinilai minim kontribusi selain sesekali melepaskan tembakan jarak jauh. Saat bursa transfer musim panas, Shanghai Port mendatangkan Melendo—sesama pemain tengah—serta mencoret Gustavo dari pendaftaran. Langkah ini bahkan sempat dinilai sebagai keputusan yang keliru, karena pada saat itu banyak yang merasa Vitão justru lebih pantas “dikorbankan”.

Namun titik balik muncul pada pertengahan Agustus. Dalam laga melawan Henan, Vitão tampil gemilang dengan catatan 1 gol dan 1 assist, yang dianggap sebagai performa terbaiknya sejak bergabung. Tak lama kemudian, Shanghai Port secara mengejutkan ditahan imbang Tianjin Jinmen Tiger di kandang, dan Vitão ditarik keluar lebih awal pada menit ke-58. Sejak itu, lini tengah Shanghai Port langsung kehilangan kontrol—dan di momen inilah banyak orang mulai sadar: gelandang Brasil yang terlihat “biasa saja” ini ternyata punya nilai yang jauh lebih besar bagi struktur permainan tim.

Faktanya memang demikian. Sepanjang musim, Vitão menjadi pemain Shanghai Port dengan jumlah peluang tercipta (chance created) terbanyak, sekaligus menjadi poros utama distribusi bola di fase membangun serangan. Dengan Melendo yang bertugas melakukan tusukan ke depan dan Jussa yang fokus pada pekerjaan bertahan, Vitão sejak paruh musim kedua bisa memainkan peran sebagai “penghubung” yang tenang—sebuah pusat sirkulasi bola. Ia tak lagi dipaksa terlalu sering melebar atau masuk terlalu dalam ke area serang untuk memikul tugas ofensif, sehingga keunggulannya dalam kontrol tempo dan umpan pendek-panjang justru keluar dengan maksimal.

Dalam konteks ini, peran Vitão di Shanghai Port mirip tipe pengatur permainan yang membuat serangan sebuah tim menjadi lebih jelas dan rapi. Ketika sebuah tim memiliki gelandang seperti ini, pola menyerang terasa lebih terarah, keputusan antarlini lebih sederhana, dan ritme permainan menjadi lebih stabil—itulah kontribusi nyata Vitão yang pelan-pelan terlihat oleh publik.

Karena itulah, sejak Agustus hingga musim CSL berakhir—kurang dari tiga bulan—reputasi Vitão terus menanjak. Pengakuan dari suporter pun datang bertahap, seiring performanya yang semakin konsisten dan terasa “krusial”. Pada akhir musim, Vitão masuk Tim Terbaik Musim Ini sebagai gelandang dari tim juara, dan nilai pasarnya pun melonjak 1,5 juta euro, tertinggi di liga.

Kini, jika ditarik garis besar, kebangkitan ini bukan sekadar kebetulan. Tanpa penyesuaian taktik, tanpa kedatangan Melendo, dan tanpa kepercayaan Muscat, Vitão kemungkinan sulit menulis cerita balik arah seperti sekarang. Dari seorang pemain asing yang sempat dianggap “biasa” bahkan diragukan, ia berubah menjadi gelandang bintang di liga—dan kisahnya kembali menegaskan satu hal penting: menempatkan pemain pada peran yang tepat, dengan sistem yang tepat, bisa mengubah segalanya.

接著讀