2026年9月10日

Profesor Wharton: Sekalipun Gelembung AI Pecah, Dunia Kerja Tak Akan Kembali Seperti Dulu

Sepanjang tahun 2025, perdebatan soal AI meluas dari pasar modal hingga ke ruang rapat para pemimpin...

Sepanjang tahun 2025, perdebatan soal AI meluas dari pasar modal hingga ke ruang rapat para pemimpin perusahaan.

Apakah ini hanya gelembung? Masih bisakah menghasilkan uang? Haruskah AI diterapkan secara menyeluruh, atau justru ditahan?

Di tengah hiruk pikuk itu, podcast Factually! with Adam Conover merilis sebuah episode diskusi bersama Ethan Mollick, profesor dari Wharton School—seseorang yang tidak hanya meneliti AI dari kejauhan, tetapi benar-benar menggunakannya selama satu tahun penuh di ruang kelas.

Selama ini, Mollick dikenal aktif membagikan pengalaman praktis penggunaan AI. Fokus risetnya jelas: bagaimana AI membentuk ulang cara kita bekerja, belajar, dan membangun bisnis. Ia kerap disebut sebagai perwakilan utama dari kalangan “AI yang benar-benar dipraktikkan di lapangan.”

Pandangan Mollick sangat tegas.

Berhentilah terjebak dalam dikotomi “AI menggantikan segalanya” versus “AI tidak berguna sama sekali.” Kenyataannya ada di tengah: AI tidak akan mengambil alih semua hal, tetapi nilainya juga jauh dari sekadar hype kosong.

Artikel ini membahas inti pemikirannya dalam diskusi tersebut:

Sekalipun gelembung AI pecah, dunia kerja tidak akan kembali seperti semula.

Yang berubah bukan sekadar apakah sebuah posisi hilang, melainkan bagaimana pekerjaan itu dilakukan.

Bagian 1 | AI Bukan Sekadar Alat, Ia Adalah Rekan Kerja

Bagi banyak orang, pengalaman pertama menggunakan AI dimulai dari alat percakapan seperti ChatGPT, DeepSeek, atau Doubao.

Masukkan satu pertanyaan, dan Anda langsung mendapatkan jawaban ratusan kata. Menulis email, memperbaiki CV, menerjemahkan laporan—semuanya bisa dibantu dengan cepat.

Sebagian orang terpukau selama beberapa menit. Sebagian lain menganggapnya biasa saja: “Bukankah ini hanya mesin pencari yang lebih pintar?”

Mollick melihatnya dengan cara berbeda. Menurutnya, ini bukan sekadar peningkatan alat, melainkan kehadiran satu ‘orang’ tambahan dalam tim kerja.

Di kelas Wharton, ia menggunakan AI secara konsisten selama setahun: mengajar, menilai tugas, menyusun soal, menjawab pertanyaan mahasiswa, hingga menulis materi kuliah. Kesimpulannya lugas:

AI kini tersedia bagi semua orang. Mau menggunakannya atau tidak adalah pilihan Anda. Namun jika Anda tidak menggunakannya, AI tetap akan membantu orang lain.

Sebuah “otak” yang selalu siap, tak pernah lelah, kini berada di hadapan seluruh tenaga kerja.

Mollick memberi contoh dari pengalamannya sendiri. Saat menulis makalah akademik, ia meminta GPT meninjau alur argumennya—dan AI justru menemukan kesalahan logika yang luput dari perhatiannya. Mahasiswanya menggunakan AI untuk membuat draf awal esai dan analisis kasus, lalu lebih cepat menyadari kelemahan berpikir mereka sendiri karena sudah ada versi awal untuk dievaluasi.

Bukan karena AI “berpikir” seperti manusia.

Melainkan karena AI mampu menerima pertanyaan yang masih kabur, lalu merapikannya menjadi kerangka awal yang bisa dikerjakan.

Dulu, AI terasa seperti perangkat lunak pendukung di desktop.

Kini, AI lebih mirip rekan kerja di grup chat—selalu online, siap menghasilkan versi pertama.

Sudah banyak yang memanfaatkannya untuk:

  • Menyusun ringkasan riset
  • Menghasilkan draf strategi bisnis
  • Bahkan membangun versi awal sebuah produk baru

AI bukan datang untuk mengambil alih pekerjaan Anda, melainkan menurunkan hambatan untuk mulai bekerja.

Saat sebagian orang masih menunggu dan mengamati, yang lain sudah menggunakan AI untuk benar-benar menghasilkan output.

Bagian 2 | AI Tidak Menggantikan Anda, tapi Menggerogoti Pekerjaan Anda Setahap Demi Setahap

Kekhawatiran yang paling sering muncul tetap sama: “Apakah AI akan merebut pekerjaan saya?”

Jawaban Mollick: kekhawatiran itu salah sasaran.

AI tidak perlu menggantikan satu jabatan secara utuh untuk mengubah pasar tenaga kerja.

Yang terjadi adalah AI mengambil tugas-tugas spesifik dalam sebuah peran, satu per satu.

Ambil contoh dokter. Profesi dokter tidak akan hilang secara tiba-tiba. Namun banyak tugas di dalamnya—menafsirkan hasil tes, menulis ringkasan medis, menandai indikator abnormal—sudah bisa dilakukan AI dengan cepat dan konsisten.

Menurut Mollick, AI tidak melihat jabatan, melainkan tugas.

