2026年9月10日

Microsoft “Memblokir Aktivator”? Faktanya Lebih Rumit

Kembali ke era 1990-an, ketika komputer pribadi baru muncul, pasar PC memiliki dua masalah besar: PC...

Kembali ke era 1990-an, ketika komputer pribadi baru muncul, pasar PC memiliki dua masalah besar:

  1. PC bermerek mahal—bahkan model high-end bisa mencapai puluhan juta rupiah, jauh dari kemampuan konsumen biasa.
  2. Windows asli mahal—sebuah kotak Windows 98 bisa dijual hampir 2.000 yuan, sulit dijangkau kebanyakan orang.

Muncul aktivator: alat yang membantu pengguna yang “tech-savvy” menginstal Windows dari citra resmi dan mengaktifkannya secara otomatis. Alat ini berada di zona abu-abu, tapi banyak digunakan.

Baru-baru ini, pengguna mengeluh bahwa antivirus bawaan Microsoft, Defender, menandai aktivator klasik MAS (Microsoft Activation Scripts). Sekilas, terlihat seperti Microsoft menindak aktivator—tapi kenyataannya lebih kompleks:

  1. MAS sendiri bukan malware—hanya alat batch, tidak mengandung kode aktivasi bajakan, dan kode sumbernya publik.
  2. Defender tidak menandai MAS resmi—uji coba di beberapa forum dan media menunjukkan, menjalankan MAS asli di sistem yang sama tidak memicu peringatan.

Lalu kenapa ada kebingungan? MAS bekerja dengan menghubungkan ke server aktivasi pihak ketiga untuk meniru proses aktivasi perusahaan atau OEM, sehingga sistem bajakan mengira telah mendapatkan lisensi resmi. Masalah muncul ketika beberapa server pihak ketiga telah diubah dan mengandung malware atau trojan—ini yang memicu Defender.

Dengan kata lain, Microsoft tidak salah. Mereka melindungi pengguna dari server berbahaya, bukan aktivator itu sendiri. Pengguna yang mengunduh versi yang diubah menanggung risiko sendiri. Bahkan, ini menunjukkan “kelembutan” Microsoft: pengguna MAS asli tidak terkena masalah.

Kesimpulannya jelas: menggunakan alat zona abu-abu memiliki risiko, dan Defender hanya menjaga PC dari server berbahaya.

接著讀

Pengadilan Banding AS Izinkan Tarif Era Trump Berlaku Sementara Selama Proses Hukum

Pada 10 Juni, Pengadilan Banding Federal AS memutuskan untuk menangguhkan perintah larangan dari Pengadilan Perdagangan Internasional (CIT), sehingga tarif era Trump tetap berlaku selama proses banding. Kasus ini dipandang sebagai ujian penting atas kewenangan presiden dalam menetapkan kebijakan perdagangan, dengan sidang percepatan dijadwalkan pada 31 Juli yang berpotensi berdampak besar terhadap kebijakan perdagangan AS-Tiongkok dan biaya domestik.

456 天前