2026年9月10日

Luar Biasa! Liu Qiangdong Amankan Kerja Sama Besar dengan Li Auto, Kolaborasi dengan Produsen Mobil Terus Mengalir

Tidak heran jika nama Richard Liu kembali jadi sorotan—kali ini lewat kerja sama besar dengan Li Aut...

Tidak heran jika nama Richard Liu kembali jadi sorotan—kali ini lewat kerja sama besar dengan Li Auto.

Pada 24 Desember, kabar bahwa toko resmi Li Auto akan hadir secara eksklusif di platform JD.com langsung memancing perhatian warganet. Maklum, selama ini Li Auto dikenal mengandalkan kanal penjualan langsung lewat gerai resmi dan aplikasi mereka sendiri, tanpa benar-benar “mengikat diri” dengan platform e-commerce pihak ketiga. Lalu muncul pertanyaan yang wajar: JD tidak membuat mobil—jadi, mengapa justru JD yang berhasil mendapatkan kemitraan ini?

Menurut saya, ini bukan sekadar kerja sama “platform jual mobil”.

Poin utamanya jauh lebih konkret: JD ingin membangun ekosistem layanan siklus hidup penuh bagi pemilik Li Auto—mulai dari membeli, melengkapi aksesori, perawatan, penggunaan harian, hingga tukar tambah. Artinya, ke depan konsumen bisa memesan Li Auto langsung di JD tanpa perlu repot datang ke toko offline.

Bukan cuma itu, layanan setelah pembelian juga ikut “dipaketkan”. Salah satu yang disorot adalah layanan pemasangan charger rumah dengan konsep pengiriman sekaligus instalasi, sehingga pengguna tidak perlu pusing mengatur jadwal teknisi sendiri. Ada juga opsi program tukar tambah—misalnya, kursi keselamatan anak lama dapat ditukar dan nilainya langsung dipakai sebagai potongan untuk aksesori original Li Auto. Singkatnya, JD mendorong pengalaman “serba beres dalam satu tempat”.

Bagi banyak konsumen, terutama yang mengutamakan praktis dan efisiensi, model layanan satu pintu seperti ini jelas menggoda.

Di sisi lain, kekuatan JD memang terasa “klik” untuk strategi seperti ini. Jaringan pergudangan dan logistiknya disebut sudah mencakup lebih dari 3.000 gudang dan menjangkau banyak kota, yang membuat layanan seperti bantuan 24 jam lebih masuk akal untuk dijalankan secara luas. Selain itu, JD juga punya jaringan toko layanan otomotif yang besar, melayani pengguna dalam skala jutaan, serta menyediakan perawatan yang lebih terstandarisasi—mulai dari pemeriksaan kendaraan hingga laporan inspeksi yang bisa diakses kapan saja. Kabarnya, JD juga menyiapkan rencana ekspansi layanan khusus kendaraan energi baru di ratusan titik.

Dengan kata lain, JD memang bukan produsen mobil, tetapi mereka bisa membuat proses membeli—dan merawat—mobil terasa semudah membeli perangkat elektronik. Lewat keunggulan rantai pasok, gudang, pengiriman, dan jaringan layanan, JD memberi pabrikan dukungan operasional yang sangat dibutuhkan.

Dan itulah alasan kerja sama semacam ini begitu menarik.

Perlu dicatat juga, Li Auto bukan mitra otomotif pertama bagi JD. Sepanjang tahun ini, beberapa nama besar seperti BYD, GAC, XPeng, Changan, hingga raksasa baterai CATL juga disebut sudah bekerja sama dengan JD. Bahkan, ada data yang menyebut penjualan kategori kendaraan energi baru di JD pada 2025 tumbuh hingga 120% secara tahunan—angka yang menunjukkan ambisi JD di sektor ini bukan sekadar “coba-coba”.

Namun, ekspansi JD di dunia otomotif juga tidak selalu mulus.

Kontroversi terbesar sebelumnya adalah proyek kolaborasi dengan GAC dan CATL pada model Aion UT Super, yang pada hari pertama pengiriman dilaporkan memicu gelombang pembatalan besar-besaran. Keluhan yang muncul berkisar pada ketidaksesuaian antara promosi dan realitas, skema sewa baterai yang tampak menarik namun menimbulkan tanda tanya saat ditelusuri, serta isu pembatasan wilayah untuk faktur.

Gelombang pembatalan itu membuat sebagian orang meragukan konsistensi layanan otomotif JD dari ujung ke ujung. Jika produk kolaborasi saja bisa memunculkan banyak masalah, apakah ini menandakan ada celah dalam koordinasi layanan? Kekhawatiran paling besar tentu soal harga yang tidak seragam dan kualitas purnajual yang tidak stabil.

Meski begitu, ada pula yang menilai JD tetap layak dipercaya. Reputasi layanan JD selama bertahun-tahun dianggap menjadi modal penting. Ditambah lagi, kerja sama dengan Li Auto berpotensi meningkatkan efisiensi, dan pendekatan layanan siklus hidup penuh dinilai bisa lebih fleksibel dibanding pola tradisional dealer 4S—selama eksekusinya benar-benar rapi.

Pada akhirnya, sikap paling adil saat ini adalah: kita lihat dulu implementasinya di lapangan.

Jika JD benar-benar mampu merapikan pemasangan charger, perawatan, dan layanan purnajual secara konsisten dalam skala besar, maka ini akan menjadi kabar baik bagi semua pihak—JD, Li Auto, dan tentu saja konsumen.

Menutup semuanya, langkah Richard Liu ini terlihat sebagai strategi “win-win” yang cerdas: JD berperan sebagai pendukung paling kuat lewat infrastruktur layanan, sementara pabrikan mendapat akses ke jaringan logistik dan operasional yang solid. Apakah janji layanan ini akan benar-benar menuntaskan pain point pengguna? Jawabannya akan ditentukan oleh eksekusi setelah kerja sama ini berjalan.

接著讀

Indonesia Teken Kontrak $10 Miliar untuk 48 Jet Siluman KAAN dari Turki, J-10C Tiongkok Tersingkir

Pada 11 Juni di Pameran Pertahanan Internasional Jakarta, Indonesia secara resmi menandatangani perjanjian dengan Turki untuk membeli 48 jet tempur siluman generasi kelima KAAN. Kontrak senilai $10 miliar ini merupakan ekspor internasional pertama untuk KAAN dan menjadi kesepakatan pertahanan terbesar dalam sejarah Turki. Ini juga menandai tersingkirnya jet J-10C buatan Tiongkok dari pertimbangan.

455 天前