Sebagian besar pekerjaan modern merupakan kumpulan tugas: komunikasi, penulisan laporan, pengumpulan informasi, penyuntingan bahasa, peringkasan data, pembuatan presentasi, penyusunan proposal.

Kini, banyak dari tugas tersebut dapat ditangani AI secara mandiri.

Dulu, pembagian kerja yang stabil membantu orang membangun identitas profesional.

Sekarang, posisi menjadi semakin cair. Yang lebih penting adalah kombinasi kemampuan—bagaimana Anda menyatukan keahlian dan beradaptasi ketika komposisi tugas berubah.

Semakin terlambat Anda menyadarinya, semakin sulit mengejar perubahan ini.

Bagian 3 | Merasa Sudah Pakai AI, Padahal Masih Dangkal

Mungkin Anda merasa sudah cukup mengikuti perkembangan AI.

Email dibantu AI, riset diringkas AI, bagian presentasi yang sulit ditulis juga dibantu AI.

Semua itu memang meningkatkan efisiensi.

Namun Mollick melihat bahwa banyak orang berhenti di sana. Mereka memperlakukan AI sebagai alat darurat: menambal konten, membetulkan salah ketik, memperhalus kalimat.

Mereka yang benar-benar mendapat nilai besar justru memasukkan AI ke dalam seluruh alur kerja.

Beberapa contoh yang ia sampaikan:

  • Eksperimen Bank Dunia di Nigeria menunjukkan bahwa AI yang mendampingi guru dalam bimbingan belajar meningkatkan hasil siswa secara signifikan—setara dengan tambahan satu tahun pembelajaran.
  • Riset menemukan bahwa programmer yang memakai alat AI mengalami peningkatan volume penggabungan kode hingga 39%, tanpa kenaikan tingkat kesalahan.
  • Di Wharton, mahasiswa dan AI masing-masing menghasilkan 200 ide startup; dari 40 ide terbaik pilihan juri eksternal, 35 berasal dari AI.

Ini bukan sekadar “AI membuat saya lebih cepat”.

Ini adalah “AI ikut terlibat di setiap tahap pekerjaan”.

Menariknya, ada pola yang berlawanan intuisi: mereka yang tampak “paling paham AI” justru sering membatasinya pada pekerjaan kecil. Sebaliknya, mereka yang serius bertanya “apa yang bisa AI tanggung untuk saya?” cenderung merombak proses kerja dan mendapatkan dampak yang jauh lebih besar.

Perbedaannya jelas:

Penggunaan dangkal: AI membantu mengisi konten.
Penggunaan mendalam: AI menghasilkan draf awal.

Dengan adanya draf awal, Anda tidak lagi memulai dari nol. Anda langsung masuk ke tahap penyempurnaan, penilaian, dan pengambilan keputusan.

Bisa memakai AI hanyalah awal. Memakainya secara mendalamlah yang benar-benar menciptakan jarak.

Bagian 4 | Gelembung Bisa Pecah, Tapi Perubahan Tidak Akan Mundur

Banyak orang menunggu satu sinyal: kapan gelembung AI akan pecah?

Jawaban Mollick sederhana:

Gelembung mungkin pecah, tetapi AI tidak akan menghilang.

Alasannya jelas. Sudah ada sekitar satu miliar pengguna. Beberapa perusahaan, termasuk dari Tiongkok dan Prancis, merilis model secara gratis. Raksasa seperti Google dan Microsoft tidak akan berhenti hanya karena pasar saham bergejolak.

Bahkan jika valuasi perusahaan tertentu runtuh, infrastruktur yang sudah dibangun—pusat data, model terbuka, kebiasaan kerja baru—tidak serta-merta lenyap. Seperti gelembung internet akhir 1990-an: pasar runtuh, tetapi jaringan fiber tetap ada dan akhirnya digunakan.

Yang paling penting, cara kerja sudah berubah.

Begitu orang merasakan lonjakan produktivitas, sulit untuk kembali ke ritme lama.

Namun kekhawatiran terbesar Mollick bukan soal produktivitas individu, melainkan rusaknya sistem pembelajaran jangka panjang.

Ia menyebutnya risiko runtuhnya sistem magang.

Selama ribuan tahun, manusia belajar melalui magang: junior bekerja, senior mengoreksi, kemampuan tumbuh lewat praktik. Dunia kerja kantoran pun sama.

Tetapi musim panas lalu, pola itu mulai bergeser.

Manajer menengah enggan melatih intern karena AI bekerja lebih cepat.
Para intern pun menyerahkan tugas ke AI karena AI memang lebih unggul.

Akhirnya, AI berinteraksi dengan AI, sementara generasi muda kehilangan kesempatan belajar dari praktik nyata.

Sekali siklus ini menjadi normal, sangat sulit kembali ke era pembinaan langsung.

Mollick berulang kali menegaskan: sikap paling berbahaya bukanlah takut pada AI, melainkan berpura-pura bahwa AI akan menghilang.

Yang perlu dilakukan bukan menunggu AI lenyap, tetapi secara sadar mengurangi dampak negatif dan memperbesar manfaatnya.

Karena ketika Anda masih menunggu gelembung pecah, orang lain sudah menggunakan AI untuk membentuk masa depan.

Akankah gelembung pecah? Mungkin.

Akankah dunia kerja kembali seperti dulu? Tidak.

Yang terpenting sekarang adalah keputusan Anda sendiri:

Di dunia yang sudah berubah ini, Anda ingin berdiri di sisi yang mana?

接著讀